OBLATIO DAN KEMARTIRAN

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Pastor Fabio Ciardi, OMI Sabtu, 04 May 2019 02:07

Konferensi “Oblatio dan Kemartiran” yang akan diselenggarakan di bulan Mei di Pozuelo, Spanyol, mengundang kita untuk merefleksikan dimensi fundamental dari panggilan Oblat kita:  Kemartiran.

 

Alexius Reynard, OMI

Martir pertama dari antara para Oblat adalah Alexius Reynard yang dibunuh di tahun 1875 di Kanada oleh para pemandu perjalanan misinya ke Nativite.  Sepuluh tahun kemudian, pada 02 April 1885, Leon Fafard dan Felix Marchand dibunuh di Frog Lake.  Uskup Grandin menulis kata-kata bermakna dalam surat kepada orangtua Pastor Fafard:  “..... Yang Terkasih Nyonya Fafard, Anda dapat dengan baik membandingkan perasaan sedih yang Anda alami sekarang ini dengan yang dialami oleh Perawan Terberkati, bahkan juga dengan mereka yang berduka bagi Korban Kalvari:  seorang martir terkasih telah wafat untuk keselamatan saudara-saudaranya dan untuk keselamatan para pembunuhnya.”  Kepada orangtua Bruder Marchand, Uskup Grandin menulis:  “saling mendukung dalam segala kesulitan yang dihadapi, mereka berdua menjadi kurban dari dedikasi mereka dan menjadi martir bagi cinta kasih....”  Di tahun 1913, dua orang imam Oblat yang mempersembahkan hidup mereka untuk karya misi juga menjadi martir:  Jean-Baptiste Rouviere dan Gullaume Le Roux, keduanya dibunuh di tahun 1913 di Coppermine.

 


Kita juga perlu mengenang para martir dari Spanyol, Jerman, Bolivia, Cile, Sri Lanka, Filipina, dan Laos.  Menjadi seorang Oblat berarti menjadi siap sedia untuk kemartiran.  Inilah tema dari tulisan-tulisan Bapa Pendiri dan para Oblat generasi pertama.

Berikut ini adalah beberapa contohnya:

Di masa penghujung masa novisiatnya, Vital Grandin menulis kepada saudara laki-lakinya, pada 05 Desember 1852:  “Nama Oblat yang harus kusandang secara cemerlang menjelaskan komitmenku.  Aku harus menjadi korban, dan bukan hanya korban dari sebuah peristiwa, tetapi menjadi korban setiap hari.  Inilah arti sejati dari salib yang akan digantungkan di leherku.  Inilah yang akan setiap waktu mengingatkanku bahwa jalan Oblat adalah jalan pengorbananan dan terus menjadi korban...  Hingga sekarang ini, tidak ada martir dalam Kongregasi kami.  Oh!  Betapa sukacitanya aku jika bisa menjadi martir pertama Oblat!”

Dalam retret tahun 1888, dari tempat misinya di Saskatchewan, Ovide Charlebois menulis: “... Yang kuminta dariMu (ya Tuhan) adalah untuk menerima setiap saat dari hidupku sebagai aksi-aksi kecil kemartiran.  Jika aku tidak pantas untuk bersimbah darah bagiMu, semoga seluruh hidupku menjadi kemartiran yang tiada hentinya.  Ya, Tuhanku, sejak saat ini aku ingin hidup seperti seorang martir.  Oleh karenanya aku mempersembahkan kepadaMu kemartiran hidupku, Yesusku yang baik, dan aku menandainya dengan darahku, supaya Engkau tidak dapat menolakku.  Aku ingin bukan saja penderitaan fisik sebagai kontribusi kemartiranku, tetapi juga di atas segalanya, penderitaan moralku: godaan-godaan, kekeringan, dan gangguan-gangguang saat berdoa, kesombonganku, dan lainnya.... Aku ingin semua ini menjadi aksiku sekarang; aku memulai untuk hidup sebagai seorang martir.  O Hati Kudus, ajar aku untuk hidup di jalan ini, karena keseluruhan hidupMu adalah kemartiran yang tiada hentinya.”  Di tahun yang sama, Ovide Charlebois menemukan realitanya: “Sejak retret terakhirku, sebuah pemikiran saleh memenuhiku...., menjadi seorang martir -bukanlah tuntutan yang kecil.  Engkau tentunya akan bertanya: siapakah para pembunuhku?  Sangat mudah: nyamuk-nyamuk, Pierric-ku (seorang bocah yatim piatu Indian yang karena nasihat Uskup Grandin, diterima Pastor Ovide agar menghindarinya hidup sendirian di tanah misi), murid-murid sekolahku, kesalahan-kesalahanku, godaan-godaanku, segala kegelisahanku, kerja keras yang harus kuhadapi, dan lain-lain, dan lain-lain.  Kesemuanya itu bukanlah kemartiran kecil untuk beberapa waktu yang kuinginkan, tetapi menjadi kemartiran yang bertahan seumur hidupku, karena tidak ada saat yang berlalu tanpa penderitaan.  Aku katakan pada diriku sendiri:  kenapa tidak menerima segalanya dalam terang kemartiran?  Apakah hal demikian tidak dapat diterima Tuhan sebagai penderitaan sesaat dari martir-martir sejati?  Karenanya, aku merasa seperti ada di atas kompor arang yang pelan-pelan membakarku tetapi membuatku tetap hidup selama mungkin.”

Pada tahun 1866, Alexandre Tache mengenang kembali kedatangannya di tanah misi Riviere Rouge di tahun 1845.  Mengingat para misionaris pertama yang dibantai Suku Indian Sioux di tahun 1736, ia menulis:  “...marilah kita berdoa untuk para rasul yang penuh semangat ini, agar mereka menginspirasi kita dengan semangat untuk menghabiskan hidup kita dalam pelayanan yang kudus ini, dan jika perlu, menumpahkan darah kita untuk pelayanan suci ini juga.”

Hasrat kemartiran menjadi suatu realita bagi banyak Oblat.

 

Pemikiran tentang kemartiran paling menonjol ada pada diri Beato Mario Borzaga sejak tahun-tahun awal formasinya.  Hal ini terlihat konstan dari catatan hariannya:  Februari 19, 1957 – “Saat Jalan Salib, dengan salibku ditangan, aku sungguh-sungguh memikirkan betapa Yesus telah memilihku untuk melanjutkan Jalan SalibNya: memanggul Salib, seorang imam.... Seluruh hidup Kristus adalah salib dan kemartiran.  Aku adalah Kristus yang lain, jadi... aku juga telah dipilih untuk kemartiran.  Jika aku ingin menjadi imam yang kudus, aku tak perlu lagi memohon, karena inilah misteri yang ada di tanganku, setiap hari: misteri darah, misteri pengurbanan, misteri penyerahan diri seutuhnya, misteri ketidakbersalahan saat ditolak, misteri kerendahan hati dihadapan keagungan Ilahi.”  19 April 1957 – “Jumat Agung.  Para martir harusnya dicontoh, bukan dipuja!”  26 Juni 1957 – “Hari ini adalah Pesta para martir Yohanes dan Paulus... inilah para martir yang membangun Gereja, hanya para martir...”

 

Maurice Lefebvre dibunuh pada tahun 1971 di La Paz, Bolivia.  Di bulan Desember 1967, Pastor Maurice menulis: “kita juga akan melihat dan menerima yang harus kita tanggung sebagai murid-murid Kristus di tahun 1968.... Menjadi murid Kristus bukanlah sekedar kata-kata belaka; lebih dari sekedar angan-angan; lebih dari terjemahan teks-teks tertentu dari para Bapa Suci dan Reformis.”

 

Michael Paul Rodrigo dibunuh pada 10 November 1987 di Sri Lanka.  Pada 28 September 1987, ia menulid kepada Hilda, kakak perempuannya: “... Salib bukanlah sesuatu yang kita gantung di dinding atau di leher kita.  Yesus yang pertama digantung di sana... jadi kita harus siap untuk mati bagi sesama kita di saat waktunya datang.”

Hampir 100 Oblat meninggal secara tragis selama menunaikan karya pelayanan mereka.  Sekitar 30 dari mereka telah dinyatakan sebagai terberkati dan diakui sebagai martir iman.  Jumlah yang sangat kecil mengingat ada 15.000 Oblat yang saling menggantikan selama kurun waktu 200 tahun.  Namun mereka adalah tanda radikalitas yang diperlukan setiap orang mulai dari oblatio (persembahan diri) kepada Tuhan, Gereja, dan kaum miskin.

 

(Diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website OMI Indonesia dari artikel “Oblation and Martyrdom” yang ditulis oleh Pastor Fabio Ciardi, OMI, www.omiworld.org)

Add a comment
 

Si Pemegang Salib St. Eugenius de Mazenod

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Sabtu, 16 Maret 2019 11:21

 

Pada 08 September 2010, Pastor Louis Lougen, OMI terpilih menjadi Superior Jenderal OMI.  Segera setelah pemilihan selesai, Pastor Lougen diserahi satu simbol yang paling berharga dari Kongregasi: Salib Oblat milik St. Eugenius de Mazenod, Bapa Pendiri Misionaris Oblat Maria Imakulata.

Sebagai penerus ke-12 St. Eugenius de Mazenod, Pastor Lougen telah membawa Salib Oblat St. Eugenius itu ke berbagai negara untuk mengingatkan para Oblat dan rekan karya misi mereka akan pertalian yang mereka miliki dengan St. Eugenius de Mazenod.  Pada artikel ini, Pastor Lougen berbicara tentang rasa mendapat kehormatan menjadi pemegang Salib Oblat St. Eugenius de Mazenod:

Kalau Anda menonton video pada saat saya terpilih menjadi Superior Jenderal, Anda akan melihat saya seperti hendak pingsan.  Itu memang benar, khususnya pada saat pendahulu saya, Pastor Wilhelm Steckling, OMI memberikan Salib milik Bapa Pendiri kita, St. Eugenius de Mazeond.

Pastor Steckling mengangkat Salib itu dan meletakkannya di bibir saya sehingga saya dapat mencium patung Kristus Yang Tersalib di Salib itu.  Setelah mencium Salib sebagai tanda persembahan diri (oblatio) saya, Pastor Steckling kemudian meletakkan Salib itu di tangan saya.  Sungguh sebuah situasi yang mengharukan, saya merasa ikatan yang sangat dalam dengan kharisma St. Eugenius, warisannya, dan pribadinya.

Saya tahu tentang Salib Oblat sejak saya masih di kelas 1 Sekolah Dasar.  Para Oblat akan mengunjungi sekolah saya dekat Buffalo, New York, mengenakan jubah mereka dengan Salib Oblat yang besar yang terpajang di dada mereka.  Mereka memutar slide dan memperlihatkan foto-foto karya misi mereka dan Salib Oblat terlihat sangat menonjol dan menarik perhatian.  Meski saya masih kecil, saya begitu kagum pada para Oblat dan pada Salib Oblat mereka yang berwarna hitam dan emas itu.

Add a comment

 

John Francis O'DOHERTY, OMI

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Pastor Henricus Asodo, OMI Selasa, 14 Agustus 2018 10:46

Nama Panggilan :
Pastor "Big" John
Lahir : Brisbane, Australia, 27 April 1934
Kaul Pertama : 1961
Kaul Kekal : 1964
Nomor Oblatio : 11019
Tahbisan Imamat : Melbourne, Australia, 22 Juli 1967
Wafat : Brisbane, Australia, 31 Juli 2018 karena stroke

Pastor John ODoherty, OMI biasa dipanggil Big John oleh rekan-rekan Oblat yang lain karena bertinggi badan 196 cm. Ia mudah dikenali dalam jajaran foto-foto komunitas karena postur tingginya itu. Ia lahir dan besar di Brisbane, Queensland, Australia. Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah, John muda meniti karier di dunia asuransi selama tidak kurang dari 10 tahun. Karier professional ditinggalkannya sejak ia berjumpa dengan para Oblat di kota Casino, di negara bagian New South Wales, Australia. Saat itu ia melihat dari dekat misi para Oblat dan menjadi semakin tertarik untuk bergabung.

Pada tahun 1960, John muda bertekat bulat dengan pilihannya untuk meninggalkan pekerjaannya dan bergabung ke dalam Komunitas Oblat Maria Imakulata Australia. Seperti semua Oblat yang lain, ia memulai masa formasi sebagai seorang calon Imam Oblat Maria Imakulata. Masa Novisiat dijalaninya di Sorrento, Victoria. Kemudian ia berangkat ke Afrika Selatan untuk studi Filsafat di Institut St. Joseph di Cedara. Lalu ia kembali ke Australia untuk studi Teologi di Corpus Christi College, Glen Waverly, Victoria. Tahbisan Imamat diterimanya pada 22 Juli 1967 di Katedral St. Patrick, Melbourne, Victoria.

Add a comment
 

Hamba Tuhan Victor Lelievre, OMI

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Selasa, 29 November 2016 08:39

Hamba Tuhan Victor Lelievre

(1876-1956)

Orang Yang Selaras dengan Kasih Tuhan

Lahir di Brittany, Perancis, pada 03 Maret 1876, Beliau wafat di Quebec pada 29 November 1956.

Victor adalah seorang yang mengesankan dan kuat; berdada lebar dan bertubuh tegap, dengan cara berjalan yang mantap. Wajahnya berbentuk bundar dan sepertinya bersandar pada kedua bahunya. Matanya yang kecil adalah mata yang penuh perhatian dan jenaka. Sama seperti St. Yohanes Maria Vianney, Victor bukan seorang yang berpendidikan dan mampu membaca dengan baik, tetapi sudah jelas tampak bahwa ia adalah seorang utusan Tuhan.

Sebagai korban penganiayaan agama di Perancis saat abad baru, Victor berangkat ke Quebec di tahun 1903. Baru saja tiba di Quebec, ia langsung mewartakan Injil yang dilakukannya dengan tepat dan terkadang dengan tidak tepat. Pengkhotbah yang punya kuasa, ia tahu bagaimana caranya menterjemahkan motto Oblat: Ia mengutus aku untuk menginjili kaum miskin. Kedalaman imannya memampukan Victor untuk menarik kalayak dalam jumlah besar dan membuat seluruh Kota Quebec bergerak untuk prosesi pada Pesta Hati Kudus Yesus. Menggali inspirasi dari Injil yang diketahuinya secara mendalam, ia mampu menarik perhatian dari para pekerja, kaum muda, imam, biarawati dan lain-lainnya selama berjam-jam.

Selama 25 tahun, setiap Jumat Pertama dalam bulan, Rasul Hati Kudus Yesus ini berhasil melaksanakan Adorasi Sakramen Mahakudus selama satu jam untuk 2.000 pekerja yang berpakaian baju terusan warna biru (dungaree) sebuah pencapaian yang mengagumkan. Di tahun 1923, Victor mendirikan Rumah Retret Yesus Pekerja tempat ia sampai hari wafatnya bertemu dengan beribu-ribu kaum laki-laki dan anak muda. Ia memiliki talenta untuk menangkap mereka dan memenangkannya untuk Yesus Kristus sangat sering ia mengubah mereka menjadi rasul-rasul yang tangguh. Daftar yang tidak lengkap memperlihatkan nama dari 80 imam yang ia bangunkan untuk menjadi tersadar akan panggilan suci mereka, 30 laki-laki menjadi imam religius dan lebih dari 100 perempuan religius. Inilah gambaran Victor Lelievre: seorang manusia, imam, Oblat yang sungguh luar biasa.

Add a comment
 

Hamba Tuhan Uskup Pierre Fallaize, OMI

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Rabu, 10 Agustus 2016 11:08

Uskup Pierre Fallaize (1887-1964) berdarah sungguh Norman. Uskup Pierre lahir di Gonneville-sur-Honfleur (Calvados, Perancis). Seorang yatim piatu, ia masuk Seminari Menengah di Lisieux pada tahun 1899.

Setelah menyelesaikan wajib militernya, Pierre mengikuti jejak langkah Uskup Arsene Turquetil, seorang yang berasal dari kampung halamannya juga yang dikenal luas sebagai Uskup Misionaris di wilayah Kutub Utara. Pierre melamar ke OMI, tanpa menunggu jawaban atas lamarannya itu, ia datang ke Novisiat di Bestin, Belgia pada 08 Desember 1906. Kaul Pertamanya diucapkan pada 25 Desember 1907, Pierre menerima tahbisan imamatnya pada tahun 1912. Di tahun berikutnya, ia dikirim ke misi Mackenzie di daerah Kutub Utara yang dikenal sebagai misi yang paling sulit.

Add a comment
 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

«MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir»

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.