Sang Pencinta Santa Perawan Maria

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Jumat, 23 May 2014 00:34

 

St. Eugenius de Mazenod, Bapa Pendiri Kongregasi Oblat Maria Imakulata (OMI), memiliki kecintaan dan devosi yang erat, mesra, dan kuat kepada Santa Perawan Maria. Ia mengalami Bunda Maria sebagai Bunda Surgawi yang berbelas kasih, tempat ia menemukan sandaran dan penghiburan tatkala ia menghadapi kesulitan. Pengalaman ini tidak hanya pengalaman pribadi, tetapi ia wujudkan dalam karya pelayanan dan misi OMI yang dilengkapi dengan karya kerasulan dan devosi kepada Santa Maria. Ia menjadi promoter sejati dari devosi Maria, membimbing para Oblat untuk melaksanakan karya misi di bawah bantuan dan perlindungan Maria.

 

Sebagai puncak karya kerasulan Maria dan untuk menyebarluaskan kemuliaan Maria ke seluruh dunia, St. Eugenius menjadi salah satu penasihat Bapa Suci yang kuat mengenai dogma Maria Imakulata. Ia merupakan salah satu ahli teologi yang dimintai pertimbangan oleh Bapa Suci mengenai hal ini. Ia mendukung Bapa Suci untuk penetapan dogma Maria Imakulata, meminta Sri Paus untuk tidak menyerah kepada kelompok mana pun yang mengajukan keberatan tentang pernyataan ketetapan itu. Itulah wujud cinta dan promosi St. Eugenius yang hebat demi kemuliaan Santa Perawan Maria.

St. Eugenius wafat pada 21 Mei 1861. Pada saat menjelang wafatnya, setelah untuk terakhir kalinya mendoakan para Oblat - putera-puteranya, St. Eugenius memberikan wasiat yang terakhir agar para Oblat mempraktekkan cinta kasih di antara mereka dan di luar agar mengusahakan keselamatan jiwa-jiwa. Sesaat setelah para Oblat yang mengelilinginya mendaraskan “Salve Regina”, St. Eugenius menghembuskan nafas terakhirnya.

 

“Begitulah cara mati yang aku inginkan, dengan sadar menerima kehendak Allah…. Jika aku tertidur dan keadaanku makin memburuk, tolong bangunkan aku. Aku ingin mati dengan menyadari bahwa aku sedang sekarat,” demikian St. Eugenius pernah berujar. Dan memang demikianlah yang terjadi. Hal terakhir yang ia dengar sebelum wafat adalah “Salve Regina”, yang didoakan oleh para Oblat yang dikasihinya, yang dipercayakannya ke dalam perlindungan Santa Maria Imakulata.

(disadur dari buku “Maria Dalam Pandangan Misioner St. Eugenius de Mazenod, Rm. R. Mariyanayagam, OMI)

Add a comment
 

Heribertus Boedhy PRIHATNA, OMI

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Minggu, 18 May 2014 01:48

HERIBERTUS BOEDHY PRIHATNA, OMI


 

Nama Panggilan
Pastor Budi
Lahir : Cilacap, 16 Maret 1963
Kaul Pertama : 1987
Kaul Kekal : 1992
No. Oblatio : 13154
Tahbisan Imamat   
: Cilacap, 05 Oktober 1992
Wafat :

Dankan Silat, 17 Oktober 1998  (karena kecelakaan motor)

 

Pastor Budi lahir di Cilacap dari pasangan Bapak Mikael Sutarjono dan  Ibu Widati. Beliau menyelesaikan pendidikan dasar di Cilacap dan setelah tamat SMP, masuk SMA Negeri I Cilacap. Untuk menanggapi panggilan khusus yang dirasakannya, beliau masuk Seminari Mertoyudan pada Kelas Persiapan Atas (KPA- angkatan 1982/1983). Menurut kesaksian teman-teman semasa di Formasi OMI, Pastor Budi adalah seorang yang  kreatif dan tak bisa diam, selalu saja mengerjakan sesuatu. Kadangkala saking kreatifnya, beliau mengikuti apa saja yang ingin dilakukannya. Hal yang menonjol dari beliau adalah ketika ditegur atau dilarang, beliau taat dan tidak menggerutu. Beliau memiliki banyak ketrampilan, seorang yang  ringan tangan, mudah membantu orang lain yang membutuhkan.

Add a comment
 

Pancrazio DI GRAZIA, OMI

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Rabu, 14 May 2014 01:05

Pancrazio DI GRAZIA, OMI


 

 

Nama Panggilan : Pastor Pancrazio
Lahir : Tricarico, 27 Maret 1930
Kaul Pertama : 25 Desember 1953
Kaul Kekal : 1956
No. Oblatio : 9627
Tahbisan Imamat   
:  
02 Juli 1957
Wafat
: 23 Juni 2011 (karena sakit)

 

Pastor Pancrazio lahir di Matera, Keuskupan Tricarico pada tanggal 27 Maret 1930 dari pasangan Andre dan Anna Spani.  Beliau berasal dari keluarga petani yang sederhana, tetapi memiliki semangat religius yang tinggi yang membentuk hidup rohani Pancrazio kecil.  Di masa remaja, 4 tahun setelah menamatkan pendidikan dasarnya, Beliau masuk Seminari Menengah dan menyelesaikan pendidikan menengah atasnya dari tahun 1945-1950, lalu melanjutkan ke Seminari Pontifikal Regional di Salerno pada 1950-1952.  Beliau mengenal Kongregasi Oblat Maria Imakulata dan berpikir ulang untuk bergabung sebagai misionaris.  Beliau akhirnya memutuskan untuk masuk dalam keluarga St. Eugenius de Mazenod meski keputusan ini tidak sejalan dengan pendapat kedua orangtuanya. Ia meninggalkan Seminari tanpa pemberitahuan kepada mereka.

 

Rektor Seminari di Salerno, Mgr. Arrigo Pintonello, saat menulis untuk Kongregasi OMI, mengatakan bahwa Pancrazio adalah seorang pemuda dengan ”perilaku tak tercela, seorang teladan dalam kebaikan. Ia supel dalam pergaulan dengan semangat kebajikan, kesederhanaan, dan kebaikan hati.”    Dan kata-kata saja tidak dapat menjadi bukti.  Pastor Augustino Argentieri, Magister Novis-nya, saat upacara Kaul Pertama Pancrazio yang diselenggarakan pada Hari Natal tahun 1953, menulis di bagian Kepribadian dan Spiritualitasnya:  “Tenang, rettissimo (?), sederhana, dan kaku. Sangat saleh dan tekun.  Sedikit ‘gigih’ dalam berpendapat, rendah hati, dan sangat penyendiri.  Sangat penurut dan patuh pada pimpinannya; sangat taat.  Hidupnya sangat mendalam dan spiritual, mantap dalam bekerja seperti terlihat selama beberapa tahun ini. Ia saleh dan penuh dengan penyangkalan diri.  Berjiwa sosial dan berbelas kasih.  Dicintai semua orang, ia memiliki hidup spiritual yang mantap.”

Add a comment
 

Markus Boli WITIN, OMI

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Senin, 05 May 2014 00:59

Markus Boli WITIN, OMI

 

Nama Panggilan     
: Pastor Markus
Lahir : Lembata, 23 Juni 1960
Kaul Pertama : 1987
Kaul Kekal : 1996
No. Oblatio : 13453
Tahbisan Imamat  
: Banyumas, 04 Juli 1997
Wafat
:  

Dankan Silat, 19 Februari 2007 karena kecelakaan sepeda motor

Pastor Markus adalah Oblat ketiga yang berasal dari NTT, setelah Pastor Nikolaus Ola Paokuma dan Pastor Vincentius Kaya Watun. untuk menanggapi panggilannya, Beliau merantau ke Jawa dan bergabung dengan Kongregasi OMI. Setelah menjalani masa Novisiat dan studi Filsafat, Beliau memilih untuk keluar dari OMI. Beliau bekerja di PT Sadaya Utama milik Keluarga J. Handoko, seorang tokoh umat di Paroki Trinitas, Cengkareng, Jakarta. Namun Beliau merasakan bahwa panggilan khususnya tidak pudar. Setelah beberapa tahun bekerja, Beliau memohon untuk kembali bergabung dengan Kongregasi OMI di tahun 1994 dan melanjutkan studi persiapan sebagai persyaratan untuk dapat ditahbiskan menjadi imam.

Add a comment
 

Jean-Pierre MEICHEL, OMI

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Kamis, 24 April 2014 01:52

Jean-Pierre MEICHEL, OMI


 

Nama Panggilan     
: Pastor Jean-Pierre Meichel
Lahir : Strasbourg, Perancis, 30 Maret 1936
Kaul Pertama : 1956
Kaul Kekal : 1962
No. Oblatio : 10662
Tahbisan Imam : Perancis, 19 Maret 1964
Wafat :  
Perancis, 16 Januari 2013

 


Pastor Jean-Pierre MEICHEL lahir pada 30 Maret 1936 di kota Mulhouse, Strasbourg (Perancis Timur). Beliau dibesarkan di tengah empat saudari dan saudara: Melania, saudarinya, dan dua saudara bernama Camille dan Philibert yang kemudian masuk Kongregasi Marianis dan melayani di Pantai Gading (Afrika Barat).

Pada usia sangat muda,  Pastor Jean-Pierre berkenalan dengan para Misionaris OMI berkat jasa seorang guru SD, Ibu GOLLE, yang juga menjadi pelindung baginya. Kemudian beliau belajar di Sekolah Apostolik di Augny sampai tahun 1955 saat beliau masuk Novisiat OMI di La Brosse Montceaux.

Pastor Jean-Pierre mengikrarkan Kaul Pertamanya pada 08 September 1956 dan masuk Skolastikat OMI di Solignac (dekat kota Limoges, Perancis) sampai tahun 1964. Dalam masa pendidikan itu, beliau  sempat menjalani wajib militer selama 2 tahun yaitu pada 1959-1961 di tengah konflik di Aljazair. Pada 19 Maret 1964, beliau menerima Tahbisan Imamatnya di Augny bersama 3 konfrater Provinsi OMI Perancis Timur.

Pada tahun yang sama, Beliau menerima surat penugasannya yang pertama untuk misi di Laos dan berkarya di sana sampai tahun 1976. Pada tahun itulah Pastor Jean-Pierre terpaksa meninggalkan tempat misinya bersama semua Misionaris yang lain dari aneka Kongregasi dan asal negara karena situasi politik yang tidak memungkinkan.

Add a comment
 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

«MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir»

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.