Godaan untuk Menjadi Relevan

Godaan pertama yang dilancarkan oleh iblis adalah agar Yesus mengubah batu menjadi roti.  Ini adalah godaan untuk menjadi relevan, melakukan sesuatu yang diperlukan dan dapat dihargai oleh orang banyak – menjadikan produktivitas sebagai dasar dari pelayanan kita.

Betapa sering kita telah mendengar kata-kata ini: “Apakah gunanya berbicara tentang Allah kepada orang yang lapar?  Apakah gunanya mewartakan Kabar Gembira kepada orang yang sedang kekurangan makanan, tidak punya tempat tinggal, ataupun pakaian?  Yang diperlukan adalah orang-orang yang dapat menawarkan bantuan dan dukungan yang konkret.  Dokter dapat menyembuhkan, pengacara dapat membela perkara, direktur bank dapat membiayai, pekerja sosial mampu mengelola dan menata ulang.  Tapi apakah yang dapat Anda lakukan?  Apakah yang dapat Anda tawarkan?

Inilah bujukan si penggoda.

Godaan ini menyentuh inti jati diri kita.  Dalam banyak cara, orang meyakinkan kita bahwa jati diri kita ditentukan oleh apa yang kita hasilkan.  Hal ini membuat kita sibuk dengan barang-barang yang kita produksi, hasi-hasil yang kelihatan nyata, benda-benda serta kemajuan yang dapat dirasakan.

 

Godaan untuk menjadi orang yang relevan ini sulit untuk ditangkis oleh karena hal itu biasanya tidak dipandang sebagai godaan, melainkan sebagai suatu panggilan.  Kita meyakinkan diri kita sendiri bahwa kita dipanggil untuk menjadi orang yang produktif, berhasil, dan efisien.  Ktia merasa terpanggil untuk menjadi orang yang kata-kata dan tindakannya memperlihatkan bahwa berkarya demi Kerajaan Allah itu memiliki martabat yang sama agungnya dengan kesibukan bekerja pada perusahaan-perusahaan besar seperti General Electric, Mobil Oil, atau pemerintah.  Tetapi dengan cara demikian, kita menyerah pada godaan untuk menjadi relevan dan terhormat di mata dunia.

Ketika Yesus dicobai untuk mengubah batu menjadi roti, Ia berkata kepada si penggoda: “Manusia tidak hidup dari roti saja, melainkan dari setiap sabda yang keluar dari mulut Allah.”  Yesus tidak menyangkal pentingnya roti.  Ia justru merelatifkan roti tersebut jika dibandingkan dengan Sabda Allah yang berkuasa untuk memberi arti hidup.  Dalam Kitab Ulangan, Musa berkata kepada rakyatnya: “Yahwe membuat kalian merasa lapar dan Ia memberi kalian makan dengan roti manna yang tidak dikenal oleh kalian maupun oleh nenek moyangmu.  Yahwe membuat kalian mengerti bahwa orang tidak hidup dari roti saja tetapi dari segala sesuatu yang keluar dari mulut Yahwe.” (Ul. 8:3)

Allah memberi kita roti agar kita mau mempercayakan diri sepenuhnya kepada sabdaNya.  Allah dapat menganugerahkan prestasi, efisiensi, dan produktivitas kepada mereka yang hatinya terarah kepadaNya.  Dengan pernyataan ini, kita tidak hendak mengatakan bahwa kita perlu meremehkan perilaku yang relevan.  Yang ingin ditegaskan di sini adalah bahwa perilaku yang relevan hendaknya tidak menjadi fondasi bagi jati diri ktia sebagai orang Kristiani.

Kita tidak sama dengan roti yang kita tawarkan.  Kita adalah umat yang diberi makan oleh Sabda Allah dan oleh karenanya kita menemukan jati diri kita yang sejati.  Tantangan terbesar kita adalah membiarkan Allah dan Sabda IlahiNya membentuk dan membentuk kembali diri kita sebagai manusia, berpesta setiap hari, merayakan Sabda tersebut.  Dengan demikian kita bertumbuh menjadi orang merdeka yang tidak dibelenggu rasa takut.  Kita akan dapat terus-menerus memberi kesaksian tentang kehadiran Allah di dunia ini, baik ketika kita menghasilkan buah sedikit ataupun ketika kita tidak menghasilkan buah-buah yang kelihatan sama sekali.

Menjadi seorang Kristiani yang mau berkelana bersama Kristus di jalan pengosongan diri menuntut agar kita mau melepaskan diri secara ajeg dari keinginan untuk menjadi orang yang relevan.  Kita diminta untuk menaruh kepercayaan yang jauh lebih mendalam kepada Sabda Allah.  Dengan demikian, godaan untuk menjadi relevan ditanggapi bukan dengan melakukan hal-hal yang tidak relevan, melainkan dengan berpaut pada Sabda Allah yang menjadi sumber segala hal yang relevan.

(Disalin dari buku “The Selfless Way of Christ – Jalan Pengosongan Diri Kristus”, Henri Nouwen, Dioma, 2008)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.