Tiga Persembahan: Emas, Kemenyan, dan Mur

Kita merayakan Hari Raya Penampakan Tuhan. Tuhan menyatakan diriNya kepada manusia yang diwakili oleh tiga orang Majus atau tiga sarjana dari Timur. Mereka ini membaca tanda-tanda alam dalam menemukan kehadiran Tuhan.  Mereka mengikuti gerak Bintang yang menuntun mereka sampai ke tempat seorang bayi dilahirkan. Kepada bayi kecil ini mereka mempersembahkan tiga persembahan: Emas, Kemenyan dan Mur. Tiga persembahan ini mempunyai arti yang sangat simbolis.

 

Bagi orang kuno, emas adalah rajanya logam. Emas menjadi persembahan yang paling berharga untuk seorang Raja. Bagi orang Kristiani, emas menjadi tanda persembahan untuk Kristus Raja. Menurut Paulus, Allah Bapa telah membangkitkan Kristus dari alam maut dan mendudukanNya di sebelah kananNya. Kristus memerintah di atas segala-galanya... Allah Bapa telah meletakan segala sesuatunya di bawah kaki Kristus (Efesus 1:20-22). Kemenyan digunakan sejak zaman kuno sebagai sarana kebaktian.  Asap dupa membubung sampai ke surga, menyenangkan hati para dewa. Umat Kristiani menafsirkan persembahan kemenyan sebagai lambang keilahian Kristus. Tentang keilahian Kristus ini, penulis surat Ibrani mengatakan, “Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar wujud Allah dan penopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan” (Ibr. 1:3).  Mur digunakan oleh orang-orang zaman dulu untuk mempersiapkan pemakaman jenazah, sebelum dikubur. Kita ingat dalam Injil para wanita pergi ke kubur dengan membawa rempah-rempah untuk membaluri Yesus.  Orang Kristiani menafsirkan persembahan Mur sebagai simbol kemanusiaan Yesus.  Paulus dalam surat kepada umat di Filipi mengatakan, “Yesus Kristus yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan-Nya dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri danmengambil rupa seorang hamba dan menjadi sama dengan manusia.” (Flp. 1:6-8).

 

Pesta hari ini mengajak kita merenungkan bahwa Tuhan ingin menyapa semua bangsa dan bukan hanya bangsa tertentu saja. Tuhan hadir sebagai Tuhan umat manusia, siapa pun dia dan di mana pun dia berada. Persembahan para Majus menegaskan bahwa cara Tuhan hadir di tengah manusia untuk memulihkan hubungan Surga dan Dunia, Langit dan Bumi, Tuhan dan Manusia. Tuhan tidak ingin manusia terpisah dariNya. Oleh karena itu Dia sendiri datang dan tinggal di tengah kehidupan umat manusia supaya dapat memimpin dan membawa manusia bersatu denganNya, baik di dunia ini maupun di surga. Yesus hadir untuk membawa kerajaan Allah di mana semua tatanan baru kehidupan akan membawa manusia sampai pada kemuliaan abadi. Selamat pesta!

(Penulis:  Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI, Kepala Paroki Sta. Maria Imakulata, Kalideres, Jakarta)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.