Lihatlah Anak Domba Allah

Gelar Anak Allah yang diberikan pada Yesus seringkali menimbulkan banyak pertanyaan dangkal. Ada orang yang mempertanyakan: “Bagaimana mungkin Allah mempunyai anak?; Siapakah yang menjadi istri Allah? Padahal Allah adalah Pencipta langit dan bumi serta segala isinya; Siapa yang menjadi bidannya kalau Allah melahirkan anak?” Pertanyaan-pertanyaan seperti itu dilandasi oleh pemahaman yang kerdil dan tidak memahami latar belakang tafsir Kitab Suci. Allah dibayangkan seperti halnya manusia di dunia ini yang lahir, besar, tua dan mati. Kita bisa menjawab, “Bagi Allah tidak ada yang mustahil. Dia bisa melakukan apa pun yang dikehendaki-Nya.” Namun jawaban seperti ini juga tidak menjelaskan apa-apa.

Dalam dunia orang Ibrani, istilah “Anak Allah” tidak diartikan secara harafiah sebagai “anak kandung” Allah. “Anak Allah” adalah gelar yang diberikan kepada seorang manusia yang mempunyai kedekatan hubungan dengan yang Ilahi. Relasinya dipahami sebagai hubungan dekat antara seorang “anak” dengan “bapaknya”. Dalam hubungan itu terdapat kedekatan, keakraban, perhatian besar, saling mempedulikan dan memperhatikan. Relasi seperti ini telah tumbuh sejak kecil, dari saat si anak mulai ada.  Maka gelar “Anak Allah” diberikan kepada manusia yang amat dekat dengan Allah sendiri, akrab sejak semula dengan Allah.  Dalam diri “Anak Allah” ini, Yang Mahakuasa dialami sebagai Tuhan yang dekat dengan manusia.

 

Yohanes Pembaptis mengatakan, “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Roh itu tinggal di atas-Nya.” Yohanes Pembaptis memberi kesaksian tentang Yesus yang menerima kehadiran Roh secara menetap. Kehadiran Roh yang menetap inilah yang menjadikan Yesus begitu dekat dengan Yang Ilahi. Roh yang datang dari Yang Ilahi itulah yang mengumumkan Yesus sebagai “Anak Allah”. Dalam ketiga Injil diwartakan adanya suara dari Surga yang terdengar saat Yesus dibaptis, “Inilah Putera-Ku yang terkasih, kepada-Nya-lah Aku berkenan.” Langit terbuka dan Roh Allah turun ke atas Yesus. Dia-lah Anak Yang Terkasih dan Yang Berkenan pada Yang Ilahi.

 

Kehadiran Anak Allah telah menjadi lembaran baru dalam sejarah kemanusiaan. Manusia diberi kemungkinan untuk diperbaharui, diciptakan kembali, disempurnakan dari segala kelemahan dan ketidak-berdayaan diri. Manusia memang tetap menjadi mahkluk yang gampang terluka dan tidak berdaya. Namun Tuhan tidak pernah meninggalkannya atau melupakannya. Allah ikut bergumul dengan keterbatasan dan kerapuhan manusia. Manusia hanya perlu menerima kerapuhannya sebagai kenyataan hidup, tak terhindarkan, fakta yang harus diterima dengan rela hati. Kehadiran Anak Allah membuat kita  mampu menangkis kuasa-kuasa kejahatan yang akan menjauhkan manusia dari yang Ilahi. Marilah kita terus berusaha menyelaraskan hidup kita dengan kehidupan Sang Anak Domba Allah.

(Penulis:  Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI, Pastor Kepala, Gereja Santa Maria Imakulata, Paroki Kalideres, Jakarta Barat)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.