Damai Sejahtera Bagi Kamu

Kisah Paskah penuh dengan misteri. Injil pada Minggu kedua Paskah ini mengajak kita berjumpa dengan para murid yang sedang mengunci diri dalam sebuah rumah. Mereka semua berada dalam situasi yang putus asa dan takut. Kematian Sang Guru sungguh membuat berantakan semua harapan tentang kebahagiaan hidup. Semua yang indah yang pernah disampaikan Sang Guru kepada mereka seperti hilang musnah tidak berbekas. Yang ada sekarang adalah ketidak-berdayaan seperti sekumpulan anak ayam yang kehilangan induknya. Namun demikian mereka juga bertanya-tanya, apakah hanya sampai di sini saja? Apakah tidak ada kelanjutan dari semua yang telah dimulai dengan begitu meyakinkan? Apakah akhirnya kita hanya bertemu dengan jalan buntu, tanpa arah yang jelas lagi?

 

Dalam situasi seperti itulah Yesus hadir dan menyampaikan salam: “Damai Sejahtera bagi kamu.” Jelas bahwa para murid sedang tidak dalam situasi damai. Sapaan Yesus yang membawa damai sungguh sangat meneguhkan dan memberikan daya kekuatan. Peneguhan macam apa? Para murid berjumpa dengan Yesus yang menunjukkan bekas-bekas luka penyaliban. Yesus yang wafat di salib itulah yang sekarang bangkit dan berada di tengah mereka. Yesus yang dulu dan yang sekarang adalah Yesus yang sama. Artinya, Yang Maha Tinggi telah bertindak melalui Yesus yang membuat Tomas mampu melihat dan percaya dengan berkata: Tuhanku dan Allahku. Melihat Yesus berarti melihat Allah Yang Maha Tinggi yang mengutus Yesus ke dunia ini.  Inilah wujud kerahiman Allah yang paling dalam bagi manusia. Cara Allah ini sangat tidak lazim dan tidak mudah dipahami oleh manusia. Dia yang bangkit mempercayakan diri kepada manusia untuk dikenali dalam kehidupan mereka.

 

Dalam penampakan itu Yesus menghembusi para murid dengan Roh Kudus: “Terimalah Roh Kudus.” Kita jadi ingat ketika Allah menciptakan manusia pertama, Dia menghembuskan nafas-Nya kepada manusia itu sehingga hidup. Roh Kudus adalah daya hidup yang berasal dari Allah sendiri. Melalui Yesus, Allah menghembuskan Roh Kudus-Nya supaya manusia diciptakan kembali secara baru. Martabat kemanusiaan yang sesungguhnya telah dipulihkan oleh Yesus yang bangkit, maka sekarang manusia dimerdekakan, diperbaharui, dipulihkan statusnya seperti semula ketika diciptakan. Manusia memulai lagi kehidupannya dalam semangat Yesus yang menampakkan kerahiman Allah Bapa. Manusia diundang untuk menghidupi semangat Yesus, berbagi dengan sesama dalam membangun peradaban Kerajaan Allah.

Renungan kita adalah apakah kebangkitan ini telah menumbuhkan keadaban baru dalam kehidupan kita yang membuat kita semakin mampu hidup adil pada sesama dan lingkungan, sehingga keberadaban kemanusiaan kita juga semakin cemerlang?

(Penulis:  Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI, Pastor Kepala, Gereja Santa Maria Imakulata, Paroki Kalideres, Jakarta Barat)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.