Mengalah Bukan Kalah

Liberté, Égalité, Fraternité”; tiga kata bak mantra yang menjadi amunisi perjuangan panjang rakyat Perancis untuk bisa hidup sejajar satu dengan yang lain sebagai sesama warga negara. Kaum revolusioner mengobarkan perang besar melawan diskriminasi dan ketimpangan dalam hidup bernegara. Mereka yakin bahwa manusia harus sederajat, tidak boleh ada pengistimewaan atau pembedaan berdasarkan kelas, jabatan, kekayaan, atau garis keturunan. Manusia lahir dan hidup sedejarat dengan yang lain; semua memiliki hak dan kewajiban yang sama, tidak ada yang diistimewakan, dan tidak ada yang memperkerjakan yang lain demi kelas yang lebih tinggi. Singkatnya, semua adalah saudara yang sederajat dan merdeka.

Revolusi demi revolusi terjadi untuk makin mempertajam kesetaraan dan kebebasan.  Satu yang menjadi puncak revolusi kebebasan dan kesetaraan adalah ungkapan “Il est interdit d’interdire” - sebuah slogan yang awalnya diluncurkan oleh Jean Yanne (1933-2003).  Slogan yang berarti “Dilarang untuk Melarang” ini begitu cepat menyebar di kalangan masyarakat Perancis dan Eropa di penghujung era enam puluhan. Bisa dibayangkan apa yang ada diimpikan dengan slogan itu.  Liberté (kebebasan) dan Egalité (kesetaraan) yang absolut, tanpa batas! Itulah yang diinginkan.  Itulah yang didambakan.  Aku menjadi nomer satu, Ego menjadi prioritas. Ungkapan “Perbuatlah apa yang dikatakan hatimu” seperti yang diucapkan almarhum Puteri Diana dipelesetkan menjadi “perbuatlah apa saja yang kamu inginkan.”   Ukurannya adalah “yang diperbuat adalah yang seturut hatiku, kemauanku dan yang kupikir baik untukku.”  Ego menjadi panutan dan tidak jarang diyakini sebagai sumber kebenaran.

Hal yang mirip sempat terpikir pula oleh Pahlawan Emansipasi Wanita Indonesia, Raden Ajeng Kartini.  Berkat bersekolah di ELS (Europese Lagere School), pada usia remaja ia telah mahir berbahasa Belanda dan telah bersurat-menyurat dengan teman-temannya di Negeri Belanda. Kepada Nyonya Rosa Abendanon, salah satu teman penanya, ia mengungkapkan keluhan dan kritiknya terhadap budaya Jawa yang mengekang kaum perempuan. Ia ingin seperti para wanita Barat yang memiliki kebebasan untuk mengungkapkan dirinya, untuk belajar atau menentukan nasibnya, bukan dipingit dan kemudian dikawinkan dengan pria yang tidak dikenalnya.  Ia ingin pula menuntut ilmu yang tinggi bukan hanya sampai Betawi (Jakarta) namun sampai Belanda.  Semua niatnya pupus, seperti yang ditulisnya kepada Nyonya Abendanon "... Singkat dan pendek saja, bahwa saya tiada hendak mempergunakan kesempatan itu lagi, karena saya sudah akan kawin..." Padahal saat itu pihak Departemen Pengajaran Belanda sudah membuka pintu kesempatan bagi Kartini  untuk belajar di Betawi.  Ia menikah pada tahun 1903 di usia 24 tahun dan memiliki satu anak sebelum ia wafat pada usia 25 tahun.

Hal yang tidak boleh dilupakan adalah bahwa saat menjelang pernikahannya, ada perubahan penilaian Kartini tentang adat Jawa.  Ia menjadi lebih toleran.  Ada keyakinan bahwa pernikahan akan membawa keuntungan tersendiri dalam mewujudkan keinginan mendirikan sekolah bagi para perempuan Bumiputra kala itu. Dalam surat-suratnya, Kartini menyebutkan bahwa sang suami tidak hanya mendukung keinginannya untuk mengembangkan ukiran Jepara dan sekolah, tetapi juga mendukung agar Kartini dapat menulis sebuah buku.

Perubahan pemikiran Kartini ini menyiratkan bahwa dia sudah lebih menanggalkan egonya dan mampu melampui desakan hak pribadi  untuk menuntut ilmu dan belajar di Betawi. Ia lebih memilih berkorban untuk mengikuti prinsip patriarki yang selama ini ditentangnya, dengan menerima pinangan Adipati Rembang.  Kartini tidak menjadikan keinginan egonya sebagai panutan keputusannya. Ia berhasil mengambil keputusan untuk dirinya berdasarkan pertimbangan yang jauh lebih luas dan lebih besar dari dirinya.  Inilah pelampauan diri atau transendensi.

Ego dan transendensi adalah dua kutub dalam diri manusia.  Kalau manusia mengandalkan kebebasannya yang tak terbatas, maka ia bergerak ke kutub ego.  Aku menjadi nomer satu.  Aku menjadi penting dan ego menjadi dominan, amat penting dan bahkan menjadi panutan atau kebenaran.  Segala sesuatu diukur dengan: aku.   Di sisi lain, ketika manusia mampu keluar dari ego dan melihat yang lebih luas daripada dirinya sendiri, maka ia sedang berjalan dalam kutub transendensi. Ia mampu melampaui diri dan sedang berbelok arah untuk meninggalkan egonya serta memandang yang lain sebagai yang patut dipertimbangkan.  Di luar ego ada kebenaran, ada yang lebih penting, dan ada yang bisa menjadi panutan. Dengan demikian kepentinganku, kebebasanku, dorongan dan hasratku tidak menjadi nomer satu lagi karena ada yang lebih tinggi dan lebih luhur yang patut diperjuangkan. Dengan lain kata, horizon atau garis pandangnya menjadi luas dan lebar sebab egonya tidak lagi mengkungkung dan menuntut untuk dipenuhi. Melampaui diri menjadi jalan terbaik untuk merengkuh dan merangkum ego-ego yang lain sehingga menjadi satu gumpalan besar kekuatan untuk mewujudkan yang lebih bermakna dan mulia.

Seandainya R.A. Kartini menuruti keinginan dan keyakinan yang dipandangnya sebagai kebenaran, mungkin ia tidak akan menjadi Pahlawan Emansipasi Wanita.  Sangat mungkin ia akan menuntut ilmu sampai ke Negeri Belanda dan tidak ingin kembali lagi ke kampung halamannya.  Ia mungkin menjadi wanita bebas dan merdeka seperti layaknya para wanita Eropa sesuai dengan yang ia bayangkan seraya terus mengkritik dan melawan budaya leluhurnya. Bagaikan bunga, ia membiarkan diri layu dan kehilangan keindahan sementaranya agar bisa menghasilkan benih untuk bunga-bunga berikutnya.  Ia menang terhadap diri sendiri.  Karena itulah ia menjadi berkat bagi para wanita, bukan hanya wanita dalam budaya Jawa saja tetapi ia menjadi pahlawan bagi semua wanita Indonesia.  R.A. Kartini bukan hanya pahlawan emansipasi wanita tapi sekaligus pahlawan transendensi diri.

Transendensi diri membawa seseorang pada kesadaran bahwa ada yang lebih penting daripada dirinya sendiri –  “Kalianlah yang penting dan nomer satu, aku bisa nomer dua.” Dalam tradisi masyarakat Zulu, Afrika Selatan, saat seseorang berjumpa dengan yang lainnya, maka ia mengucapkan salam “Sawubona” yang artinya “Saya melihat Anda.” Mereka tidak mengucapkan “Selamat pagi” atau “Salam” atau “Hai” atau “Halo”.  Sawubona meletakkan orang lain begitu penting. Bukan aku, namun dia yang kulihat. Kehadiran, keberadaan, dan wujud nyata pribadi lain dilihat, dihargai, dikenali, dan dianggap utama. Orang-orang Afrika menaruh yang lain sebagai yang dihargai dan dianggap ada. Bukan ego diri yang didahulukan, namun ego-ego yang lain yang dipikirkan dan tampak jelas terlihat di mata.  Seperti misalnya keluarga yang sedang makan bersama.  Si Ibu membiarkan suami dan anak-anaknya untuk ambil makanan dulu, kenyang dulu, baru setelah itu gilirannya. Si Ibu makan setelah yakin bahwa semua yang lain sudah kenyang. Suami dan anak-anaknya itu begitu penting, mereka terlihat jelas di mata. Aku melihatmu!

Mungkin orang ada yang berpikir: mengapa tidak kenyang bersama? Kita sama dan sederajat, mengapa harus ada yang dikalahkan? Transendensi diri tidak pernah berpikir mengenai kesederajatan, apalagi kalah atau menang. Transendensi diri selalu memandang yang lain, dan bukan mengutamakan dirinya. Kenyang bersama bukan nilai yang diperjuangkan.  Pandangan selalu terarah pada yang lain. Pribadi-pribadi yang telah mampu melampaui dirinya inilah yang membawa berkat bagi yang lain. Yang dipikirkan hanyalah: “Apakah kalian baik-baik semua? Apa lagi yang bisa kulakukan untuk kalian?”

Bagaikan penabur benih, seorang pribadi yang telah melampaui diri akan selalu menaburkan benih kehidupan. Kehadirannya membawa berkat, menancapkan benih kebaikan yang akan tumbuh dan mekar di kemudian hari. Ia menjadi sumber berkat bagi semua yang hidup dan yang mengenalnya.  Besar atau kecil, sedikit atau banyak, masing-masing ego yang lain kecipratan berkat yang keluar memancar dari sang pribadi itu.

Panggilan masing-masing dari kita adalah menjadi pribadi seperti itu. Sejatinya kita adalah menjadi berkat bagi yang lain.  Mari kita belajar dari yang ada di sekitar kita:

Lilin-lilin yang bernyala, sinarnya untuk siapa?

Bunga-bunga yang indah mempesona, siapa yang memandangnya?  Siapa yang memetiknya untuk menjadi penghias ruangan?

Pohon-pohon dengan buah yang manis menggoda, tersedia untuk siapa?

Lembu-lembu yang kaya akan susu, dihasilkan untuk siapa?

Para wanita yang cantik dan menawan, tercipta untuk siapa?

Para pria yang gagah dan perkasa, terlahir untuk siapa?

Pasangan yang saling mencintai, bersatu demi siapa?

Dan, kita, manusia, lahir ke dunia sesungguhnya untuk siapa?

Siapakah kita ini? Kita ada karena yang lain.  Ibunda yang melahirkan kita. Kita hidup dan menjadi dewasa berkat orang-orang yang memandang kita ini lebih penting daripada hidup mereka. Orangtua mengorbankan diri dengan melakukan segalanya untuk kita – anak-anaknya – agar tetap hidup, terus berkembang dan menjadi dewasa seperti mereka.   Sejatinya kita adalah terlahir dari pribadi-pribadi yang telah melampaui dirinya.  Kita adalah buah dari orang-orang yang tidak mementingkan dirinya lagi; buah dari orang-orang yang telah ber-transendensi diri, yang memberi kesempatan kepada yang lain untuk kenyang dan terpuaskan terlebih dahulu.

Panggilan jiwa untuk memenangkan yang lain adalah luapan diri yang murni dan tulus demi kebaikan sesama. Hal ini bukanlah sebuah kekalahan dan perendahan martabat, namun mendahulukan yang lain, meyakinkan bahwa yang lain berkecukupan, yang lain kenyang,  serta yang lain senang dan terpenuhi adalah wujud mulia dan sempurna dari yang kita sebut “cinta”. Ia mengalah tetapi bukan kalah; ia merendah tetapi bukan rendah. Pada akhirnya, pribadi ini adalah bagaikan seseorang yang duduk di puncak gunung, yang memandang jauh alam semesta nan indah yang mengelilinginya dan dengan penuh kebanggaan serta kekaguman berseru: “Hatiku bersukaria…  Bahagia datang menghampiriku!  Dan ketahuilah, aku melihat kalian; kalianlah sumber bahagiaku!”

 

(Penulis:  Romo Henricus Asodo, OMI, berkarya di Rumah Perdana OMI, Aix-en-Provence, Perancis.  Dari buku “Sampai Redup Sendiri”, 2018)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.