BANGKIT

Pastor Reynold menyalakan Lilin Paskah

 

Saudara-Saudara Yang Terkasih dalam Kristus,

Kalau kita perhatikan suasana dalam gereja ini, ada perbedan yang cukup jelas antara peristiwa Jumat Agung kemarin dengan peristiwa Malam Paskah hari ini.  Kemarin, tidak ada hiasan bunga dan dekorasi Altar.  Tapi malam ini, kita melihat ada bunga dan berbagai macam hiasan lainnya.  Dan semua hiasan ini juga berbeda dari minggu-minggu biasanya.  Saya kira hal ini bukan karena kita ingin kegemerlapan dan kemeriahan, tetapi peristiwa wafat dan kebangkitan Kristus memang merupakan 2 hal yang menjadikan semuanya sungguh berbeda.  Yang satu – wafat Kristus – adalah tentang kesedihan dan putus asa; sedangnya yang lainnya – kebangkitan Kristus – adalah tentang sukacita dan pengharapan.

Ada perbedaan lainnya.  Wafat Kristus merupakan sebuah peristiwa historis yang sungguh tercatat dalam sejarah dan ada buktinya.  Jika kita pernah ke Israel – atau Yerusalem – kita pasti dapat melihat tempat-tempat Tuhan Yesus mengalami peristiwa-peristiwa dalam hidupnya.  Tempat Yesus disalib, kubur Yesus, dan tempat-tempat lainnya, semuanya bisa kita lihat, karena memang tercatat dalam sejarah.  Nama Herodes, Pontius Pilatus, itu semua juga tercatat dalam sejarah.  Tetapi peristiwa Kristus bangkit adalah peristiwa yang personal.  Tidak semua orang dapat mengalami peristiwa Yesus yang bangkit ini.

Kita mendengar tadi dalam Bacaan Kitab Suci, ketika para perempuan yang pertama-tama melihat makam kosong, kemudian pulang dan memberitahukan kepada murid-murid Yesus, para Rasul tidak percaya, menganggapnya omong kosong.  Memang, waktu itu mungkin sulit bagi merekauntuk percaya adanya kebangkitan.  Mereka memang percaya kebangkitan pada akhir zaman, tetapi kebangkitan yang terjadi pada waktu itu, mereka belum bisa mempercayainya.   Maka mereka menganggap yang dikatakan para perempuan itu hanya khayalan, apalagi perempuan-perempuan pada waktu itu juga tidak dipercaya.  Tetapi menariknya, Yesus justru pertama memberikan kabar kebangkitanNya kepada perempuan.   Kita bisa melihat bahwa Yesus ingin agar peristiwa kebangkitan bukan menjadi peristiwa seseorang yang mengalami dan lalu jadi percaya, tetapi sungguh-sungguh menjadi pengalaman personal - seseorang yang sungguh mengalaminya secara pribadi.  Maka Petrus langsung berlari ke makam.  Bacaan Kitab Suci tadi tidak memperlihatkan kelanjutan ceritanya, tapi hanya sampai di situ saja.  Petrus langsung bangkit dan berlari ke makam untuk membuktikan apakah benar Yesus sudah bangkit dan sesampainya di sana mendapati seperti yang dilihat perempuan-perempuan itu.  Yesus sudah tidak berada di dalam kubur lagi.

 

Kebangkitan harus di lihat dengan kacamata iman.  Iman orang yang percaya. Maka kita bisa memahami bagaimana Paulus yang mengalami kebangkitan Tuhan.  Ada beberapa orang di sekitar Paulus, tetapi mereka tidak mengalami kebangkitan Yesus.  Paulus secara personal mengalami peristiwa Yesus yang bangkit. Maka sampai sekarang pun tidak semua orang percaya kebangkitan Tuhan yang merupakan dasar  atau pondasi dari iman Kristiani.

Pengalaman personal akan kebangkitan Kristus itu disatukan dalam kumpulan atau komunitas, sehingga mereka yang mengalami kebangkitan Kristus mengembangkan iman akan kebangkitan itu sendiri yang tentu berbeda-beda cara dan terjadinya.  Intinya adalah mereka mengalami secara rohani Yesus yang bangkit, hadir di tengah-tengah mereka.  Inilah perjalanan akhir dari sebuah refleksi perenungan hidup mereka di dalam kebangkitan itu: apakah Yesus sudah bangkit di dalam hidup kita?  Apakah Yesus sungguh-sungguh hadir dalam hidup kita?  Apakah kita masih berada dalam peristiwa Jumat Agung?  Kalau kita masih setiap hari marah-marah, bersedih karena terus terbelit masalah, hutang, kesal, tidak bahagia dalam keluarga, itu berarti kita masih dalam suasana Jumat Agung.  Orang yang mengalami kebangkitan adalah orang yang bersukacita, bersemangat, optimis, penuh harapan.  Itulah tanda-tanda adanya kebangkitan dalam hidup kita.

Saya melihat dari kata “bangkit” sendiri dapat menjadi tanda bagi kita mengalami kebangkitan.  Kebangkitan itu berasal dari kata dasar “BANGKIT” -

B – bersukacita.  Orang yang mengalami kebangkitan adalah orang yang bersukacita.  Bersukacita bukan berarti tidak lagi merasakan kesedihan atau mempunyai masalah, tetapi selalu dipenuhi dengan semangat, harapan, dan sikap optimis.

A – amalkasih.  Orang yang mengalami kebangkitan adalah orang yang murah hati.  Apa yang dimilikinya akan dibagikannya.  Para Rasul mewartakan Kristus, lalu ada seseorang yang meminta-minta kepada mereka.  Petrus katakan bahwa mereka tidak memiliki uang, tetapi dalam kuasa Tuhan Yesus, mereka dapat memberikan kesembuhan.  Amalkasih, belaskasih, menjadi tanda bagi seseorang yang mengalami kebangkitan.

N – nyaman, tenang, damai.  Orang yang mengalami kebangkitan adalah orang yang berdamai dan nyaman dengan dirinya sendiri.  Bukan seorang yang asyik bergulat dengan kesalahan diri sendiri dan menutup diri dari orang-orang lain karena merasa orang lainlah yang bermasalah.  Orang yang demikian adalah orang yang belum nyaman, belum berdamai dengan dirinya sendiri, belum mengalami kebangkitan.  Orang yang nyaman dan tenang adalah orang yang menyadari kelebihan dan kekurangannya serta mengakui dan menerimanya.  Ia mensyukuri segala yang telah diberikan Tuhan kepadanya.

G – gerak.  Orang yang mengalami kebangkitan adalah orang yang bergerak.  Tidak diam saja menunggu, tetapi melakukan sesuatu.  Petrus langsung pergi ke makam.  Jika kita mengalami kebangkitan, maka kita tidak akan tinggal diam, melainkan melakukan sesuatu untuk Tuhan dan sesama.  Kebangkitan tercermin dari tindakan kita.

K – kerahiman.  Tahun ini adalah Tahun Kerahiman.  Apa maksudnya kerahiman?  Orang yang mengalami kebangkitan adalah orang yang mengalami pengampunan dari Tuhan.  Hanya orang yang  mengalami diampuni oleh Tuhan maka orang itu dapat mengampuni sesamanya.  Hidup dalam kerahiman terus-menerus, berdamai dengan masa lalu,  dendam dan kebencian tidak menjadi belenggu untuk melangkah.  Kita menatap masa depan yang lebih baik dengan mengampuni diri sendiri dan orang lain.

I – iman.  Orang yang bangkit adalah orang yang makin kokoh dalam iman.  Kokoh dalam berelasi dengan Tuhan, dalam berdoa dan memberikan waktu untuk Tuhan.  Segala kesempatan direnungkan dan dikaitkan dengan Tuhan dan sesama.

T – toleransi.   Kita mengakui perbedaan dengan sesama.  Setiap orang adalah berbeda.  Bahkan anak kembar pun ada perbedaannya.  Dalam keluarga pun banyak perbedaan.  Apalagi beda suku dan latar belakang.  Kita semua punya perbedaan.  Maka pertama-tama kita perlu mengakui adanya perbedaan itu, menyadarinya dan mau menerima perbedaan itu.  Dalam toleransi ada kedamaian.  Tenang.  Sebaliknya, tanpa toleransi kita akan mengalami perkelahian dan dominasi.  Beranilah membuka diri dan belajar menerima perbedaan.

Untuk sampai kepada BANGKIT, kita hanya memiliki satu jalan.  Bukan jalan tol, tetapi Jalan Salib.  Via Dolorosa.  Setia dalam Jalan Salib, setia pada perubahan, bangkit dari kelemahan, kesalahan, dan kita akan sampai pada pengalaman akan Kristus yang bangkit, pengalaman kebangkitan personal  kita masing-masing.

Kemuliaan kepada Bapa, dan Putera, dan Roh Kudus, seperti pada permulaan, sekarang, selalu dan sepanjang segala abad.  Amin.

(Penulis: Pastor Reynold Agustinus Sombolayuk, OMI, Homili Sabtu Suci, 26 Maret 2016,  di Gereja Santa Maria Imakulata, Paroki Kalideres, Jakarta/Foto: Tim Komsos SMI)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.