40 Tahun Tahbisan Imamat Romo Bernard Keradec, OMI

Artikel - Karya & Misi

Ditulis oleh Administrator Senin, 16 Juli 2012 21:30

Pada 29 Mei 2011 yang lalu, Romo Bernard Keradec, OMI yang biasa disapa “Romo Bernard” merayakan 40 tahun Tahbisan Imamatnya.  Misa Syukur dan perayaan sederhana bagi Romo Bernard dilaksanakan di Seminari Tinggi OMI di Yogyakarta.  Pada saat itu, Romo Bernard memang sedang berada di Indonesia – menjadi Pembimbing Retret para Imam Oblat Maria Imakulata (OMI) Provinsi Indonesia.

Romo Bernard Keradec, OMI pernah berkarya selama 28 tahun di Indonesia.  Beliau diutus untuk berkarya di Keuskupan Sintang, Kalimantan Barat, bersama 6 Oblat lainnya: Romo Andre Hebting, OMI, Alm. Romo Jean Subra, OMI, Romo Jean-Pierre Meichel, OMI, Romo Jacques Chapuis, OMI, Romo Rene Colin, OMI, dan Romo Lucien Bourchard, OMI.  Kelompok ini adalah para Misionaris Oblat yang terusir dari Laos dan pulang ke Perancis untuk kemudian diutus bermisi ke Indonesia.  Menarik mengikuti perjalanan karya-karya Romo Bernard selama 40 tahun hidup imamatnya.  Bersyukur sekali kalau Romo Bernard mau meluangkan waktunya untuk bersama Sabitah berbagi kenangan dan rasa sukacitanya sebagai seorang Oblat.

Tentang pandangan akan 40 tahun hidup imamatnya:

“Dalam rangka persiapan diri untuk menerima tahbisan imamat, saya diminta memilih sebuah motto yang akan dicetak di bagian belakang kartu kenangan pentahbisan. Maka saya memilih ayat dari Injil Lukas 9:62 - “Setiap orang yang siap untuk membajak tetapi menoleh ke belakang, tidak layak untuk Kerajaan Allah.”   Menurut saya pada saat itu, pernyataan Yesus ini memberi ‘lihat dan rasa’ yang paling jelas  - pilihan hidup saya baik sebagai religius misionaris maupun seorang imam. Menjadi suatu cara dan irama hidup yang dikuasai sepenuhnya oleh pelayanan Kerajaan Allah,  atau dengan kata lain, berani memberikan pelayanan Kabar Baik di tengah dunia, apa pun medannya. Kesetiaan dalam kenekatan demi Kerajaan Allah yang dituntut Yesus dirasakan menjadi milik saya pada saat itu. Pokoknya, siap dan nekad tanpa syarat! Apalagi dengan watak yang diwarisi dari orang tua saya – ayah saya seorang perwira angkat laut dan ibu saya adalah guru di perguruan tinggi.  Cocok, deh! Hebat pula!

Add a comment
 

Superior Jenderal OMI: "Katakan pada Mereka untuk Bertumbuh dalam Kekudusan."

Artikel - Karya & Misi

Ditulis oleh Administrator Jumat, 29 Juni 2012 22:22

Romo Louis Lougen, OMI, Superior Jenderal OMI yang sekarang, datang berkunjung ke Indonesia pada 13-26 Februari 2012.  Hari-hari kunjungannya di Indonesia Beliau isi dengan melihat dari dekat karya-karya OMI Provinsi Indonesia.  Hampir di penghujung waktu kunjungannya, setelah mengikuti 2x Misa Kudus di Paroki Trinitas, Cengkareng, Jakarta, Beliau berkenan ditemui untuk berbagi cerita:

Kesan atas karya-karya OMI di Indonesia:

“Kesan yang indah.  Para Oblat dan umat memiliki iman yang kuat.  Ke mana pun saya pergi, umat begitu bersemangat.  Saya merasakan kekuatan iman.  Umat berdoa bersama.  Saat saya bertanya, mereka menjawab.  Gereja yang bersukacita – adanya hubungan baik antara Romo dan umatnya.  Para petugas dalam Misa, Lektor, Koor, Prodiakon, semuanya sangat baik.  Semuanya tertata baik dalam gereja kecil maupun gereja yang besar.  Saya merasakan keindahan liturgi, kekuatan iman, kesatuan hidup antara para Oblat dan umatnya.”

Add a comment
 

Paroki Malinau, "Harta Terpendam" OMI di Bumi Kalimantan

Artikel - Karya & Misi

Ditulis oleh Administrator Sabtu, 23 Juni 2012 23:54

“Tak kenal maka tak sayang”, sebuah pepatah lama yang kita kenal bersama. Maka berdasar pada pepatah ini, saya juga ingin memperkenalkan diri saya kepada para Pembaca Sabitah supaya saya disayang. Nama saya Romo Agustinus Sattu, OMI. Saya lahir dan besar di Balikpapan, Kalimantan Timur. Saya menyelesaikan pendidikan TK, SD, SMP, dan SMA di Balikpapan, dan kemudian melanjutkan ke Seminari Menengah Stella Maris, Bogor. Setelah menyelesaikan pendidikan di Bogor, saya melanjutkan ke Seminari Tinggi OMI di Condong Catur, Yogyakarta.  Saya ditahbiskan menjadi Imam pada 07 Desember 2003 di kampung halaman saya,  Balikpapan,  bersama Romo Henricus Asodo, OMI dan Romo Antonius Widiatmoko, OMI. Setelah mnerima tahbisan, saya ditugaskan menjadi Pastor Pembantu di Paroki St. Petrus dan Paulus, Balikpapan sampai tahun 2007. Pada 17 Mei 2007, Provinsial OMI Indonesia menugaskan saya menjadi Pastor Paroki St. Stefanus, Malinau, Kalimantan Timur bagian utara sampai sekarang.

Add a comment
 

Romo Yohanes Damianus, OMI: "Tuhan, Ampunilah Mereka..."

Artikel - Karya & Misi

Ditulis oleh Administrator Senin, 11 Juni 2012 22:17

Romo Yohanes Damianus, OMI  dikirim Kongregasinya ke tanah Pakistan sebagai Misionaris sejak 5 tahun yang lalu.  Pada 25 Mei 2010 yang lalu, Romo Dami mengalami peristiwa penembakan yang dilakukan oleh sekelompok orang – entah mereka itu perampok atau militan.  Hal ini mengakibatkan luka cukup serius.  Romo Dami lalu dikirim pulang ke Indonesia untuk menjalani serangkaian proses operasi dan pengobatan lebih lanjut.  Beruntung Sabitah dapat menemui Romo Dami yang masih dalam pemulihan paska operasi pertamanya di Pasturan Paroki Cengkareng.

Hikmah dari peristiwa penembakan ini?

“Sebagai seorang Misionaris, kami harus siap menghadapi segala bentuk malapetaka, termasuk juga penembakan.  Jadi hikmah yang paling mendasar dari peristiwa ini adalah bahwa bekerja bersama Yesus harus berani menanggung resiko. Saya menyadari betul bahwa tugas perutusan sebagai Misionaris ini bukan hanya  karena saya diutus oleh Romo Provinsial atau Romo Jenderal – mereka hanyalah sarana untuk menyampaikan perutusan pada saya - tetapi inilah perutusan Tuhan Yesus sendiri kepada saya dengan segala resikonya.  Bukan hanya saya saja yang mengalami peristiwa tak menyenangkan ini, banyak Romo yang ditembak mati, ada yang disekap, diculik, dan macam-macam lagi, bahkan ada Romo yang istilahnya “balik tinggal nama”.  Itulah resiko dari sebuah misi. Jadi saya tidak akan melihat peristiwa ini hanya semata sebagai kejadian manusiawi, tetapi hal itu adalah resiko dari misi, seperti Tuhan Yesus sendiri yang menjalankan  misiNya hingga beresiko Dia terbunuh. Resiko seorang Misionaris itu di mana saja di dunia ini selalu ada -  resiko-resiko yang kerap kali tak tertanggungkan.  Saya mencoba mengambil bagian dalam penderitaan Kristus dengan ikut mengambil penderitaan kemanusiaan di dunia ini.  Tidak hanya saya yang ditembak, ada begitu banyak orang yang ditembak, saya kebetulan lolos, yang lain tidak lolos.”

 

Add a comment
 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

«MulaiSebelumnya313233343536SelanjutnyaAkhir»

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.