Bukan Allah Orang Mati, Melainkan Allah Orang Hiidup

Setiap tanggal 2 November, Gereja memperingati hari arwah orang beriman. Menurut tradisi Gereja, kita dapat memohonkan indulgensi atau pemulihan penuh bagi saudara kita yang sudah meninggal. Syaratnya adalah bahwa dari tgl. 2 – 8 November kita mengunjungi makam saudara kita itu dan atau mendoakannya secara khusus setiap hari, sangat dianjurkan pula kalau disertai dengan mengikuti Perayaan Ekaristi.  Gereja berkeyakinan bahwa doa kita yang tulus bagi saudara yang sudah meninggal akan menyucikan dia dan Allah Yang Maharahim akan mengampuni dosanya serta memuliakannya bersama para kudus lainnya.  Keyakinan ini tentu saja dilandasi oleh kepercayaan akan Allah yang mengasihi setiap orang dan menghendaki agar kita semua bahagia, baik di dunia maupun di akhirat.

Yesus dicobai oleh orang-orang Sadhuki yang tidak percaya akan adanya kebangkitan. Bagi orang Sadhuki yang adalah bagian dari orang Yahudi, orang akan masuk ke Syeol setelah mengakiri kehidupannya di dunia ini. Di dalam Syeol tidak akan ada apa-apa lagi, selain kegelapan dan kemandegan. Terhadap pandangan yang seperti ini, banyak orang yang tidak percaya. Mereka bertanya, apakah semua hal baik yang kita perjuangkan di dunia ini tidak ada dampaknya bagi kehidupan setelah kematian? Apa gunanya kita bersusah payah hidup jujur dan benar kalau hanya ada kegelapan?

Jawaban Yesus menekankan dua unsur. Pertama, perkawinan adalah lembaga duniawi yang tidak ada urusannya dengan kehidupan setelah kematian. Pria dan wanita yang menikah, membangun keluarga, saling membantu agar dapat mengalami kebahagiaan hidup baik di dunia ini maupun di surga nanti. Tetapi hal kehidupan setelah kematian tidak ditentukan oleh ikatan sebagai suami dan istri. Bisa saja istrinya masuk surga dan suaminya tidak atau sebaliknya. Itu semua menjadi hak Tuhan saja. Kedua, Yesus menegaskan bahwa Tuhan Allah adalah Allah orang hidup dan bukan Allah orang mati. Di hadapan Allah, semua orang hidup. Allah memanggil manusia untuk bersatu denganNya dalam keabadian. Oleh karena itu adalah tidak mungkin kalau semua manusia yang bersatu dengan Allah dalam keadaan mati. Tidak ada gunanya. Sama saja dengan keyakinan orang Sadhuki bahwa setelah kematian orang masuk ke dunia Syeol. Mereka tidak mati, tetapi yang ada hanyalah kegelapan. Apa gunanya kalau hidup hanya ada dalam situasi kegelapan? Kita semua yakin Allah adalah Sang Terang. Dalam Dia ada kehidupan dan semua orang yang bersatu dengan Dia akan hidup selamanya.

 

Adakah orang yang belum bersatu dengan Allah setelah kematiannya? Ada. Orang-orang ini atau jiwa-jiwa ini membutuhkan doa kita. Mereka masih belum pantas bersatu dengan Allah karena adanya dosa yang tersisa. Mereka tidak mampu lagi kembali ke dunia untuk memperbaiki kehidupannya. Mereka membutuhkan doa-doa kita yang masih hidup di dunia. Doa-doa kita bagaikan silih yang memurnikan, membersihkan, menyucikan saudara kita yang sudah berpulang.

 

(Penulis:  Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI, Kepala Paroki Sta. Maria Imakulata, Kalideres, Jakarta)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.