0191

Hidup sebagai murid Tuhan adalah panggilan yang harus ditanggapi dengan sukarela dan kesadaran, tidak ada paksaan. Kadang masih ada rintangan dan hambatan, justru yang terberat adalah tantangan yang berasal dari dalam diri. Ada sesuatu yang masih menghalangi untuk sungguh tulus mengikuti Tuhan. Kita bisa belajar dari kisah seorang yang berharta dalam Kitab Suci dengan petikan beberapa pesan berikut: (~) Menjadi semakin baik: Kehendak kita bersama adalah ingin hidup menjadi lebih baik. Maka kita menaati hukum dan peraturan. Berbagai macam pelanggaran bisa mengacaukan kehidupan sehingga semakin jauh dari kebaikan. Jika kita ingin hidup kekal abadi dalam kebahagiaan, maka ketaatan dan kesetiaan terus-menerus diusahakan; (~) Lebih lepas bebas: Kebaikan itu disertai dengan kepercayaan akan penyelenggaraan Tuhan, tidak tergantung kepada kefanaan. Harta hanya titipan sebagai sarana kehidupan untuk memuliakan Tuhan Sang Empunya kekayaan. Maka kalau sungguh ingin mengikuti Tuhan, kefanaan harus dipasrahkan, menggunakan harta sebesar diperlukan. Setiap orang boleh mencari dan memiliki, tetapi jangan sampai terbelenggu pada materi. Kita tetap memiliki sisi ilahi yang harus kita pupuk dan hidupi. Sekaligus kita adalah makhluk sosial yang harus mempunyai perhatian terhadap saudara yang lebih membutuhkan; (~) Memperoleh kepenuhan: Hidup kekal menjadi kepenuhan karena kita hidup bersama dengan Allah. Kerinduan akan Allah harus dikembangkan. Hal ini mendorong setiap orang untuk tidak mudah menyerah, tetapi mempuyai semangat yang berkobar untuk mengikuti Tuhan. Tidak ada yang mustahil sebab segala sesuatu itu mungkin. Semoga kita tetap semangat mengikuti Tuhan meski kadangkala harus melalui jatuh bangunnya kehidupan. Kita yakin tidak ada yang sia-sia, semua akan berbuah bahagia.

(Pastor Antonius Sussanto, OMI)

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.