Mewaspadai Kelekatan Pada Kekayaan

Ada orang yang suka memelesetkan bunyi Sila Pertama dari Pancasila dari “Ketuhanan Yang Maha Esa” menjadi “Keuangan yang maha kuasa”. Sikap usil ini tentu berasal dari situasi atau kecenderungan orang zaman sekarang yang memperlakukan uang  seperti “Tuhan”. Uang sekarang bisa dikirim atau dipindahkan dalam sekejab melalui ATM atau Internet Banking.  Satu hal yang mustahil pada 30 tahun yang lalu. Uang menjadi sumber penyelesaian segala persoalan. Kalau ada uang semua beres. Dengan uang semua bisa diatur. Uang menjadi seperti “Tuhan” yang menyelesaikan banyak perkara. Yang mempunyai banyak uang, dialah yang paling berkuasa. Bahkan ada yang mengatakan, “Orang miskin dilarang sakit!” karena biaya rumah sakit yang begitu mahal.

Injil Lukas 12:32-48 mengingatkan kita bahwa uang bukanlah tujuan kita hidup di dunia. Kita hidup bukan untuk mencari atau mengumpulkan harta benda. Harta adalah sarana yang dapat membantu kita mencapai kebahagiaan. Harta benda hanya akan kita gunakan selama kita hidup di dunia ini. Namun sebagai manusia, kita mempunyai kecenderungan yang susah sekali dihilangkan: di mana hartamu berada, di situ hatimu berada. Harta benda ini kita cari dan usahakan dengan menggunakan segala kemampuan dan akal kita. Kita membutuhkannya untuk mempermudah kehidupan kita sehingga banyak hal dapat kita bereskan dengan harta kekayaan kita. Akan tetapi kekayaan, meskipun sangat bernilai untuk kehidupan, bukanlah tujuan kita hidup. Kita hidup di dunia ini untuk menjadi bahagia lahir dan batin, mengalami kegembiraan yang sejati, bertumbuh dalam iman dan kepribadian yang semakin penuh. Yesus mengajak kita mempunyai sikap yang waspada terhadap terhadap kelekatan pada kekayaan. Kekayaan adalah anugerah Tuhan yang harus dikembangkan dan digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan hidup bersama. Semakin banyak kekayaan yang kita miliki, semakin kita diberi tanggungjawab untuk memperhatikan kebaikan bersama.

“Buatlah bagimu pundi-pundi yang tidak dapat menjadi tua, suatu harta di sorga yang tidak akan habis, yang tidak dapat didekati pencuri dan yang tidak dirusakkan ngengat.” Demikianlah ajakan Yesus. Kita dipanggil untuk tidak melekat pada kekayaan yang dapat habis selama di dunia ini. Bagaimana sikap kita terhadap kekayaan yang dipercayakan Tuhan kepada kita? Bagaimana kita menggunakannya, sebagai tujuan hidup atau sarana hidup? (Romo Antonius Andri Atmaka, OMI, Pastor Kepala Paroki Sta. Maria Imakulata)

(Penulis: Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI, Pastor Kepala Paroki Sta. Maria Imakulata, Kalideres, Jakarta Barat)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.