SALIB OBLAT

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Sabtu, 31 May 2014 16:23

 

Seorang Oblat senantiasa mengenakan Salib Misionaris, Salib Oblat, yang berukuran cukup besar. Salib Oblat merupakan tanda khas Misionaris OMI. Konstitusi OMI No. 64 menyebutkan: “Pakaian Oblat sama dengan pakaian Klerus di mana kita berkarya. Ketika kita mengenakan jubah, tanda kita satu-satunya adalah Salib Oblat.”

Tanda ini mengungkapkan inti perutusan para Oblat yang mengalir dari pengalaman pribadi Bapa Pendiri OMI, St. Eugenius de Mazenod. Salib menjadi tanda pertobatan Pendiri OMI.

Dalam catatan pribadinya ketika menjalani retret, 1814, Eugenius mengingat kembali apa yang terjadi pada hari Jumat Agung 1807. Bagi Bapa Pendiri, Salib merupakan bagian terpenting dalam kehidupan rohaninya.

Kepada Pastor Tempier, kerabat kerja pertamanya, Eugenius menulis: “Sahabatku yang terkasih, bacalah surat ini di bawah kaki Salib dengan niat hanya untuk mencari Tuhan dan apa yang dituntut dari seorang imam seperti kita demi kemuliaanNya dan demi keselamatan jiwa-jiwa.”

Sebelum wafat, Eugenius mengatakan: “Para Oblatku terkasih, aku disalib. Aku senang tigngal di salib dan mempersembahkan penderitaanku kepada Tuhan.”

Pada saat menulis Konstitusi dan Aturan Kongregasi, Eugenius selalu menempatkan Salib Misionarisnya di aatas meja.

 

 

Jean SUBRA, OMI

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Sabtu, 24 May 2014 01:47

JEAN SUBRA, OMI

 

Nama Panggilan : Pastor Subra
Lahir : Perancis, 22 Februari 1923
Kaul Pertama : 1942
Kaul Kekal : 1946
Nomor Oblatio : 7632
Tahbisan Imamat     
: Perancis, 04 Juli 1948
Wafat :   
Perancis (Fougeres), 09 Februari 2000 karena sakit

 

 

Pada tahun 1975, Pastor Subra datang ke Indonesia untuk mencari informasi tentang kemungkinan dibukanya misi para Oblat Perancis. Pada Agustus 1976 diputuskan oleh Administrasi Jenderal untuk mengabulkan permohonan Keuskupan Sintang, Kalimantan Barat, yang meminta tenaga para Oblat. Maka dibentuklah kelompok voluntir berjumlah 7 orang: (1) Pastor Jean Subra, umur 53 tahun, 26 tahun berkarya di Laos, melayani Suku Kmhmu; (2) Pastor Lucien Bouchard, umur 47 tahun, 10 tahun berkarya di Laos, melayani pengungsi di daerah pegunungan selama 14 tahun; (3) Pastor Jean-Pierre Meichel, umur 40 tahun, 11 tahun berkarya di Laos, di tengah-tengah penganut agama Buddha dan animisme; (4) Pastor Andre Hebting, 39 tahun, 9 tahun berkarya di Laos, melayani Suku Kmhmu; (5) Pastor Rene Colin, umur 37 tahun, 6 tahun berkarya di Laos, melayani 1 paroki yang terdiri dari orang-orang Suku Lao yang menganut agama Katolik; (6) Pastor Jacques Chapuis, umur 36 tahun, 7 tahun berkarya di Laos, terlibat dalam kalangan orang muda dan dalam dialog bersama penganut agama Buddha selama 3 tahun; (7) Pastor Bernard Keradec, umur 30 tahun, mendapat kesempatan belajar bahasa selama 2 tahun di antara Thailand dan Laos. Mereka tiba di Bandara Kemayoran pada tanggal 29 Januari 1977 dan disambut oleh Pastor David Shelton, seorang Oblat Australia yang telah lebih dahulu berkarya di Indonesia.


Kelompok Oblat Perancis ini kemudian tinggal di Bandung untuk belajar Bahasa Indonesia dari awal Februari sampai pertengahan Mei 1977. Mereka kemudian tinggal di komunitas para Oblat Australia di Keuskupan Purwokerto.  Pastor Bernard, Jean-Pierre, dan Jacques tinggal di Paroki St.Yosef, Purwokerto Timur, sementara Pastor Subra, Lucien, Rene dan Andre tinggal di Cilacap.

 

Sang Pencinta Santa Perawan Maria

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Jumat, 23 May 2014 00:34

 

St. Eugenius de Mazenod, Bapa Pendiri Kongregasi Oblat Maria Imakulata (OMI), memiliki kecintaan dan devosi yang erat, mesra, dan kuat kepada Santa Perawan Maria. Ia mengalami Bunda Maria sebagai Bunda Surgawi yang berbelas kasih, tempat ia menemukan sandaran dan penghiburan tatkala ia menghadapi kesulitan. Pengalaman ini tidak hanya pengalaman pribadi, tetapi ia wujudkan dalam karya pelayanan dan misi OMI yang dilengkapi dengan karya kerasulan dan devosi kepada Santa Maria. Ia menjadi promoter sejati dari devosi Maria, membimbing para Oblat untuk melaksanakan karya misi di bawah bantuan dan perlindungan Maria.

 

Sebagai puncak karya kerasulan Maria dan untuk menyebarluaskan kemuliaan Maria ke seluruh dunia, St. Eugenius menjadi salah satu penasihat Bapa Suci yang kuat mengenai dogma Maria Imakulata. Ia merupakan salah satu ahli teologi yang dimintai pertimbangan oleh Bapa Suci mengenai hal ini. Ia mendukung Bapa Suci untuk penetapan dogma Maria Imakulata, meminta Sri Paus untuk tidak menyerah kepada kelompok mana pun yang mengajukan keberatan tentang pernyataan ketetapan itu. Itulah wujud cinta dan promosi St. Eugenius yang hebat demi kemuliaan Santa Perawan Maria.

St. Eugenius wafat pada 21 Mei 1861. Pada saat menjelang wafatnya, setelah untuk terakhir kalinya mendoakan para Oblat - putera-puteranya, St. Eugenius memberikan wasiat yang terakhir agar para Oblat mempraktekkan cinta kasih di antara mereka dan di luar agar mengusahakan keselamatan jiwa-jiwa. Sesaat setelah para Oblat yang mengelilinginya mendaraskan “Salve Regina”, St. Eugenius menghembuskan nafas terakhirnya.

 

“Begitulah cara mati yang aku inginkan, dengan sadar menerima kehendak Allah…. Jika aku tertidur dan keadaanku makin memburuk, tolong bangunkan aku. Aku ingin mati dengan menyadari bahwa aku sedang sekarat,” demikian St. Eugenius pernah berujar. Dan memang demikianlah yang terjadi. Hal terakhir yang ia dengar sebelum wafat adalah “Salve Regina”, yang didoakan oleh para Oblat yang dikasihinya, yang dipercayakannya ke dalam perlindungan Santa Maria Imakulata.

(disadur dari buku “Maria Dalam Pandangan Misioner St. Eugenius de Mazenod, Rm. R. Mariyanayagam, OMI)

 

Heribertus Boedhy PRIHATNA, OMI

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Minggu, 18 May 2014 01:48

HERIBERTUS BOEDHY PRIHATNA, OMI


 

Nama Panggilan
Pastor Budi
Lahir : Cilacap, 16 Maret 1963
Kaul Pertama : 1987
Kaul Kekal : 1992
No. Oblatio : 13154
Tahbisan Imamat   
: Cilacap, 05 Oktober 1992
Wafat :

Dankan Silat, 17 Oktober 1998  (karena kecelakaan motor)

 

Pastor Budi lahir di Cilacap dari pasangan Bapak Mikael Sutarjono dan  Ibu Widati. Beliau menyelesaikan pendidikan dasar di Cilacap dan setelah tamat SMP, masuk SMA Negeri I Cilacap. Untuk menanggapi panggilan khusus yang dirasakannya, beliau masuk Seminari Mertoyudan pada Kelas Persiapan Atas (KPA- angkatan 1982/1983). Menurut kesaksian teman-teman semasa di Formasi OMI, Pastor Budi adalah seorang yang  kreatif dan tak bisa diam, selalu saja mengerjakan sesuatu. Kadangkala saking kreatifnya, beliau mengikuti apa saja yang ingin dilakukannya. Hal yang menonjol dari beliau adalah ketika ditegur atau dilarang, beliau taat dan tidak menggerutu. Beliau memiliki banyak ketrampilan, seorang yang  ringan tangan, mudah membantu orang lain yang membutuhkan.

 

Pancrazio DI GRAZIA, OMI

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Rabu, 14 May 2014 01:05

Pancrazio DI GRAZIA, OMI


 

 

Nama Panggilan : Pastor Pancrazio
Lahir : Tricarico, 27 Maret 1930
Kaul Pertama : 25 Desember 1953
Kaul Kekal : 1956
No. Oblatio : 9627
Tahbisan Imamat   
:  
02 Juli 1957
Wafat
: 23 Juni 2011 (karena sakit)

 

Pastor Pancrazio lahir di Matera, Keuskupan Tricarico pada tanggal 27 Maret 1930 dari pasangan Andre dan Anna Spani.  Beliau berasal dari keluarga petani yang sederhana, tetapi memiliki semangat religius yang tinggi yang membentuk hidup rohani Pancrazio kecil.  Di masa remaja, 4 tahun setelah menamatkan pendidikan dasarnya, Beliau masuk Seminari Menengah dan menyelesaikan pendidikan menengah atasnya dari tahun 1945-1950, lalu melanjutkan ke Seminari Pontifikal Regional di Salerno pada 1950-1952.  Beliau mengenal Kongregasi Oblat Maria Imakulata dan berpikir ulang untuk bergabung sebagai misionaris.  Beliau akhirnya memutuskan untuk masuk dalam keluarga St. Eugenius de Mazenod meski keputusan ini tidak sejalan dengan pendapat kedua orangtuanya. Ia meninggalkan Seminari tanpa pemberitahuan kepada mereka.

 

Rektor Seminari di Salerno, Mgr. Arrigo Pintonello, saat menulis untuk Kongregasi OMI, mengatakan bahwa Pancrazio adalah seorang pemuda dengan ”perilaku tak tercela, seorang teladan dalam kebaikan. Ia supel dalam pergaulan dengan semangat kebajikan, kesederhanaan, dan kebaikan hati.”    Dan kata-kata saja tidak dapat menjadi bukti.  Pastor Augustino Argentieri, Magister Novis-nya, saat upacara Kaul Pertama Pancrazio yang diselenggarakan pada Hari Natal tahun 1953, menulis di bagian Kepribadian dan Spiritualitasnya:  “Tenang, rettissimo (?), sederhana, dan kaku. Sangat saleh dan tekun.  Sedikit ‘gigih’ dalam berpendapat, rendah hati, dan sangat penyendiri.  Sangat penurut dan patuh pada pimpinannya; sangat taat.  Hidupnya sangat mendalam dan spiritual, mantap dalam bekerja seperti terlihat selama beberapa tahun ini. Ia saleh dan penuh dengan penyangkalan diri.  Berjiwa sosial dan berbelas kasih.  Dicintai semua orang, ia memiliki hidup spiritual yang mantap.”

 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

«MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir»

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.