Berbahagialah

Bacaan Injil Matius 5:1-12a dikutip dari permulaan pengajaran Yesus di bukit. Kutipan ini biasa disebut Sabda Bahagia, karena selalu diawali dengan kata “Berbahagialah...”.  Banyak dari kita yang dibuat bingung dengan Sabda Bahagia ini karena kalau diperhatikan sekilas, gambarannya sangat kontras dengan pengalaman kehidupan kita sehari-hari. Orang miskin disebut bahagia, padahal kita selalu mengharapkan menjadi orang kaya. Orang berduka disebut bahagia, sementara kita memandang bahwa yang berbahagia adalah kalau kita sedang tidak berduka. Apakah memang Yesus menghendaki diri kita mengalami semua yang tidak lazim menurut pikiran kita itu atau kita yang salah mengerti?

 

Ada sembilan butir Sabda Bahagia. Sabda Bahagia ini diajarkan oleh Yesus di atas bukit. Orang-orang pada zaman itu langsung tahu bahwa Yesus menyamakan diriNya dengan Musa yang naik ke atas gunung yang tinggi dan bertemu langsung dengan Tuhan. Yang membedakan adalah Musa sendirian naik ke atas gunung tinggi dan turun kembali ke tengah umat dengan membawa Sepuluh Perintah Allah. Allah tetap tak terjangkau oleh manusia, hanya orang khusus seperti Musa dapat berhadapan dengan Allah. Manusia tidak mungkin. Sedangkan Yesus naik ke bukit. Masih ada unsur tinggi, tetapi bukit mudah untuk didaki. Yang Ilahi turun mendekati manusia sehingga manusia mudah untuk menjangkauNya. Kehadiran Allah  dalam pribadi Yesus membuat Allah bukan lagi Allah yang menakutkan dan mengancam seperti pada zaman Musa, melainkan Allah yang ingin dikenal dan mengenal umatNya dari dekat. Orang disebut berbahagia karena dia menjadikan Tuhan sebagai tumpuan hidupnya. Yang disebut berbahagia adalah :

 

  1. Orang yang miskin di hadapan Allah, orang yang hidup bersahaja, sederhana. Tidak berarti dia miskin materi, tetapi orang yang tidak mengandalkan hidupnya pada kekuatan materi atau uang semata.
  2. Orang yang berdukacita. Tidak ada orang yang tanpa masalah atau kesulitan di dunia ini. Apakah kesulitan membuat kita jauh dari Allah dan malah kemudian bersikap kasar, hantam kromo, mengamuk? Hanya orang yang tetap percaya serta berani dekat dengan Allah tidak berpihak kepada kekerasan atau balas dendam, yang akan berbahagia. Dia adalah juga orang yang lemah lembut hatinya.
  3. Orang yang haus dan lapar akan kebenaran serta suci hatinya. Ini adalah orang yang mampu berpikir jernih, berbudi bening, berhati tenang. Orang seperti ini tidak gampang goyah atau emosional, mudah dipengaruhi orang lain atau keinginan-keinginan yang menjauhkannya dari Tuhan.
  4. Orang yang murah hatinya dan membawa damai. Kemurahan hati dan damai adalah sifat Tuhan sendiri. Dengan membangun kehidupan yang penuh kemurahan hati dan mampu berdamai dengan semua orang, dunia akan menjadi tempat yang membahagiakan dan mendatangkan kebaikan.  Orang akan berbahagia kalau dapat menghadirkan Tuhan yang penuh kemurahan hati dan damai.
  5. Orang yang dianiaya karena kebenaran. Tidak disangkal bahwa ketika orang menghayati kerangka Sabda Bahagia ini, ada saja yang memusuhi dan terganggu hidupnya. Kekuatan-kekuatan kegelapan tidak akan pernah membiarkan manusia mengalami kebahagiaan. Mereka suka manusia berada dalam keterpurukan dan ketidak-berdayaan dalam kehidupan di dunia ini.

Marilah kita menjadikan Sabda Bahagia ini sebagai prasasti hidup Kristiani kita menuju kebahagiaan sejati.

(Penulis:  Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI, Pastor Kepala, Gereja Santa Maria Imakulata, Paroki Kalideres, Jakarta)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.