Lentera Iman

0207

Siapakah yang merasa tidak pernah bersalah? Siapakah yang suka mencari kesalahan sesamanya? Dan siapakah yang suka kalau aibnya dibuka? Dalam khotbah di bukit (Matius 7:1-5), Yesus mengajak kita untuk menyadari beberapa hal berikut ini: (~) Introspeksi: Setiap orang pernah mempunyai selumbar atau balok dalam hidupnya. Penelitian batin membuat kita sadar akan hal ini. Dengan menemukan ganjalan tersebut, kita mau mengakui dan membangun pertobatan; (~) Konkupisensi: Kita adalah makhluk yang lemah dan memiliki kekurangan. Kecenderungan kita adalah berbuat dosa. Dengan menyadari kecenderungan ini, kita bisa mulai mengendalikan diri dan menata kehidupan kita; (~) Pembaruan diri: Langkah pertobatan konkret terlaksana kalau kita mau membarui diri. Ada kalanya kita perlu bantuan orang lain seperti sahabat, pembimbing rohani, bapa pengakuan, atau konselor. Upaya ini membantu ktia untuk membangun persaudaraan yang lebih baik lagi. Dengan menyadari kerapuhan diri, kita bersedia mengandalkan Tuhan dan berani meminta bantuan sesama agar hidup dan karya kita semakin berkualitas.

(Pastor Antonius Sussanto, OMI)

 

0206

Bagaimana kita menghidupi panggilan kemuridan kita? St. Petrus dan St. Paulus memberi contoh kepada ktia untuk belajar menjadi murid Tuhan yang baik dan siap ikut merasul dalam kehidupan yang penuh tantangan. Kita dapat belajar untuk mengembangkan hal-hal berikut ini: (~) Iman harus dinyatakan: Pengakuan iman akan Yesus harus dinyatakan secara personal. Mungkin semula iman itu dihayati sebagai warisan yang diturunkan. Seiring dengan berkembangnya hidup, maka iman harus menjadi pengalaman personal akan Allah yang memanggil dan menghendaki tanggapan. Pernyataan kita adalah tanggapan atas sapaan kasih Allah; (~) Siap menyambut perutusan: Seorang yang beriman siap mewujudkan imannya itu dalam hidup dan karya. Kita hayati setiap langkah hidup kita sebagai perutusan dari Tuhan yang menghendaki ktia ambil bagian dalam karya penyelamatanNya. Maka kita menjalani hidup dan pekerjaannya dengan lebih sukacita; (~) Bersedia berjalan bersama Tuhan: Jalan yang ditempuh Tuhan adalah jalan salib, jalan pengorbanan menuju kepada keselamatan. Kita juga dianugerahi salib kehidupan yang harus kita panggul dengan setia. Tapi kita tidak memanggulnya sendirian, ada Tuhan yang memberi pertolongan. Semoga hidup dan pengorbanan kedua rasul Tuhan ini menginspirasi kita untuk menjadi rasul di zaman yang penuh cobaan ini. Kita saling meneguhkan supaya dalam menapaki jalan kehidupan, ktia tetap setia sampai akhir zaman.

(Pastor Antonius Sussanto, OMI)

0205

Dengan siapakah kita biasa berbagi beban kehidupan? Tentu kita memiliki sahabat yang bisa kita ajak berbagi suka dan duka. Dan hari ini Tuhan mengundang kita sebagai sahabatNya. Dia menyediakan diriNya untuk menerima kita. Kita pun diajak belajar dariNya: (~) Belajar mencintai: mau berbagi berarti ada cinta dan perhatian. Tidak ada paksaan dan unsur mencari keuntungan pribadi. Yang ada hanya bagaimana membuat bahagia yang dicintai; (~) Belajar rendah hati: kita tidak bisa mengatasi segalanya. Kita tetap membutuhkan pertolongan sesama. Maka kita berani berbagi dan tidak merasa menanggung sendiri; (~) Belajar pasrah: kita menyerahkan diri pada tuntunan Tuhan. Dia telah berbagi kehidupan. Maka kita mau datang kepadaNya, bekerjasama denganNya dalam menapaki jalan kehidupan. Semoga kita tidak mudah putus asa dan patah semangat. Ada Tuhan di samping kita yang bersedia menanggung beban dan berjalan bersama kita.

(Pastor Antonius Sussanto, OMI)

 

0204

Bagaimana kita menghidupi panggilan kemuridan kita? St. Petrus dan Paulus memberi contoh kepada kita untuk belajar menjadi murid Tuhan yang baik dan siap ikut merasul dalam kehidupan yang penuh tantangan. Kita dapat belajar untuk mengembangkan hal-hal berikut ini: (~) Iman harus dinyatakan: Pengakuan iman akan Yesus harus dinyatakan secara personal. Mungkin semula iman itu dihayati sebagai warisan yang diturunkan. Seiring dengan berkembangnya hidup, maka iman harus menjadi pengalaman personal akan Allah yang memanggil dan menghendaki tanggapan. Pernyataan kita adalah tanggapan atas sapaan kasih Allah; (~) Siap menyambut perutusan: Seorang yang beriman siap mewujudkan imannya itu dalam hidup dan karya. Kita hayati setiap langkah hidup kita sebagai perutusan dari Tuhan yang menghendaki kita ambil bagian dalam karya penyelamatanNya. Maka kita menjalani hidup dan pekerjaan dengan lebih sukacita; (~) Bersedia berjalan bersama Tuhan: Jalan yang ditempuh Tuhan adalah jalan salib, jalan pengorbanan menuju kepada keselamatan. Kita juga dianugerahi salib kehidupan yang harus kita panggul dengan setia. Tapi kita tidak memanggulnya sendirian karena ada Tuhan yang memberi pertolongan. Semoga hidup dan pengorbanan kedua rasul Tuhan ini menginspirasi kita untuk menjadi rasul di zaman yang penuh cobaan. Kita saling meneguhkan supaya dalam menapaki jalan kehidupan, kita tetap setia sampai akhir zaman.

(Pastor Antonius Sussanto, OMI)

0203

Merendah bukan berarti kalah, tetapi mengharap anugerah yang diyakini akan tercurah, itulah iman dari perempuan Kanaan yang memohon pada Yesus untuk menyembuhkan anak perempuannya yang kerasukan setan dan sangat menderita. Ktia pun sering berlatih merendah terutama di hadapan Allah. Sikap merendah itu melatih kita untuk mengembangkan sikap hidup seperti yang kita renungkan ini: (~) Tabah dalam menghadapi setiap masalah: Tidak semua masalah dapat dengan mudah diselesaikan. Ketabahan diperlukan agar semangat kita tidak terpatahkan; (~) Ketabahan menjadikan kita lebih jernih dalam memandang persoalan; (~) Kuat meski diremehkan: Siapa yang rela dirinya dikatakan sebagai anjing? Sebuah sebutan yang dirasa kasar dan merendahkan. Tetapi karena ada tujuan yang lebih luhur maka sebutan apa pun tidak akan menggoyahkan, justru malah akan menguatkan karena ada perhatian. Maka yang semula dirasa meremehkan justru menjadi kekuatan untuk mengembangkan harapan; (~) Bersabar dalam iman: Kita tidak sedang memaksa Allah untuk memberikan apa yang kita harapkan, tetapi kita percaya bahwa Dia akan mengabulkan pada saat yang tepat dan mungkin mengejutkan karena melebihi dari yang kita duga. Hal ini adalah kekebasan Allah untuk berbuat yang terbaik bagi kita. Maka kita tetap sabar dan bertekun melakukan segala sesuatu yang bisa kita laksanakan. Semoga kita tidak mudah patah semangat melainkan justru semakin kuat dalam menyongsong Rahmat dan Berkat.

(Pastor Antonius Sussanto, OMI)

 

More Articles...

Page 1 of 42

«StartPrev12345678910NextEnd»
Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.