Santa Maria adalah Ratu

Santa Maria adalah Ratu

 

Membaca Perikop Kitab Suci: Kisah 1:12-14

Renungan Singkat:

Penerimaan Maria pada kehendak ilahi (bdk. Luk.1:26-38) merupakan alasan utama yang mendasari keyakinan bahwa ia adalah Ratu Surga. Oleh karena penerimaannya yang rendah hati dan tanpa pamrih pada kehendak Tuhan, “Tuhan menempatkannya dalam posisi yang lebih tinggi dibandingkan dengan semua makhluk lainnya, dan Kristus memahkotainya sebagai Ratu surga dan bumi” (Paus Benediktus XVI).

Setelah menerima berbagai pengalaman perjumpaan dengan Yesus yang telah bangkit, para rasul yang tadinya hampir tercerai-berai kemudian sering berkumpul bersama untuk berdoa dan bersekutu. Dalam kesempatan seperti itu, Bunda Maria dan beberapa perempuan lainnya juga turut hadir. Sebelum wafatNya di salib, Yesus memang telah menitipkan Maria kepada para rasulNya (lih. Yoh.19:25-27). Sejak saat itu Maria mendapat tempat yang paling istimewa dalam komunitas para murid Yesus. Tidaklah berlebihan bila dikatakan bahwa sesungguhnya Bunda Maria telah menjadi junjungan mereka, menjadi “Ratu” bagi para Rasul dan kita semua sejak masih di dunia.

 

Membaca Kisah Kehidupan St. Eugenius de Mazenod:

Usia memang tidak bisa dilawan walau sekuat dan sebesar apapun semangat hidup yang masih dimiliki oleh seorang manusia. Mgr Eugenius de Mazenod juga mengalami hal yang sama. Setelah mengalami beberapa kali terjatuh pada tahun 1860 dan setelah merasakan ada sesuatu yang menyakitkan di dadanya, kesehatan Mgr. Eugenius semakin terganggu. Beliau sempat menjalani dua kali operasi, namun kesehatannya tetap makin memburuk.

Dari atas ranjangnya, ketika menyadari saatnya hamper tiba, beliau mengajak setiap orang yang berada di sekelilingnya untuk bernyanyi bersamanya pujian kepada Maria Ratu, Salve Regina (Salam Ya Ratu)

Salam ya Ratu,

bunda yang berbelas kasih,

hidup, hiburan, dan harapan kami.

Kami semua memanjatkan permohonan.

Kami amat susah, mengeluh,

mengesah dalam lembah duka ini.

Ya ibunda, ya pelindung kami,

limpahkanlah kasih sayangmu

yang besar kepada kami,

dan Yesus Puteramu yang terpuji itu,

smoga kau tunjukkan kepada kami.

O Ratu, O Ibu, O Maria, Bunda Kristus.

Begitu lagu tersebut selesai dinyanyikan, Sang gembala tua itu menghembuskan nafasnya yang terakhir dan wafat. Hari itu tanggal 21 Mei 1861.

Mari sejak hari ini kita juga membiasakan diri untuk menyapa Bunda Maria sebagai Ratu kita!

 

(Ditulis oleh Pastor F.X. Rudi Rahkito Jati, OMI, Animator Triennium Distrik Jakarta, "Bersama St. Eugenius de Mazenod, Makin Dekat dengan Bunda Maria", Panitia Triennium Distrik Jakarta)

** Catatan: Renungan di atas dapat menjadi bahan pertemuan Triennium sambil berdoa Rosario.

 

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.