Miskin di Hadapan Tuhan

(Menelaah Lukas 18:9-14)

Saya sering mendengar orang-orang bertanya: “Bagaimana doa dikabulkan oleh Tuhan? - atau, doa seperti apa yang mujarab? – atau, bagaimana berdoa supaya dikabulkan oleh Tuhan? dan macam-macam pertanyaan lain yang isinya kurang lebih sama, yaitu agar doa dikabulkan Tuhan Mungkin kita pun ada yang bertanya seperti itu. Saya tidak tahu jawaban seperti apa yang diberikan kepada mereka dan Anda. Namun saya yakin pasti ada beragam jawaban.

Bacaan dari Kitab Putera Sirakh 35:12-14, 16-18 tidak membicarakan doa apa yang dikabulkan Tuhan, tetapi sikap berdoa bagaimana yang berkenan kepada Tuhan. Ini perlu kita pahami dengan baik dulu. Yang dibicarakan Sirakh bukan doanya, tetapi siapa atau bagaimana mendoakannya. Yesus bin Sirakh mengatakan: “Doa orang yang terjepit didengarkanNya. Jeritan yatim piatu tidak diabaikanNya, ataupun jeritan janda yang mencurahkan permohonannya.” Juga dikatakan: “Doa orang miskin menembusi awan.” Jadi jelas bahwa orang-orang yang dikabulkan doanya adalah orang yang terjepit, yatim piatu, janda, dan orang miskin. Tidak dikatakan Romo, Frater atau Suster. Maka jangan minta doa dari Romo, Frater atau Suster, tetapi mintalah doa kepada orang yang terjepit, yatim piatu, janda, dan orang miskin. Kalau di sinetron-sinetron religi dikatakan “doa anak yatim didengarkan oleh Tuhan” ini cocok dengan Kitab Suci.

Berangkat dari situ, saya lalu mencoba merenung lebih dalam. Di Kitab Suci dikatakan Tuhan adalah Hakim yang tidak memihak. Ia tidak memihak dalam perkara orang miskin tetapi mengapa hanya doa orang tertentu yang didengarkanNya? Ternyata jawabannya juga ada di dalam Kitab Putera Sirakh tersebut.  “Tuhan berkenan kepada siapa yang dengan sebulat hati berbakti kepadaNya, dan doanya naik sampai ke awan, yang tidak berhenti hingga Yang Mahatinggi memandangnya. Menurut Sirakh, sikap seperti ini sering dijumpai dalam diri orang yang terjepit, yatim piatu, janda, dan orang miskin.

Sikap yang sama juga kita temukan di dalam Injil Lukas. Namun sedikit berbeda dari Kitab Putera Sirakh, Yesus langsung memberikan contoh situasi yang konkrit. Ada dua orang berdoa kepada Tuhan, yang satu orang Farisi, dan yang lain pemungut cukai. Orang Farisi ini saleh dan miskin, tetapi pemungut cukai itu pendosa dan kaya. Harusnya Yesus membenarkan orang Farisi dan mengutuk pemungut cukai. Namun yang terjadi adalah sebaliknya. Yesus bukan membenarkan orang Farisi tetapi pemungut cukai. Ini aneh! Dalam Kitab Putera Sirakh dikatakan bahwa doa orang miskin didengarkan Tuhan. Orang Farisi itu miskin tapi kok doanya tidak berkenan kepada Tuhan? Dalam ayat terakhir bacaan dari Injil Lukas ini Tuhan Yesus memberikan jawabannya: “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.” Persis di sinilah letak kesalahan orang Farisi.

 

Dalam bacaan Injil Lukas ini, Tuhan Yesus mengajar kita bahwa Tuhan melihat hati manusia. Tuhan tidak melihat apakah saya miskin, atau saya kaya, atau janda, atau yatim, atau saleh, atau jahat, tetapi Dia melihat hati saya. Apakah saya merendahkan atau meninggikan diri di hadapanNya? Orang bisa saja miskin, tetapi hatinya sombong. Sering menjelekkan orang lain, menghina, memfitnah, dan menghakimi orang lain. Namun orang juga bisa kaya, tetapi hatinya miskin, sangat menghargai dan menghormati orang lain, suka menolong dan senang pula bila ditolong, menerima pujian dan bersedia bila dikritik.

Ada sebuah cerita. Di padang gurun Sahara, Setan berkata kepada murid-muridnya: “Manusia itu selalu menginginkan yang lebih baik dibandingkan sesamanya daripada berbuat baik demi kepentingan bersama. Sebagai bukti, setan itu ingin mengetes sepasang teman yang sedang beristirahat di dekatnya.

Setan berkata kepada salah seorang di antara mereka: “Saya akan mengabulkan tiga permintaanmu. Apapun yang kamu minta akan saya kabulkan. Namun temanmu akan menerima dua kali lipat. Orang itu diam cukup lama sambil berpikir dan berkata dalam hatinya: “Kalau saya minta sesuatu, teman saya pasti senang karena dia akan menerima dua kali lipat.”

Akhinya dia berkata: “Saya ingin menjadi sangat cantik,” temannya pun menjadi dua kali lebih cantik. Saya ingin menjadi sangat kaya, temannya pun menjadi dua kali lebih kaya. Permintaan ketiga, saya ingin serangan jantung yang ringan saja. Temannya pun meninggal karena serangan jantung yang hebat.

Yang saya mau katakan dari cerita ini adalah bahwa salah satu cara mengetahui hati kita miskin adalah bila kita rela orang lain menjadi lebih baik dari kita. Hidup miskin itu susah. Namun jauh lebih sulit lagi untuk membuat hati kita miskin di hadapan Tuhan. Karena itu, marilah kita memohon rahmatNya agar Dia membantu kita untuk hidup seturut dengan kehendakNya. Amin. (Frater Reynold Sombolayuk, OMI)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.