Kekerasan Hati vs Kerendahan Hati

Kita memasuki Pekan Suci dengan merayakan Minggu Palma atau Minggu Sengsara. Pengalaman penderitaan atau ketidakberdayaan adalah pengalaman manusia, dapat dialami oleh siapa saja. Sebagai manusia dengan berbagai kelemahannya, kita terus menerus bergumul dalam tarikan dua kutub: kutub kebaikan dan kutub kejahatan. Keduanya berusaha menarik manusia untuk pergi ke satu kutub dan meninggalkan yang lain. Ketika kutub kejahatan menang, kita sudah tahu bahwa buah atau hasilnya adalah kesusahan dan ketidak-bahagiaan. Ketika kutub kebaikan menang, buahnya adalah damai dan sukacita yang melimpah. Namun kalau tidak kuat dalam iman, kita cenderung tertarik ke kutub kejahatan karena kelihatan lebih mudah, lebih sederhana, lebih menyenangkan, lebih menarik.

Peristiwa perjalanan Yesus ke Yerusalem dengan mengendarai keledai menampilkan banyak simbol:

Pertama, keledai adalah kuda beban. Keledai bukan untuk berperang. Orang yang mengendarai keledai tidak dapat beradu kecepatan. Keledai adalah binatang yang sulit dikendalikan. Dengan mengendarai keledai, Yesus tampil bukan sebagai ancaman bagi orang lain. Yesus tidak sedang mau berperang melawan pasukan bersenjata. Sebaliknya, Yesus tampil sebagai seorang yang rendah hati. Dalam situasi sulit, Yesus tetap dapat mengendalikan tungganganNya. Yesus tampil sebagai Penguasa, sebagai Raja, tetapi cara Dia memerintah atau menampilkan diri tidak dengan mengancam melainkan dengan kerendahan hati dan kelemahlembutan.

Kedua, orang banyak menggelar pakaiannya di jalan. Pakaian adalah identitas seseorang. Dengan menggelar pakaian mereka di jalan, orang banyak ingin menjadikan Yesus sebagai yang menguasai hidup mereka. Mereka menanggalkan identitas mereka supaya mendapatkan identitas baru dalam Yesus.

Ketiga, pakaian yang digelar itu juga melindungi Yesus dari tanah yang kotor. Tanah dalam Bahasa Ibrani adalah “adama”.   Tanah adalah simbol kekotoran atau kedosaan. Manusia pertama diciptakan dari tanah dan penuh dengan dosa. Yesus adalah Adam Baru yang tidak bersentuhan dengan dosa, tidak bersentuhan dengan tanah.

Pada Minggu Palma ini kita menyambut Yesus sebagai Raja yang rendah hati, lemah lembut, penuh kasih. Dia hanya meminta kita untuk mempercayakan diri kepada-Nya, menyerahkan seluruh kelemahan dan kekotoran kita kepada belas kasih-Nya.   Dia yang tidak berdosa telah membiarkan diriNya diremukkan oleh kekuatan kejahatan: kebencian, kemarahan, balas dendam, pengkhianatan, ketidak-maluan, tipu muslihat dan sebagainya. Wafat Yesus secara manusiawi adalah kekalahan dan ketidakberdayaan melawan kuasa jahat dan kekerasan hati. Namun secara rohani, wafat Yesus adalah sikap kerendahan hati dari Allah yang memutus rantai balas-membalas dan menciptakan kedamaian sejati.

(Penulis: Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI, Pastor Kepala, Gereja Santa Maria Imakulata, Paroki Kalideres, Jakarta Barat)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.