Kekayaan Mesti Dikembangkan

Paus Franciscus berpesan, “Kalau kekayaan Anda bertambah, janganlah membangun tembok pagar yang lebih tinggi, tetapi bangunlah meja makan yang semakin panjang.” Membangun tembok pagar yang lebih tinggi adalah untuk mendapatkan rasa aman dari ancaman yang datang dari luar tembok. Ancaman ini tentu diperkirakan datang dari orang lain yang ingin mengambil atau mencuri barang atau harta yang dimiliki oleh si tuan rumah. Sesama dipandang sebagai ancaman. Sedangkan memperpanjang meja makan merupakan ajakan untuk berbagi rejeki dengan sesama, membangun persahabatan, membangun kekeluargaan. Berbagi makanan adalah membagikan kegembiraan. Mereka yang mendapatkan makanan tidak akan lagi khawatir tentang apa yang akan dia makan. Dia sudah dikenyangkan. Dia dapat memikirkan aktivitas lainnya.

Yesus membuat perumpamaan tentang orang yang hasil ladangnya berlimpah, sehingga kekayaannya bertambah banyak. Dia kemudian membangun lumbung yang lebih besar untuk menyimpan semua kekayaannya itu. Sekarang dia dapat tidur tenang tanpa kerepotan dan khawatir tentang apa yang akan dimakannya. Kalau diperhatikan, dalam perumpamaan Yesus, orang kaya itu berbicara sendiri, kepada dirinya sendiri. Dia seperti orang yang tidak punya teman. Orang kaya ini ingin menikmati kesendirian dengan makan, minum, istirahat, bersenang-senang. Ini adalah sikap orang yang tamak. Orang yang berpusat hanya pada diri sendiri. Dia tidak merasa perlu repot memikirkan orang lain. Asal dirinya tidak menjadi jahat terhadap orang lain dan semuanya berjalan dengan baik, mengapa tidak? Dia mendapat harta kekayaannya juga bukan karena mencuri atau memeras orang lain.

 

Di mana terletak kebodohan/ketamakan orang ini? Kekayaan adalah anugerah dari Tuhan yang mesti dikembangkan dan bukan dipendam saja. Orang kaya itu tidak mengamalkan kekayaannya untuk kebaikan bersama. Bukan berarti ia harus menyumbang secara cuma-cuma. Menjadi kaya adalah boleh dan sah-sah saja. Akan tetapi kalau hanya disimpan dan untuk memenuhi kebutuhan diri sendiri, ini menjadi egois. Dia dapat mengembangkan kekayaannya untuk membangun sesuatu yang membuat sejahtera orang lain. Kekayaan dirinya bisa menjadi berlipat sekaligus bermanfaat bagi orang-orang disekitarnya. Mungkin contohnya adalah ajakan “re-patriasi” harta kekayaan orang Indonesia yang selama ini disimpan di luar negeri. Dengan dibawa kembali di dalam negeri, kekayaan itu bisa digunakan untuk pembangunan bangsa, tidak hanya tidur dalam lumbung di luar negeri.

Apakah saya sudah mengembangkan bakat, kemampuan dan kekayaan saya untuk ikut membuat dunia yang lebih baik?

 

(Penulis: Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI, Pastor Kepala Paroki Santa Maria Imakulata, Kalideres, Jakarta Barat)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.