Dengan nama Apa Engkau Ingin Dipanggil di Hadapan Tuhan?

Ada beberapa sebutan untuk menunjukkan relasi kita terhadap Tuhan.  Dalam tradisi lama, kita kenal orang-orang yang disebut “Sahabat Tuhan”.  Mereka dipilih sepekerja Tuhan.  Merekalah orang-orang terpilih yang kepadanya pertama kali Tuhan mewahyukan kasihNya, pengajaranNya, keinginanNya untuk menyelamatkan umatNya.  Orang-orang ini adalah “Penyambung Lidah Tuhan” karena lewat mereka Tuhan berbicara dan mengajar umat kesayanganNya.

Merekalah para nabi.  Mereka menjadi perantara komunikasi Tuhan dengan manusia.

Yang lain lagi adalah hakim-hakim.  Mereka adalah wakil Tuhan yang memerintah umatNya.  Setelah mereka, ada raja-raja. Keduanya – baik para Hakim dan para Raja – memerintah dan memimpin umat di jalan Tuhan.  Mereka selalu dipandang sebagai  orang dekat Tuhan, orang pilihan,  menampakkan wajah Tuhan, dan tentu, menjadi kehadiran Tuhan itu sendiri.

Kita bisa menemukan mereka pada nama-nama besar dalam sejarah iman: Abraham, Yakub, Musa, Samuel, Daud, Salomo, dan lain-lain.

Tetapi di antara nama-nama besar tersebut, ada juga orang-orang yang disebut “sisa-sisa Israel” yaitu orang-orang yang setia kepada Tuhan meski menghadapi segala kesulitan, pencobaan, penganiayaan, pembunuhan, pencemaran, sekularisasi, dan lain sebagainya.

Mereka selalu setia kepada Tuhan tetapi mereka tersembunyi - hidup tersembunyi dalam kesederhanaan dan kerendah-hatian.

Bisa kita sebut di antara mereka: Maria.  Ia adalah teladan untuk kita, karena selalu setia kepada Tuhan, tersembunyi, sederhana, dan rendah hati.

Maria tidak dikenal, tidak juga menjadi bagian dari nama-nama besar.

Tetapi Maria selalu ada di jalan Tuhan, mematuhi perintah Tuhan, Hukum Tuhan, seorang yang menyenangkan hati Tuhan.

Kita dapat menilainya dari kata-kata yang menjadi jawaban Maria kepada malaikat: “Aku ini adalah hamba Tuhan, jadilah padaku menurut perkataanmu itu.”

Maria tidak dikenal.  Dia bukan seorang nabi, bukan pula orang yang berpengaruh.  Maria adalah seorang gadis sederhana, seorang perawan, orang yang mempersembahkan dirinya untuk Tuhan.

Maria adalah hamba Tuhan yang sederhana.

Saya yakin Maria tidak berbeda jauh dengan kita.  Kita juga bukan nabi, bukan raja, bukan hakim untuk orang lain;  kita – mungkin seperti Maria – adalah bagian dari sisa-sisa Israel.

Impian kita hanyalah melayani Tuhan dengan penuh kesederhanaan dan kerendah-hatian, bahkan dalam segala kerapuhan dan kelemahan kita.

Seperti Maria,  yang seorang perawan, melindungi dan menjaga tubuhnya, dirinya, demi Tuhan semata.

Seperti Maria, yang mematuhi Hukum Tuhan dengan setia.

Seperti Maria, yang menaruh dirinya sebagai hamba Tuhan.

Kita semua diundang untuk mengikuti teladan Maria.

Kita menghormati Tuhan dengan melindungi tubuh kita dan menggunakannya hanya untuk Tuhan.

Kita menggunakan waktu kita, tenaga kita, talenta kita untuk pelayanan bagi Dia.

Dan kita bangga untuk berkata bahwa diri kita adalah hamba Tuhan.

Kita bukan nabi.

Kita bukan hakim.

Kita bukan raja.

Kita  tidak termasuk dalam daftar nama-nama besar.

Kita adalah orang-orang sederhana, kita adalah orang-orang yang rapuh, kita adalah orang-orang yang rendah hati, tetapi kita ingin melayani Tuhan.

Saya yakin sebagian besar dari kita pasti ingin mempersembahkan tubuh, jiwa, talenta, kekuatan, seluruh diri untuk melayani Tuhan.

Jadi, dengan nama apa kita ingin dipanggil di hadapan Tuhan?

Sahabat Tuhan?

Lidah Tuhan?

Nabi Tuhan?

Hamba Tuhan?

Atau?

Dengan nama apa kita ingin dipanggil di hadapan Tuhan?


(Kontribusi: Pastor Henricus Asodo, OMI, Homili Minggu Adven Ke-4, Gereja Misi Oblat, Aix-en-Provence)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.