WajahNya Bercahaya Seperti Matahari

Bacaan Kitab Suci Minggu Prapaskah II

Bacaan Pertama: Kejadian 12:1-4a

Mazmur Antar Bacaan: Mazmur 33:4-5,18-20,22

Bacaan Kedua: 2 Timotius 1:8b-10

Bacaan Injil: Matius 17:1-9

 

Pernahkah Anda memandang Matahari? Bagaimana rasa mata kita? Menurut Wikipedia, diameter Matahari sepanjang 1.392.684 kilometer atau 109 kali diameter bumi. Suhu permukaan Matahari sebesar 5.505 derajat Celcius. Jarak antara Bumi dengan Matahari adalah sekitar 149,6 juta kilometer. Dari data itu jelas bahwa Matahari adalah benda angkasa yang sangat besar, sangat panas dan sangat jauh dari bumi. Meskipun sangat jauh, ternyata kita tidak mampu menatapnya langsung. Sinar dan panasnya masih sangat kuat dan menyilaukan mata. Kita tidak mampu memandang tanpa menggunakan lensa khusus atau pelindung mata. Betapa dahsyatnya sinar Matahari.

 

Bacaan Injil Minggu Prapaskah kedua ini mengisahkan pengalaman para murid bersama Yesus di atas Gunung Tabor. Pada saat Yesus berdoa, wajah-Nya bercahaya seperti Matahari. Tentu saja ungkapan ini merupakan kiasan dari pengalaman para Rasul bersama Yesus. Mereka menggambarkan bahwa sesudah berdoa, Yesus memancarkan kehadiran Ilahi yang sangat menyilaukan mereka. Yesus memiliki kedekatan hubungan dengan yang Ilahi, sehingga wajahnya juga memancarkan kehadiranNya di tengah umat manusia. Hal ini sama terjadi ketika kita memandang seorang pribadi yang berwibawa atau memiliki hidup yang bermutu. Ada rasa hormat dan enggan untuk langsung menatap wajahnya, seolah kita tidak sebanding dengannya. Inilah pengalaman para murid ketika mereka diajak Yesus berdoa di Gunung Tabor. Mereka menemukan bahwa dalam diri Yesus, kewibawaan Ilahi atau Roh Ilahi menyatakan dirinya. Dalam kuasa Roh Ilahi itulah Yesus mengarahkan pandangannya ke Yerusalem, ke dalam penderitaan Salib dan kebangkitan.

 

Bagaimana dengan kita yang di dunia sekarang ini? Kecemerlangan wajah Yesus yang seperti Matahari itu tidak mungkin kita pancarkan begitu saja. Orang akan menjadi silau dan malah tidak akan mampu melihatnya. Kita perlu memancarkan wajah Yesus melalui kehidupan kita sehari-hari yang serba biasa. Bukankah Yesus pernah bersabda, “Kamu adalah terang dunia”. Inilah identitas diri kita. Kita dipanggil untuk membawa terang Yesus kepada sesama melalui kehidupan kita sehari-hari tanpa membuat mereka silau. Daya Ilahi yang dibawa oleh Yesus kita hadirkan dalam kehidupan manusiawi kita, dengan cara yang dapat dimengerti dan dipahami oleh manusia. Itulah sebabnya setelah mendapatkan pengalaman rohani yang mendalam bersama Yesus, para murid diajak turun dari gunung. Mereka diajak kembali ke dalam kehidupan nyata, kehidupan yang hakiki, kehidupan yang biasa.

Apakah kehidupan kita sehari-hari telah memancarkan terang Kristus kepada orang-orang di sekitar kita? Adakah kita membuat orang lain silau saat memandang kita? Semoga hidup sehari-hari kita selalu berkenan kepada Allah.

(Penulis:  Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI, Pastor Kepala, Gereja Santa Maria Imakulata, Paroki Kalideres, Jakarta)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.