Beriman: Membiarkan Allah Masuk dalam Kehidupan Kita

Salah satu bentuk ungkapan iman adalah doa. Doa merupakan komunikasi manusia dengan Allah. Doa tidak mudah, karena kita berkomunikasi dengan Tuhan yang tidak kelihatan. Oleh karena itu kadang muncul anggapan bahwa orang yang sering berdoa imannya hebat. Orang yang doanya panjang berarti imannya besar. Kalau orang tidak pernah berdoa, berarti imannya tipis. Tidak jarang pandangan ini membentuk sikap sombong dalam diri orang yang rajin berdoa. Dia merasa lebih tinggi atau lebih baik dan benar dibanding orang yang tidak rajin berdoa.

Yesus menjelaskan sikap ini dengan sebuah kisah tentang dua orang yang pergi berdoa ke Bait Allah. Satu hal yang penting digaris bawahi di sini adalah bahwa Tuhan dipahami sebagai Dia yang dapat didekati. Yang Maha Tinggi tidak tinggal jauh di atas sana, tetapi dekat di bumi sehingga mudah untuk didatangi dan manusia bisa mengutarakan berbagai perasaan, keinginan, persoalan kepada-Nya. Dalam teks bahasa aslinya, kedua orang  Farisi dan Pemungut Cukai sedang menuju ke Bait Allah. Mereka belum masuk ke Bait Allah. Dalam perjalanan menuju Bait Allah itulah mereka merancang doa yang akan mereka sampaikan di hadapan Allah. Mereka masing-masing menyusun kata-kata yang tepat yang akan mereka ucapkan ke hadapan Allah.

 

Si Orang Farisi dengan mudah menemukan semua ide atau gagasan untuk disampaikan kepada Tuhan. Ia siap untuk menceritakan kepada Allah tentang siapa dirinya dan bagaimana perjuangannya untuk menjadi orang beriman dan orang yang baik.  Ia sudah membayangkan bahwa Allah akan sangat bangga dengan dirinya.  Sementara Si Pemungut Cukai mengalami kesulitan untuk menemukan kata yang tepat di hadapan Allah.   Ia merasa diri sebagai orang yang banyak dosanya. Mendongak ke atas pun ia merasa tidak pantas. Dia hanya bisa berkata, “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”  Tidak ada yang dia bisa banggakan seperti orang Farisi tadi.

 

Tetapi Yesus mengatakan bahwa Pemungut Cukai itulah yang doanya benar, sedangkan orang Farisi itu tidak. Mengapa? Orang Farisi menghadap Allah hanya untuk pamer tentang dirinya, kehebatannya sendiri. Sebenarnya dia tidak memerlukan Allah. Kedatangannya ke Bait Allah sekedar menjalankan formalitas saja, tetapi hatinya tidak terbuka kepada campur tangan Allah. Dia sibuk dengan dirinya sendiri. Doanya mandul, tidak menghasilkan apa-apa. Sementara itu si Pemungut Cukai menyadari bahwa dirinya bukan apa-apa di hadapan Allah. Dia bahkan merasa diri sebagai pendosa, orang lemah. Dia membiarkan Allah berbelaskasih dan mengampuni dirinya. Doa ini dibenarkan karena dia membiarkan Allah terlibat dan masuk dalam hidupnya. Bagaimana selama ini saya berdoa, apakah saya membiarkan Allah masuk ke dalam hidup saya?

(Penulis:  Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI, Pastor Kepala Paroki Sta. Maria Imakulata, Kalidereres, Jakarta)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.