BEATO JOSEF CEBULA, OMI

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Rabu, 29 Oktober 2014 01:08

Cinta tak bersyarat bagi Tuhan ditunjukkan lewat hidup – dan juga kematian – dari Beato Jozef Cebula, OMI,  seorang Oblat Polandia yang terbunuh di kamp konsentrasi Mauthausen, dekat Austria, semasa Perang Dunia II.

Pelayanan imamat adalah karya hidupnya meskipun dalam 21 hari terakhirnya di dunia dia hidupi dalam penderitaan.  Pada 18 April 1941, Jozef ditangkap oleh Nazi dan dibawa ke kamp konsentrasi di Mauthausen.  Di sana ia disiksa hanya karena dia adalah seorang imam.

Pastor Jozef dipaksa untuk memanggul 60 pon (sekitar 30 kg) batu dari tempat penggalian ke kamp konsentrasi yang berjarak 2 mil.  Ia harus melewati 144 anak tangga yang disebut “Tangga-Tangga Kematian” sambil dipukuli dan dicaci-maki oleh para penyiksanya.  Hanya 2 kali perjalanan yang sulit itu yang mampu ia lakukan.

 

Add a comment
 

5 CIRI KHAS OBLAT MARIA IMAKULATA

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Senin, 25 Agustus 2014 20:01

Sering ada yang bertanya: “Apa bedanya OMI dengan Kongregasi lain?” Pertanyaan ini nampak biasa dan mudah dijawab, namun setelah disebutkan perbedaannya, masih juga ada pertanyaan lanjutannya: “Bukankah hal demikian juga ada dalam Kongregasi yang lain?” Memang tak mudah jika harus mencari sesuatu yang khas, yang membedakan, yang hanya ada dalam OMI dan tidak ada pada Kongregasi yang lain.

Menyebut karya dan unsur-unsur pokok sering malah bukan membedakan atau memisahkan tetapi jadi menyamakan atau mempertemukan dengan Kongregasi lain. Menyebut Bunda Maria, Hati Kudus, Misionaris, Salib, pelayanan kepada orang miskin, dan seterusnya, justru hal-hal itulah harta kekayaan Gereja yang setiap Kongregasi Religius ingin ambil bagian. Logo dan motto setiap Kongregasi Religius juga banyak memiliki kesamaan, karena ditimba dari Sumber Rohani yang sama yakni Tradisi dan Kitab Suci. Maka semakin diuraikan, semakin tampak kesamaan dan keterkaitan OMI dengan Kongregasi lain. Kemiripan itu menuntun pada kekaguman bahwa masing-masing Kongregasi, meski mandiri dan otonom, bersatu dalam perutusan Gereja yang sama dengan Roh Penggerak yang sama pula. Itulah salah satu wujud Gereja yang Satu.

Namun tetaplah tidak bisa dipungkiri bahwa setiap Kongregasi memang berbeda. Pertanyaan tentang ciri khas sebuah Kongregasi tetap perlu untuk dijawab.  Fakta juga menunjukkan bahwa masing-masing Kongregasi memiliki kekhasan; tidak bisa disamakan begitu saja. Dari yang kelihatan saja - misalnya model pakaian biaranya, model salib dan aneka atribut lainnya, model pelayanan dan cara hidupnya serta Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) Kongregasinya. Semua itu menuntun pada ciri khas yang membentuk sebuah Kongregasi Religius, yang kemudian ingin dihidupi dan diwariskan oleh dan bagi generasi berikut.

Add a comment
 

Terpujilah Yesus Kristus dan Maria Imakulata

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Minggu, 08 Juni 2014 21:17

Dalam tradisi OMI, setiap menutup satu sesi pertemuan atau setiap penulisan surat resmi oleh Superior Jenderal dan para pimpinan selalu diawali dengan "L.J.C et M.I" - singkatan dari Laudetur Jesus Christus et Maria Immaculata.  Arti dari seruan ini adalah "Terpujilah Yesus Kristus dan Maria Imakulata".

Tradisi ini dimulai oleh Santo Eugenius de Mazenod.  Pada awal berdiri Kongregasi, dia hanya memakai "L.J.C" pada awal suratnya.  Namun, setelah Kongregasi mendapat persetujuan dari Paus Leo XII dan diberi nama Kongregasi Misionaris Oblat Maria Imakulata, Eugenius de Mazenod menambahkan "M.I" pada awal suratnya, sehingga menjadi "L.J.C. et M.I."

Selanjutnya, dia selalu menggunakan seruan itu pada setiap awal suratnya.

Add a comment

 

SALIB OBLAT

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Sabtu, 31 May 2014 16:23

 

Seorang Oblat senantiasa mengenakan Salib Misionaris, Salib Oblat, yang berukuran cukup besar. Salib Oblat merupakan tanda khas Misionaris OMI. Konstitusi OMI No. 64 menyebutkan: “Pakaian Oblat sama dengan pakaian Klerus di mana kita berkarya. Ketika kita mengenakan jubah, tanda kita satu-satunya adalah Salib Oblat.”

Tanda ini mengungkapkan inti perutusan para Oblat yang mengalir dari pengalaman pribadi Bapa Pendiri OMI, St. Eugenius de Mazenod. Salib menjadi tanda pertobatan Pendiri OMI.

Dalam catatan pribadinya ketika menjalani retret, 1814, Eugenius mengingat kembali apa yang terjadi pada hari Jumat Agung 1807. Bagi Bapa Pendiri, Salib merupakan bagian terpenting dalam kehidupan rohaninya.

Kepada Pastor Tempier, kerabat kerja pertamanya, Eugenius menulis: “Sahabatku yang terkasih, bacalah surat ini di bawah kaki Salib dengan niat hanya untuk mencari Tuhan dan apa yang dituntut dari seorang imam seperti kita demi kemuliaanNya dan demi keselamatan jiwa-jiwa.”

Sebelum wafat, Eugenius mengatakan: “Para Oblatku terkasih, aku disalib. Aku senang tigngal di salib dan mempersembahkan penderitaanku kepada Tuhan.”

Pada saat menulis Konstitusi dan Aturan Kongregasi, Eugenius selalu menempatkan Salib Misionarisnya di aatas meja.

 

Add a comment
 

Jean SUBRA, OMI

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Sabtu, 24 May 2014 01:47

JEAN SUBRA, OMI

 

Nama Panggilan : Pastor Subra
Lahir : Perancis, 22 Februari 1923
Kaul Pertama : 1942
Kaul Kekal : 1946
Nomor Oblatio : 7632
Tahbisan Imamat     
: Perancis, 04 Juli 1948
Wafat :   
Perancis (Fougeres), 09 Februari 2000 karena sakit

 

 

Pada tahun 1975, Pastor Subra datang ke Indonesia untuk mencari informasi tentang kemungkinan dibukanya misi para Oblat Perancis. Pada Agustus 1976 diputuskan oleh Administrasi Jenderal untuk mengabulkan permohonan Keuskupan Sintang, Kalimantan Barat, yang meminta tenaga para Oblat. Maka dibentuklah kelompok voluntir berjumlah 7 orang: (1) Pastor Jean Subra, umur 53 tahun, 26 tahun berkarya di Laos, melayani Suku Kmhmu; (2) Pastor Lucien Bouchard, umur 47 tahun, 10 tahun berkarya di Laos, melayani pengungsi di daerah pegunungan selama 14 tahun; (3) Pastor Jean-Pierre Meichel, umur 40 tahun, 11 tahun berkarya di Laos, di tengah-tengah penganut agama Buddha dan animisme; (4) Pastor Andre Hebting, 39 tahun, 9 tahun berkarya di Laos, melayani Suku Kmhmu; (5) Pastor Rene Colin, umur 37 tahun, 6 tahun berkarya di Laos, melayani 1 paroki yang terdiri dari orang-orang Suku Lao yang menganut agama Katolik; (6) Pastor Jacques Chapuis, umur 36 tahun, 7 tahun berkarya di Laos, terlibat dalam kalangan orang muda dan dalam dialog bersama penganut agama Buddha selama 3 tahun; (7) Pastor Bernard Keradec, umur 30 tahun, mendapat kesempatan belajar bahasa selama 2 tahun di antara Thailand dan Laos. Mereka tiba di Bandara Kemayoran pada tanggal 29 Januari 1977 dan disambut oleh Pastor David Shelton, seorang Oblat Australia yang telah lebih dahulu berkarya di Indonesia.


Kelompok Oblat Perancis ini kemudian tinggal di Bandung untuk belajar Bahasa Indonesia dari awal Februari sampai pertengahan Mei 1977. Mereka kemudian tinggal di komunitas para Oblat Australia di Keuskupan Purwokerto.  Pastor Bernard, Jean-Pierre, dan Jacques tinggal di Paroki St.Yosef, Purwokerto Timur, sementara Pastor Subra, Lucien, Rene dan Andre tinggal di Cilacap.

Add a comment
 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

«MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir»

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.