Undangan untuk Berdoa

Artikel - Karya & Misi

Ditulis oleh Administrator Rabu, 31 Oktober 2018 01:29

Surat Superior Jenderal kepada Kongregasi untuk peringatan 200 tahun Aturan Hidup Yang Pertama

 

Saudara-Saudara Oblat Terkasih,

Selama bulan September dan Oktober, kita kembali mengenang Eugenius de Mazenod berada di kastil keluarganya, Saint Laurent du Verdon, untuk menulis Aturan Hidup pertama bagi kelompoknya,  Misionaris Provence.  Dari 23 Oktober hingga 01 November, Eugenius menguraikan satu per satu Regula yang ditulisnya dalam sebuah retret, yang kemudian disetujui oleh para kapitular yang mengikuti Kapitel Umum Pertama.  Kita mengenang masa tersebut dengan humor ironis karena Eugenius meminta para skolastik untuk ikut memberi suara sehingga Regula yang ditulisnya itu dapat disetujui dalam Kapitel Pertama tersebut!

Pada Hari Raya Semua Orang Kudus tahun 1818, Kelompok Misionaris Provence mengucapkan kaul pertama mereka: kaul kemurnian, kaul ketaatan, dan kaul kemantapan di depan Sakramen Mahakudus.  Pada saat itu sangatlah radikal untuk memasukkan kaul kemiskinan  yang kemudian baru dibicarakan dalam Kapitel Umum Kedua di tahun 1821.  Dalam Regulanya, Eugenius membayangkan para misionaris yang hidup dalam komunitas apostolik, yang membagikan hidup dalam kebajikan, doa, dan belajar Sabda Tuhan, yang mewartakan Injil kepada kaum miskin dan yang paling terlantar.

Peringatan ke-200 Regula pertama ini mengajak kita untuk menemukan kembali betapa sangat integral dengan visi dasar Eugenius panggilan untuk memeluk hidup religius, membuat komitmen pada kaul-kaul.  Saya meminta agar kita dengan penuh doa mempertimbangkan dua aspek dari peringatan tahun ini: panggilan untuk menjadi misionaris yang menghidupi kaul-kaul dan panggilan untuk menjadi misionaris yang diikat oleh Regula.

Pertama-tama, Bapa Pendiri ingin agar kelompok misionarisnya meneruskan warisan kekudusan dan karya apostolik dari Ordo-Ordo besar yang telah ditindas oleh Revolusi Prancis dan akibat dari Revolusi itu. Bapa Pendiri mengerti bahwa kaul-kaul, hidup bersama dalam komunitas kerasulan, dan mengejar kehidupan suci sangat penting untuk keefektifan karya misi.  Dalam pikirannya, hal ini bukan sekadar tambahan atau kesenangan pilihan untuk hidup sebagai misionaris, tetapi tidak terpisahkan dengan panggilan untuk mewartakan Injil kepada kaum miskin dan yang paling terlantar.  Meskipun jumlah misionaris masih kecil di masa awal kita, visi Eugenius sama sekali tidaklah kecil atau takut-takut, tetapi diantisipasi untuk mengambil dan melanjutkan pekerjaan dan kekudusan para Yesuit, Fransiskan, Redemptoris, dan lain-lain!

Add a comment

 

Catatan Perjalanan Seorang Oblat (21)

Artikel - Karya & Misi

Ditulis oleh Pastor Antonius Sussanto, OMI Jumat, 03 Agustus 2018 00:43

Pengantar:

Pastor Antonius Sussanto, OMI, Magister Novis OMI Provinsi Indonesia sedang mengikuti workshop untuk para Magister Novis Kongregasi OMI yang bertajuk "Formation to Oblate Religious Life and Novitiate Experience", di Aix-en-Provence, Perancis, pada 10-31 Juli 2018. Pastor Sussanto, OMI membagikan pengalamannya itu lewat jurnal yang dikirimkannya dari Perancis berikut ini:

Selasa, 31 Juli 2018

Sampailah kami pada hari terakhir, saat kami merangkum seluruh rangkaian pertemuan dalam ungkapan syukur. Masih ada kesempatan buat kami semua untuk mendengarkan kisah panggilan dua penterjemah kami yang setia, mereka adalah Pastor Sakubita Like, OMI dan Pastor Hipolito Olea, OMI. Keterpisahan kedua orang tua tidak menghalangi panggilan Tuhan atas diri Pastor Like. Ia tetap diberi kesempatan dan didorong aktif dalam kegiatan Gereja. Ia terkesan dengan kata-kata St. Eugenius de Mazenod: Jadikanlah mereka manusiawi, Kristiani dan suci. Ia mantap menjadi Misionaris OMI. Begitu pula Pastor Hipolito yang sejak kecil sudah terbiasa bersama-sama dengan OMI di sekolah St. Eugenius. Bahkan ia sudah dilatih untuk ikut bermisi. Ia terkesan dengan kisah masa kecil Eugenius yang bertukar pakaian dengan anak penjual arang. Rupanya mengenal kisah kehidupan para kudus juga menjadi salah satu jalan membangkitkan panggilan hidup membiara dan menjadi imam.

Add a comment

 

Catatan Perjalanan Seorang Oblat (20)

Artikel - Karya & Misi

Ditulis oleh Pastor Antonius Sussanto, OMI Rabu, 01 Agustus 2018 10:03

Pengantar:

Pastor Antonius Sussanto, OMI, Magister Novis OMI Provinsi Indonesia sedang mengikuti workshop untuk para Magister Novis Kongregasi OMI yang bertajuk "Formation to Oblate Religious Life and Novitiate Experience", di Aix-en-Provence, Perancis, pada 10-31 Juli 2018. Pastor Sussanto, OMI membagikan pengalamannya itu lewat jurnal yang dikirimkannya dari Perancis berikut ini:

Minggu, 30 Juli 2018

Seperti biasanya hari Minggu menjadi hari istirahat dan refreshing. Kami mengadakan Perayaan Ekaristi yang kami sebut Misa internasional - karena yang hadir dari berbagai negara. Kesempatan ini kami gunakan juga untuk memperkenalkan OMI dan beramah tamah dengan umat yang hadir.

Add a comment

 

Catatan Perjalanan Seorang Oblat (19)

Artikel - Karya & Misi

Ditulis oleh Pastor Antonius Sussanto, OMI Senin, 30 Juli 2018 01:34

Pengantar:

Pastor Antonius Sussanto, OMI, Magister Novis OMI Provinsi Indonesia sedang mengikuti workshop untuk para Magister Novis Kongregasi OMI yang bertajuk "Formation to Oblate Religious Life and Novitiate Experience", di Aix-en-Provence, Perancis, pada 10-31 Juli 2018. Pastor Sussanto, OMI membagikan pengalamannya itu lewat jurnal yang dikirimkannya dari Perancis berikut ini:

Sabtu, 28 Juli 2018

Kunjungan ke kota Marseille adalah bagian dari perjalanan peziarahan kami untuk menggali dan merasakan kembali semangat misioner para Oblat. Beberapa tempat penting yang kami kunjungi adalah:

Add a comment
 

Catatan Perjalanan Seorang Oblat (18)

Artikel - Karya & Misi

Ditulis oleh Pastor Antonius Sussanto, OMI Minggu, 29 Juli 2018 01:40

Pengantar:

Pastor Antonius Sussanto, OMI, Magister Novis OMI Provinsi Indonesia sedang mengikuti workshop untuk para Magister Novis Kongregasi OMI yang bertajuk "Formation to Oblate Religious Life and Novitiate Experience", di Aix-en-Provence, Perancis, pada 10-31 Juli 2018. Pastor Sussanto, OMI membagikan pengalamannya itu lewat jurnal yang dikirimkannya dari Perancis berikut ini:

Jumat, 27 Juli 2018

Berasal dari keluarga Katolik yang cukup aktif dalam hidup menggereja dan adanya kebiasaan doa Rosario keluarga memupuk benih panggilan imam dalam diri Pastor Cornelius Ngoka, OMI. Apalagi ia juga aktif menjadi Putra Altar, sering melayani imam dan berjumpa dengan para Oblat yang berkarya di Gereja Stasinya. Hal-hal tersebut membuat keinginannnya untuk menjadi imam semakin subur. Ia meniti panggilannya sampai saat ini dengan sukacita.

Berbeda dengan Pastor Guiseppe Rubino, OMI, keluarganya terlalu sibuk dengan urusan pekerjaan sehingga hidup rohani tidak begitu diperhatikan. Suatu ketika ia mengantar kekasihnya yang taat menghidupi iman Katolik untuk menghadiri Ekaristi di Gereja. Saat itulah hatinya tergetar oleh kehadiran Tuhan dalam Ekaristi. Peristiwa itu mengubah jalan hidupnya. Ia telah setia berkarya selama 18 tahun dalam mendampingi para calon OMI.

Add a comment

 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

«MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir»

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.