DUTA DAMAI

Damai di bumi, damai di hati – Ungkapan ini kerap diserukan dalam menyambut Natal dan Tahun Baru. Dihiasi dengan dekorasi yang semarak, kidung yang indah dan pesta yang meriah, nuansa kedamaian itu begitu terasa. Bertolak dari nyanyian pujian para malaikat: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damai sejahtera di bumi di antara manusia yang berkenan kepadaNya.” (Luk 2:14), kini nyanyian tersebut menjadi pujian kita juga.

Mengapa kedamaian masih terus diserukan? Dalam permenungan saya, ada 3 alasan yang terungkap:

 

Keprihatinan – Situasi dunia saat ini dilanda duka dan kecemasan yang mengusik kedamaian. Terkadang juga muncul kecurigaan dan kewaspadaan berlebihan, hingga tidak jelas siapa kawan, siapa lawan.  Rentan gesekan dan rawan perpecahan merasuki banyak segi kehidupan.

 

Kerinduan dan harapan – Situasi yang memprihatinkan membangkitkan kerinduan akan keharmonisan dan harapan akan datangnya pembaruan. Banyak orang merindukan suasana aman, nyaman, damai, tenteram, subur, makmur, bahagia dan sejahtera. Ini bukan khayalan, tetapi impian yang harus diwujudkan.

Tindakan – Untuk memenuhi kerinduan tersebut, pribadi-pribadi yang mempunyai kehendak baik bekerja bersama untuk memulihkan persahabatan dan persaudaraan, menggalang persatuan dan keharmonisan untuk hidup rukun dan damai. Pertobatan dan pengampunan menjadi jalan merintis kedamaian.

Komunitas Novisiat OMI Indonesia, melalui hidup dan karya baktinya, ingin ambil bagian dalam membawa kedamaian itu. Bersama kami, mari menjadi duta damai.

Selamat Natal 2016 dan Tahun Baru 2017.

(Penulis:  Pastor Antonius Sussanto, OMI, Magister Novis, Novisiat OMI "Beaton Joseph Gerard", Blotan, Yogyakarta)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.