Panggilan Kita Adalah Menyempurnakan Cinta

Ada berbagai macam bentuk panggilan dalam hidup ini.  Ada panggilan menjadi orangtua, menjadi pertapa, menjadi biarawan atau biarawati, menjadi imam atau guru spiritual dan banyak lagi yang lainnya.

Namun pada dasarnya, panggilan hidup yang beraneka itu mempunyai tujuan yang sama, yaitu memurnikan cinta.  Suami istri menikah untuk memurnikan cinta mereka.  Demikian juga para imam menempuh jalan sebagai imam, selibat demi pelayanan, bertujuan untuk memurnikan cinta mereka.

Pemurnian cinta terjadi justru melalui tantangan dan badai relasi yang membuat cinta itu menjadi makin murni.  Sebagaimana emas dimurnikan dalam api, cinta dimurnikan oleh hambatan, tantangan dan onak duri dalam relasi.

"True love begin when honeymoon end."  Cinta sejati  baru dimulai ketika bulan madu berakhir.  Ketika bulan madu, suami istri pasti saling mencintai dan bahagia dengan relasi mereka.  Tapi cinta mereka belum teruji, belum murni.  Cinta mereka lebih bermutu dan lebih murni ketika bulan madu sudah lewat.  Mereka sudah menemukan sifat-sifat buruk pasangan yang menjengkelkan dan mereka tetap mencintai.  Ketika mereka sering terluka oleh pasangan dan tetap mencintai, memaafkan, mendukung, memberikan diri secara utuh, saat itulah cinta mereka semakin murni.

Biasanya pasangan suami istri hafal dengan kebiasaan-kebiasaan pasangannya yang menjengkelkan.  Kebiasaan yang menjengkelkan ini sebetulnya sudah dilihat waktu pacaran.  Namun mereka berpikir nanti kalau sudah menikah, saya akan mengubah kebiasaan yang menjengkelkan itu agar menjadi baik.  Tetapi ternyata setelah menikah, kebiasaan yang menjengkelkan dari pasangan itu tidak bisa diubah.  Di sini muncul saat kritis.  Orang bisa bereaksi negatif, menjadi malas mengembangkan relasi dan rasa cinta, atau bersyukur karena mampu makin memurnikan cinta mereka.

Kebiasaan pasangan yang menjengkelkan sebetulnya merupakan berkat tersembunyi yang istimewa.  Kok bisa?  Ya.  Kebiasaan pasangan yang menjengkelkan itu adalah rahmat Tuhan untuk memurnikan cinta mereka sebagai suami istri.  Jika mereka tetap mampu mencintai kendati menghadapi sifat dan kebiasaan pasangan yang menjengkelkan, maka cinta mereka makin murni.  Kedua, kebiasaan yang menjengkelkan itu merupakan salib yang menyucikan mereka.  Mereka disucikan karena menanggung beban berat dari derita akibat kebiasaan pasangan yang menjengkelkan.

Jadi sebetulnya, justru yang nampak negatif dari relasi suami istri itulah yang berguna untuk memurnikan cinta mereka.  Seluruh perjalanan perkawinan sebetulnya menuntun setiap pasangan menuju kemurnian cinta mereka.  Maka jika suami istri menemukan kesulitan dalam relasi mereka, jangan putus asa, melainkan bersyukurlah.  Di situlah makna dan tujuan perkawinan sedang berlangsung.  Cinta mereka sedang dimurnikam.  Jika suami istri tetap setia saling mengasihi sampai akhir, bisa dipastikan bahwa mereka akan masuk ke surga karena sudah mengalami cinta yang murni.

Para imam juga dipanggil untuk memurnikan cinta mereka.  Mereka harus tetap melayani dengan penuh cinta meskipun digosipkan yang tidak baik.  Mereka harus tetap sabar dan setia melayani umat meskipun dianggap munafik dan tidak baik.  Mereka harus terus menerus memaafkan meskipun kadang tidak dimengerti.  Mereka harus tetap melayani dengan penuh semangat kendati pelayannya kadang kurang dihargai.  Kesetiaan dalam pelayanan penuh kasih kendati harus banyak menanggung derita itulah yang memurnikan cinta mereka sebagai imam.

Pada dasarnya, kita masing-masing pada posisi kita, dipanggil untuk memurnikan cinta kita.  Pemurnian cinta muaranya adalah korban.  Korban itulah yang membawa keselamatan.

 

(Penulis:  Pastor Antonius Rajabana, OMI, dalam bukunya "Evolusi Cinta", Mazenod Publishing, 2017)

Eugene de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.