Beriman: Menekuni Jalan Yang Telah Dipilih

Persoalan hidup beriman menjadi pergumulan manusia sampai pada akhir hidup. Kita beriman kepada Allah yang tidak kelihatan. Namun justru di sinilah terletak misteri iman tersebut. Apakah kita memiliki cukup kekuatan untuk berkeyakinan pada yang tidak dapat dibuktikan dengan logika atau dengan realitas yang kelihatan? Percaya kepada hal yang kasat mata pastilah mudah, karena kita dapat melihat sendiri secara nyata. Namun mempercayakan diri kepada Tuhan yang tidak nyata membutuhkan keberanian yang besar dari dalam diri kita.

Injil Lukas 17:5-10 menggarisbawahi dua hal. Pertama, apakah artinya beriman itu? Para murid meminta kepada Yesus, “Tuhan, tambahkanlah iman kami”. Tetapi Tuhan menjawab, “Sekiranya kamu memiliki iman sebesar biji sesawi...”. Tentu Yesus tidak bermaksud mengajarkan kepada para rasul bahwa iman yang besar mampu untuk membuat beraneka mukjizat.  Bahwa iman itu adalah daya kekuatan yang besar, kita semua mengakuinya. Akan tetapi warta gembira yang ingin ditawarkan kepada kita adalah bagaimana iman ini bisa sungguh-sungguh kita hidupi dalam perjalanan hidup di dunia ini. Bagi Yesus, beriman berarti menjalani pilihan hidup sampai kepada tujuan akhir dari perjalanan tersebut. Yesus sendiri telah menempuh jalan itu. Meskipun Dia mengalami banyak hal sulit, Yesus tidak berhenti di tengah jalan atau berbelok ke jalan lain yang lebih mudah. Yesus berdoa supaya Bapa mengambil piala penderitaan yang ada di depannya. Namun demikian kalau piala itu tetap harus dia minum, Dia akan meminumnya sampai tuntas. Yesus pun meminumnya. Dia memikul salib sampai di puncak Kalvari dan wafat di sana. Inilah beriman.

Kedua, sikap apa yang penting dalam beriman? Pada bagian kedua Injil, tentang sikap iman seorang hamba dalam pelayanan, Yesus menegaskan bahwa pada akhirnya para murid harus berkata: “Kami ini hanyalah hamba-hamba yang tidak berguna, kami hanya melakukan apa yang harus kami lakukan”. Seorang beriman bukanlah orang yang mencari sukses dengan kekuatannya sendiri. Dia adalah orang yang percaya kepada Penyelenggaraan Ilahi. Dia menjalani seluruh panggilan hidupnya sebagai ungkapan iman. Menekuni panggilan hidup tidak pernah ada selesainya. Kita tidak bisa mengatakan diri sukses hanya karena sudah berkelimpahan kekayaan. Seorang suami yang beriman adalah seorang pria yang setia dengan pilihan hidupnya sebagai suami, dengan segala kesulitan dan tantangannya, dan pada akhirnya mengakui bahwa kesetiaan atau keberhasilan itu berkat anugerah Tuhan, bukan karena usahanya sendiri. Begitu pula menjadi seorang istri, anak, pelayan masyarakat, pelayanan dalam Gereja dan sebagainya. Bagaimana selama ini kita menghayati diri sebagai seorang beriman?

(Penulis:  Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI, Pastor Kepala Paroki Sta. Maria Imakulata, Kalidereres, Jakarta)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.