Godaan untuk Menjadi Orang yang Berkuasa

Godaan ketiga – dan yang paling dahsyat bujuk rayuannya – adalah godaan untuk menjadi orang yang berkuasa.  Setan memperlihatkan kepada Yesus semua kerajaan dunia dengan segalla kemegahannya, katanya: “Semuanya ini akan kuberikan kepadaMu jika Engkau menyembahku.” (Mat 4:8-9)

Barangkali tidak ada budaya di mana banyak orang, tanpa rasa malum didorong untuk mencari kekuasaan sebagaimana zaman kita ini.  Sejak saat kita menapakkan kaku untuk menggapai posisi puncak, kita meyakinkan diri bahwa – karena alasan-alasan praktis – perjuangan mendapatkan kekuasaan dan keinginan untuk melayani merupakan hal yang sama.  Kekeliruan ini begitu tertanam di dalam seluruh cara hidup kita sehingga kita tidak ragu-ragu berusaha menggapai posisi-posisi yang berpengaruh, dengan keyakinan bahwa kita melakukannya demi kepentingan Kerajaan Allah.

Tampaknya hampir tidak mungkin mempercayai kenyataan bahwa ada hal-hal baik yang berasal dari ketidakberdayaan.  Amerika Serikat adalah tempat bagi orang-orang yang dipandang sebagai pelopor dan bagi orang-orang yang mencapai keberhasilan dengan usahanya sendiri.  Di sana, ambisi dianggap demikian penting dan karena itu ditanamkan sejak saat anak-anak memasuki sekolah sampai saat orang dewasa memasuki liku-liku dunia perdagangan yang penuh persaingan.  Orang tidak yakin dengan merelakan kekuasaan – ataupun tanpa mengharapkannya – mereka sesungguhnya masih dapat memperoleh sesuatu yang baik.  Semua lapisan masyarakat percaya bahwa kekuasaan itu ibadat suatu benda; dan dengan memilikinya, mereka seolah-olah bisa memperoleh lebih banyak kekuasaan lagi.

Kekuasaan dapat memiliki banyak bentuk: uang, koneksi, kemashyuran, kemampuan intelektual, ataupun keahlian.  Semuanya ini merupakan sarana untuk mendapatkan rasa aman, tempat orang seolah bisa memegang kendali dan mengatur hidupnya.  Oleh karena itu, mudah dipahami bahwa pada tataran pribadi, sebagaimana pada tataran nasional dan internasional, kekuasaan adalah sebuah nama permainan.

Hampir tidak ada sesuatu yang lebih sukar diatasi daripada keinginan untuk berkuasa.  Kekuasaan selalu menghendaki adanya suatu kekuasaan yang lebih besar lagi.  Hal ini disebabkan karena kekuasaan itu sebenarnya adalah suatu ilusi.  Dari pengalaman kita tahu bahwa kekuasaan tidak memberi kita rasa aman seperti yang kita inginkan tetapi malahan sebaliknya.  Kekuasaan justru memperlihatkan kerapuhan dan keterbatasan kita.  Kendati demikian, kita tetap percaya bahwa kekuasaan yang lebih besar akan sanggup memuaskan kebutuhan kita.

Hasilnya adalah suatu spiral keinginan akan kekuasaan yang lebih besar lagi.  Keinginan tersebut berjalan seiring dengan makin meningkatnya perasaan tidak berdaya.  Perlombaan senjata yang makin meningkat merupakah salah satu contoh dramatis.  Semakin banyak senjata yang dimiliki suatu negara, semakin kurang bebas negara itu bergerak.  Amerika Serikat mengalami suatu kram.  Negara ini kelihatan dan bertingkah laku seperti seorang binaragawan yang telah mengembangkan otot-ototnya sedemikian rupa, sampai-sampai ia tidak dapat bergerak dengan leluasa lagi.

Dengan memiliki banyak kekuasaan, sulitlah bagi kita untuk melawan godaan akan kekuasaan.  Namun pelayanan kita sesungguhnya memiliki suatu rahasia.  Rahasia itu ialah keyakinan bahwa Allah memanggil kita untuk melayani, bukan melalui kekuasaan, melainkan melalui ketidakberdayaan ktia.  Karena tidak berdaya, ktia dapat bersikap solider dengan sesama kita, membangun suatu komunitas dengan kaum lemah dan dengan cara demikian kita menampakkan belas kasih Allah yang menyembuhkan, membimbing, dan meneguhkan.  Allah memanggil kita untuk berbicara kepada banyak orang bukan di tempat yang mereka merasa mapan, namun di tempat mereka menyadari rasa nyeri mereka; bukan di tempat mereka mengendalikan segala sesutu, tetapi di tempat mereka merasa gentar dan tidak aman; bukan di temapt mereka percaya diri dan merasa pasti, melainkan di tempat mereka mengalami keraguan dan berani mengajukan pertanyaan-pertanyaan jitu.  Pendek kata, tidak di tempat mereka hidup dalam ilusi akan kekekalan, tetapi di tempat mereka siap menghadapi kondisi kehidupan mereka yang hancur, yang dapta binasa, dan yang rapuh.  Sebagai pengikut Kristus, kita diutus ke dunia ini, dalam keadaan telanjang, terluka, dan lemah.  Dengan demikian, kita kesakitan dan sekarat serta memperlihatkan kepada mereka kekuatan Roh Allah.

Yesus menanggapi godaan akan kekuasaan ini dengan bersabda: “Hendaknya kepada Tuhan Allah saja engkau berbakti.”  Kata-kata ini mengingatkan kita bahwa hanya melalui keterarahan kepada Allah sajalah maka pelayanan yang tidak mengandalkan kekuasaan dapta diwujudkan.  Selama kita membagi waktu dan energi kita antara Allah dan orang lain, kita melalaikan bahwa pelayanan tanpa Allah tidak lain daripada pencarian diri; pelayanan yang berorientasi pada pencarian diri dapta mengarah kepada manipulasi; manipulasi mengarah kepada permainan kekuasaan; permainan kekuasaan kepada kekerasan dan kekerasan kepada penghancuran – sekalipun semuanya itu mungkin dilakukan atas nama pelayanan.

Tantangan kita adalah bagaimana membuat agar pelayanan kepada sesama menjadi suatu perayaan dan perwujudan nyata dari pelayanan total dan tidak terbagi-bagi Allah.  Hanya ketika semua pelayanan kita menemukan sumber dan tujuannya dalam Allah, maka kita bebas dari nafsu akan kuasa dan melangkah untuk melayani sesama kita demi kebaikan mereka, bukan demi nama baik kita.

Inilah rahasia terbesar pengabdian.  Yesus mengungkapkan rahasia tersebut kepada para muridNya: “Aku tidak memanggil kamu hamba sebab seorang hamba tidak tahu apa yang dilakukan Tuannya.  Aku memanggilmu sahabat sebab Aku telah menyampaikan kepadamu segala sesuatu yang Kudengar dari BapaKu.” (Yoh 15:15).  Kita melihat di sini bahwa pengabdian dan persahabatan tidak lagi berbeda, dan bahwa dengan melayani Allah kita menemuakn identitas diri kita yang sesungguhnya – suatu jati diri yang tidak lagi membutuhkan pengakuan sosial, tetapi suatu jati diri yang bebas menawarkan pelayanan tanpa bersandar pada kekuasaan.

Godaan untuk menjadi orang yang relevan, mengagumkan dan berkuasa merupakan godaan yang sungguh ada dan akan selalu kita hadapi sepanjang hidup.  Ketiganya adlaah godaan yang besar karena secara langsung mempengaruhi keinginan kita untuk bergabung dengan orang-orang yang menempuh jalan yang berorientasi kepada kemajuan.

Namun, jika kita mampu mengenali godaan-godaan ini sebagai godaan yang menggiurkan agar kita melekat pada ilusi-ilusi tentang jati diri yang palsu, maka godaan-godaan itu dapat mnejadi undangan untuk menegaskan jati diri kita yang benar, yakni jati diri yang dikenal oleh Allah saja.  Ketika kita mampu terus melayani sesama, sekalipun hidup ktia terasa sama saja, sekalipun tidak banyak orang memuji kita dan sekalipun kita memiliki sedikit pengaruh atau tidak berkuasa sama sekali, kita tetap menerima diri kita sebagaimana Allah mengenali kita, yakni sebagai putera-puteri yang bernaung dalam kasih Allah.

Kita bukanlah milik dunia.  Kita milik Allah.  Ktia akan selalu dicobai, dengan berbagai cara, untuk menegaskan jati diri kita yang lama, untuk kembali ke Tanah Mesir dan untuk menolak jalan salib yang gila.  Namun kita menjaid pengikut Kristus yang sejati setiap kali kita meletakkan kata-kataNya di mulut kita dan berkata kepada si penggoda: “Enyalah, setan... engkau harus berbakti kepada Tuhan Allahmu dan mengabdi kepadaNya saja.”

 

(Disalin dari buku “The Selfless Way of Christ – Jalan Pengosongan Diri Kristus”, Henri Nouwen, Dioma, 2008)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.