Surat Superior Jenderal untuk Hari Oblat

Artikel - Karya & Misi

Surat Superior Jendral Pada Kongregasi  Menyambut Hari Oblat - 17 February 2019

 

Kepada Semua Saudara Oblat dan Saudara/Saudari yang menghidupi Kharisma Oblat,

Selamat Pesta untuk kita semua!  Kita merayakan peringatan 193 tahun pengesahan Konstitusi dan Regula kita oleh Paus Leo XII.  Sesuai dengan tradisi Oblat, kita diundang untuk bersyukur atas rahmat panggilan yang kita terima sebagai Oblat.  Panggilan inilah  yang menjadi sebab utama rasa syukur dan sukacita kita.

Dalam beberapa hari ke depan, Paus Fransiskus akan bertemu dengan para Presiden dari Konferensi Nasional Para Uskup untuk sampai pada komitmen dan aksi yang sama dalam menghadapi kegagalan kita menangani dengan jujur dan penuh belas kasih terkait pelecehan seksual yang dialami oleh anak-anak di bawah umur dan orang dewasa yang rentan/lemah.  Sudah terlalu banyak kali kita mengingkari serta menutupi tindak kekerasan yang mengerikan ini.

“Surat kepada Umat Allah” pada 20 Agustus 2018 yang ditulis oleh Bapa Suci Paus Fransiskus menggemakan seruan yang sangat kuat kepada kita semua:  “Luas dan seriusnya dari segala yang telah terjadi mendesak kita untuk memahami kenyataan ini secara komprehensif dan komunal.  Meski amat penting dan perlu dalam setiap perjalanan pertobatan untuk mengakui segala kebenaran atas apa yang telah terjadi, itu pun tidaklah cukup.  Saat ini, sebagai umat pilihan Allah, kita ditantang untuk menanggung rasa sakit saudara-saudara kita yang terluka jasmani dan rohaninya.  Jika di masa lalu kita menanggapi realita ini dengan cara menutupinya, sekarang kita menginginkan solidaritas - dalam arti terdalam dan juga rasa tertantang - untuk menjadi bagi kita sebuah cara yang menempa sejarah masa ini dan masa yang akan datang.” (Surat Paus Fransiskus kepada Umat Pilihan Allah, 20 Agustus 2018).

Pada tahun 2010 dan juga tahun 2016, otoritas tertinggi dari Kongregasi, yaitu Kapitel Umum, berseru kepada para Superior dari setiap Unit untuk lebih akuntabel, transparan dan berkomitmen sehingga di semua tempat pelayanan kita dan di semua tempat tinggal kita selalu menjadi tempat yang aman dan dikenal ramah bagi anak-anak, kaum muda dan juga orang dewasa yang rentan/lemah.  Setiap Unit harus memiliki kebijakan yang proaktif, sehingga seluruh paroki, sekolah, asrama, tempat pelayanan, dan komunitas Oblat senantiasa waspada dalam menghormati dan menjaga rasa aman dari setiap orang yang datang kepada kita untuk mendapatkan pelayanan.  Bagian dari kebijakan tersebut harus berupa prosedur atas apa yang akan dilakukan jika terdapat keluhan terhadap para Oblat, karyawan, atau sukarelawan di tempat kita melayani atau di rumah kita.  Di setiap Unit, penatalaksana yang tepat hendaknya selalu meninjau kembali setiap praktik hidup, terbiasa dengan praktik-praktik hidup itu, dan selalu memperbaharuinya.

Dokumen terbaru dari Sinode “Kaum Muda, Discernment dan Panggilan”, meletakkan tema pelecehan seksual dalam perspektif yang lebih luas.  “Penyalahgunaan hadir dalam aneka rupa:  penyalahgunaan kekuasaan, penyalahgunaan nurani, dan penyalahgunaan seksual dan keuangan.  Jelas sekali, praktik gaya-gaya otoritas yang dapat menyebabkan terjadinya hal-hal di atas harus diberantas.  Sikap-sikap tak bertanggungjawab dan kurangnya transparansi dalam menangani banyak kasus harus dikaji ulang.  Hasrat untuk mendominasi, kurangnya dialog dan transparansi, menjalani hidup ganda, kekosongan spiritual, dan juga kelemahan psikologis, menjadi lahan-lahan tempat korupsi berkembang.”  (Diambil dari Dokumen Akhir Sinode para Uskup tentang Kaum Muda, Iman, dan Discernment Panggilan, # 30)  Kita menyadari bahwa klerikalisme adalah bentuk kehancuran ekstrim dari penyalahgunaan kekuasaan.

Administrasi Pusat Kongregasi akan mempunyai seorang profesional di bidang pencegahan penyalahgunaan yang akan bekerja bersama kami dalam Sesi Pleno April/Mei mendatang.  Kita perlu menumbuhkan kesadaran akan realitas penyalahgunaan seksual dan belajar cara-cara mendorong komitmen yang lebih besar lagi di lingkup seluruh Kongregasi untuk menciptakan lingkungan yang sehat dan aman.  Pada bulan Juli nanti, dalam pertemuan Tengah Kapitel, akan ada satu hari penuh yang didevosikan guna menjawab pertanyaan ini, untuk membantu seluruh lini kepemimpinan Kongregasi agar mengerti serta berkomitmen untuk menjawab pertanyaan kritis tentang menjaga keamanan anak-anak kecil dan orang dewasa yang rentan/lemah di dalam rumah-rumah kita dan juga di mana pun kita melayani.

Meski tema ini bukanlah tema yang menyenangkan untuk didengungkan dalam Pesta kita, saya percaya hal ini telah ada di lubuk hati pertobatan dan juga panggilan untuk menjadi kudus yang didengungkan Eugenius de Mazenod dalam Prakata 1825 yang ditulisnya.  Ia adalah pelayan yang penuh belas kasih dengan hati yang berkobar-kobar terhadap martabat orang miskin dan terluka.  Ia meminta kita berusaha keras dengan cara terbaik untuk menciptakan lingkungan yang aman bagi siapa saja yang datang pada kita.

Yesus menyambut anak-anak dan menyentuh mereka, memberkati mereka dengan cinta dan kebebasan (Mrk. 10:16).  Semoga sikap indah dan lembut antara pelayan pastoral dan anak-anak dapat tersembuhkan dan terlindungi oleh integritas dan perilaku kita yang bertanggungjawab.  Kita berdoa semoga Bunda Maria Imakulata membantu kita untuk mengambil “....rasa sakit saudara-saudari kita yang terluka jasmani dan rohaninya.”  (Surat Paus Fransiskus)

Selamat Pesta!

Saudara Oblatmu dalam Yesus Kristus dan Maria Imakulata

P. Louis Lougen, OMI

Superior Jenderal

 

(Diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website Indonesia dari artikel yang terbit di www.omiworld.org)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.