Jati Diri Seorang Yang Dikasihi

Sore itu, hampir selama satu jam keluhan dan gerutu muncul dalam batinku. Aku tidak bisa menikmati pekerjaan yang kulakukan, hingga akhirnya aku termenung.

Pada sore hari, aku mendapatkan giliran Opera (dari kata “Opus” – Bahasa Latin yang berarti “kerja”) menyapu kebun bagian tengah Novisiat. Di musim yang kering dan berangin seperti sekarang ini, mendapat tugas opera menyapu kebun adalah hal yang cukup melelahkan. Bagaimana tidak, baru saja disapu angin sudah bertiup lagi dan menerbangkan daun-daun kering yang sudah disapu ditambah daun kering yang rontok dari pohon. Tidak hanya sekali namun berkali-kali.

Niat hati menghibur diri, aku bernyanyi sambil menyapu, namun tidak menolong. Angin bertiup semakin kencang seakan Tuhan ingin menjahili aku. “Asem tenan,” gumamku.

Sejenak aku terenung dan terinspirasi. Sembari menyapu aku merenung, koq bisa-bisanya aku mengeluh dan menggerutu karena hal demikian? Mengapa aku mengeluh dan menggerutu karena kebun kotor lagi? Bukankah aku pun demikian, sudah diampuni tetapi masih berbuat dosa lagi? Aku menggerutu karena sedikit angin yang mengotori hasil pekerjaanku menyapu, sedangkan Allah tidak. Allah tidak memandang dosaku. Ia telah berulang kali mengampuni dosa-dosaku lewat sakramen rekonsiliasi yang kuterima. Aku merasa amat malu dengan diriku sendiri. Allah tidak pernah lelah, jemu ataupun menggerutu terhadap aku yang sering berulang kali berbuat dosa dan tak jarang melakukan dosa-dosa yang sama. Allah tetap sudi ‘membersihkan’ , memberikan pengampunan-Nya padaku.

Inilah jati diriku, jati diri sebagai orang yang dikasihi. Pribadi yang dikasihi Allah. Kupandang sekali lagi tatapan Dia yang tersalib, yang berada dalam takhta cinta kasih paling sempurna, pengorbanan tiada tara demi cinta padaku dan seluruh umat manusia. Salib merupakan tanda cinta kasih yang tak terbantahkan, dari puncak penghinaan Dia membagikan cinta kasih-Nya. Dia yang tersalib yang setia dan tidak pernah mengeluh atau menggerutu.

Pada jati diri seorang yang dikasihi, terdapat jalan lurus yang telah Dia sediakan bagiku dalam tuntunan-Nya. Sayang, kehendak bebas yang Allah berikan kepadaku kerap kusalahgunakan sehingga jalan lurus yang sudah tersedia tidak kujalani dengan baik melainkan berbelok sana-sini kemana aku mau. Kendati begitu, sekali lagi Allah tidak menyerah dan menghentikan kasih-Nya. Kesadaran ini membuat aku terdorong untuk tetap setia mendengar dan mengikuti tuntunan-Nya dalam hidup, mengurangi kecenderungan-kecenderungan buruk seperti mengeluh dan menggerutu, serta semakin bersyukur atas segala yang telah kuterima baik dalam bentuk perutusan, tanggung-jawab maupun bakat dan prestasi.

Aku merasa amat bersyukur, di tengah keluhan dan gerutu yang muncul saat menyapu sore hari ini Allah masih saja menyentuh hatiku untuk sadar kembali dan memperoleh inspirasi dari-Nya. Pengalaman ini juga mendorong aku untuk tidak menyepelekan pekerjaan sekecil apapun yang dipercayakan kepadaku, karena dari situ Allah ingin berbicara sesuatu bagi perkembangan hidupku sebagai orang yang dipanggil-Nya. Ya Allah, bantulah aku untuk setia seperti Yesus Putera-Mu.

(Kontributor: Frater Novis Henrikus Prasojo, OMI - Refleksi Harian Rabu,28 Oktober 2015/Foto Ilustrasi: Dokumen Novisiat OMI Indonesia)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.