Untaian Cinta Yang Tak Putus

Rosario adalah doa yang paling saya sukai. Mungkin umat Katolik lainnya juga sependapat dengan saya. Sejak kecil orangtua sudah mengajarkan doa Rosario kepada saya. Ketika semakin bertumbuh, orangtua mulai mengajak saya untuk berdoa bersama umat Lingkungan Sta. Caecillia, Paroki Kalvari, Pondok Gede, Jakarta Timur, setiap bulan Mei dan Oktober. Ketika saya di Seminari Wacana Bhakti, devosi saya satu-satunya adalah devosi kepada Bunda Maria dengan berdoa Rosario. Sampai detik ini, saya masih menyukai dan melakukan doa devosi “Rosario Hidup” yang diajarkan Magister Novis saya, Pastor Antonius Sussanto, OMI, sewaktu di Novisiat.

Dalam sejarah doa Rosario, kekuatan serta keampuhan dari doa Rosario pertama kali dirasakan umat beriman pada 07 Oktober 1571.  Saat itu kerajaan-kerajaan Eropa mendapat serangan mendesak. Kemudian Paus Pius V bersama- sama dengan banyak umat beriman berdoa Rosario di Basilika Santa Maria Maggiore. Sejak subuh sampai petang, doa Rosario tidak berhenti didaraskan di Roma untuk mendoakan pertempuran di Lepanto.  Akhirnya berkat doa tak henti itu, Bunda Maria mendengar seruan itu dan menyampaikannya kepada Sang Putera. Dengan pertolongan Bunda Maria lewat doa Rosario itu, pertempuran Lepanto dimenangkan oleh Aliansi Kerajaan Eropa. Sejak saat itu bulan Oktober ditetapkan menjadi bulan Rosario dan pada setiap 7 Oktober ditetapkan menjadi Peringatan Wajib Santa Perawan Maria - Ratu Rosario.

Saya sendiri banyak memperoleh buah-buah rohani dari doa Rosario ini. Dari devosi Rosario ini, saya semakin mengenal peranan Bunda Maria dalam hidup saya. Awalnya ketika berdoa Rosario fokus saya hanya ada pada Bunda Maria, tetapi lama-kelamaan saya semakin menyadari bahwa Bunda Maria semakin mengantar saya kepada Sang Putera yaitu Yesus Kristus. Dengan doa Rosario olah batin saya semakin terkelola dan setiap berdoa Rosario saya merasakan ada ketentraman dalam batin. Saya merefleksikan bahwa ketentraman hati itu muncul karena merasakan hadirnya Yesus dan Bunda Maria yang mau menemani perjalanan hidup saya.

 

Saya pernah bertanya-tanya dalam hati, mengapa manik-manik Rosario disusun melingkar? Mengapa tidak dibuat lurus panjang saja tanpa harus disambung melingkar? Entah apapun alasan teologis yang ada, tetapi saya merefleksikannya begini: Untaian manik-manik Rosario yang dibuat melingkar adalah sebuah lambang untaian cinta yang tidak putus. Dengan dibuat melingkar, Rosario mau melambangkan sebuah mahkota rahmat cinta kepada setiap orang yang berdoa Rosario. Kasih Allah dan penyertaan Bunda Maria ada dalam hidup saya sehari-hari. Dengan dibuat melingkar Rosario menandakan bahwa Allah selalu mencurahkan RahmatNya terus-menerus dan Bunda Maria terus setia mendengar dan menyampaikan doa-doa kita. Dengan berdoa Rosario, saya juga menunjukan cinta yang tak putus pada Allah dan Bunda Maria. Setiap butir Rosario membawa saya pada penglihatan spiritual akan Allah dan Bunda Maria.

Akhir-akhir ini memang semakin banyak juga orang Katolik yang memiliki Rosario. Sayangnya beberapa orang menggunakannya sebagai aksesoris belaka. Rosario Suci adalah sebuah sarana doa yang indah, bukan sekedar aksesori tubuh, dan bukan pajangan di rumah. Kini kita memasuki bulan Rosario 2016. Saya mengajak juga untuk kita semua melihat dalam diri sendiri, apakah kita sudah menggunakan Rosario sebagaimana mestinya sebagai sarana doa? Apakah kita sungguh-sungguh melihat cinta Allah dan Bunda Maria yang tak kunjung putus? Dapatkah kita setia mengungkapkan cinta yang tak kunjung putus juga? Selamat memasuki Bulan Rosario Suci, Tuhan Yesus memberkati, Bunda Maria Imakulata melindungi.

(Penulis: Frater Henrikus Prasojo, OMI, Skolastik, Seminari Tinggi OMI "Wisma de Mazenod", Condong Catur, Yogyakarta)

 

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.