"Aborsi, Ah itu BIASA...!!!"

Pengantar

Aborsi bukanlah masalah yang baru. Ia sudah ada sejak zaman Purba, sejak zaman kekaisaran China, yakni zaman Kaisar Shan Nung, yang hidup sekitar tahun 2000 SM. Yang membedakan dengan sekarang ini adalah kadarnya yang semakin intens, sejalan dengan perkembangan teknologi yang semakin memudahkan pelaksanaan aborsi dengan risiko kematian ibu yang semakin kecil. Karena itu, semakin banyak orang tertarik untuk melakukannya apalagi karena tuntutan hidup (sosial, politik, ekonomi) dirasakan semakin besar dan berat. Apakah anda termasuk di dalamnya?

Aborsi dan Eks-Komunikasi

Secara medis, “aborsi” dimengerti sebagai penghentian dan pengeluaran hasil kehamilan dari rahim sebelum janin hidup di luar kandungan. Ada aborsi langsung dan tak langsung. Aborsi langsung ialah tindakan (intervensi medis) yang tujuannya secara langsung ingin membunuh janin yang ada di dalam rahim sang ibu. Sedangkan aborsi tak langsung adalah tindakan (intervensi medis) yang mengakibatkan aborsi, meskipun aborsinya sendiri tidak dimaksudkan dan bukan menjadi tujuan dalam tindakan itu.

Berkaitan dengan masalah aborsi ini, Gereja menyatakan bahwa orang katolik, yang melakukan dan mendukung aborsi langsung dan berhasil, secara otomatis mendapatkan hukuman eks-komunikasi. Sejak saat itu, dia dikeluarkan dari Gereja Katolik. Ia bukan lagi sebagai anggota Gereja Katolik. Karena itu, dia tidak boleh lagi menerima sakramen-sakramen Gereja, apalagi menerima Komuni Kudus. Mengapa Gereja bersikap sedemikian keras untuk menentang aborsi dan tetap mempertahankan hidup manusia?

Pandangan dan Keyakinan Gereja Tentang Hidup Manusia

 

Jawaban mengapa Gereja begitu kuat dan keras menentang aborsi dan tetap menjaga hidup manusia terletak pada cara pandang Gereja yang komprehensif dan holistik terhadap hidup manusia. Apa dan bagaimana pandangan dan keyakinan Gereja tentang hidup manusia?

a. Hak untuk hidup sebagai hak asasi paling dasar

Hak asasi manusia adalah hak yang ada karena manusia adalah manusia. Ia ada bersama dengan adanya manusia dan berakhir dengan berakhirnya manusia. Oleh karena itu, hak asasi ini dimiliki oleh orang yang hidup. Maka hak untuk hidup menjadi syarat utama dan mendasar bagi hak-hak asasi manusia lainnya. Hak untuk hidup adalah kondisi yang memungkinkan hak-hak lainnya untuk ada dan mungkin. Sejak proses pembuahanlah, Gereja meyakini dan mengajarkan bahwa sejak saat itulah janin mempunyai hak untuk hidup yang harus dihormati dan dijaga oleh manusia lainnya.

b. Nilai intrinsik hidup manusia

Nilai intrinsik berarti bahwa sesuatu itu diinginkan oleh karena dirinya sendiri, dinilai berdasarkan nilai intern dirinya sendiri dan nilai itu ada sejak keberadaan objek itu dan berakhir dengan berakhirnya objek tersebut. Nilai ini ada bukan karena diberikan oleh orang lain, ada sejauh objeknya ada. Karena itu manusia mempunyai nilai (bermartabat) bukan karena diberi

nilai oleh seseorang atau sebuah instansi (negara, agama, masyarakat), tetapi manusia bernilai karena dia adalah manusia. Nilai intrinsik yang menyatu dengan diri manusia ini bersifat unik,

tiada duanya. Nilai intrinsik nan unik inilah yang menjadi dasar mengapa kita harus melindungi hidup manusia, terlebih yang lemah. Janin adalah manusia yang lemah. Janin pasti tidak dapat membela diri. Karena itu dia harus dijaga dan dipelihara.

c. Manusia di hadapan Allah

Salah satu dasar lainnya bahwa hidup manusia harus dijaga dan dipertahankan karena manusia adalah Puncak Karya Penciptaan Allah. Tuhan bersabda, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita…….Maka Allah menciptakan manusia menurut gambar-Nya, menurut gambar Allah diciptakan-Nya dia; laki-laki dan perempuan diciptakanNya mereka (Kej 1:25-27)”. Status sebagai gambar dan wajah Allah ini bukan hanya ketika manusia diciptakan, namun sepanjang hidup manusia. Seluruh hidup manusia membawaserta cap itu secara permanen dan intrinsik. Oleh karena itu, tak seorang pun tidak mempunyai hak untuk mengakhiri hidupnya atau hidup orang lain selain Allah sendiri yang menciptakannya.

d. Nilai kesucian hidup manusia

Istilah kesucian adalah istilah yang mau menunjukkan bahwa sesuatu itu ada dalam wilayah Ilahi, dan manusia tidak boleh melanggar atau menghinanya.  Maka, dalam pengertian ini, kesucian hidup manusia berarti hidup manusia itu ada dan berada dalam lingkup Ilahi, oleh karena itu manusia lainnya tidak bisa melanggar atau melecehkannya.  Asal usul konsep ini sangat jelas, semua agama mengajarkan bahwa hidup manusia mempunyai asal-usul dari Allah.  Dia berasal dari Allah, dan dengan kuasa Allah, dia akan kembali kepadaNya.  Hal ini ditegaskan dalam Perjanjian Baru, “Segala sesuatu dijadikan oleh Dia dan tanpa Dia tidak ada suatu pun yang telah jadi dari segala yang telah dijadikan (Yoh 1:3)”.  Karena berasal dari Allah dan diciptakan oleh Allah, maka manusia itu baik adanya. Hidup manusia adalah anugerah Allah dan manusia menerimanya dengan penuh rasa syukur.

Pertobatan dan Rekonsiliasi

Siapa pun juga pelaku aborsi telah melakukan dosa yang sangat berat. Dosa itu membuahkan hukuman. Eks-komunikasi adalah hukuman yang secara otomatis dijatuhkan oleh Gereja pada setiap orang katolik yang telah melakukan dan mendukung aborsi langsung dan berhasil. Sejak saat itulah, dia dikeluarkan dari Gereja Katolik. Apakah masih ada kemungkinan dia bergabung kembali dengan Gereja Katolik yang Kudus? Sebagaimana Yesus mencari domba yang hilang dan membawanya kembali, maka Gereja juga dapat menerima kembali orang-orang yang terkena hukuman eks-komunikasi. Syaratnya apa dan caranya bagaimana? Syarat mutlak adalah pertobatan sejati dan rekonsiliasi.  Orang itu harus benar-benar menyesali dosanya karena telah membunuh dengan amat kejam janin, yang pasti lemah, dan tak mampu membela diri serta tak bersalah itu. Ia pun harus mengupayakan dengan sekuat tenaga untuk tidak melakukannya lagi. Kalau ada kepastian seperti itu, Gereja, melalui sakramen tobat, dapat melepaskannya dari hukuman eks-komunikasi, dan menerima kembali sebagai umat Allah dalam pangkuan Gereja Katolik. Namun demikian, janganlah hal ini dianggap remeh, gampang dan enteng. Karena tanpa pertobatan sejati, anda tak mungkin berekonsiliasi dengan diri anda sendiri, janin anda, sesama anda, Gereja anda dan Tuhan Anda. Kita diciptakan tidak untuk menjadi pembunuh, kita ada untuk menjaga, memelihara dan melestarikan kehidupan. Saat kita memenuhi tugas panggilan hidup kita itu, nama Tuhan semakin dimuliakan. “Ad Maiorem Dei Gloriam”.

(Penulis:  Pastor Ignatius Wasono Putro, OMI, seperti yang terbit di Majalah Sabitah, Media Komunikasi Umat Paroki Trinitas, Cengkareng, Edisi 23, September-Oktober 2006)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.