Deprecated: Call-time pass-by-reference has been deprecated in /home/omiindonesia/public_html/plugins/content/jw_disqus.php on line 40

Deprecated: Call-time pass-by-reference has been deprecated in /home/omiindonesia/public_html/plugins/content/jw_disqus.php on line 40

Pietro Maria BONOMETTI, OMI

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Jumat, 28 Februari 2014 00:33

Pietro-Maria BONOMETTI, OMI



 

 

 

 

 

Nama Indonesia    
:      
Petrus Maria Mitro Dharmo
Nama Panggilan : Pastor Pierro
Lahir : Brascia, Italia, 05 Februari 1935
Kaul Pertama : 1954
Kaul Kekal : 1957
No. Oblatio : 9800
Tahbisan Imam : Italia, 09 Februari 1958
Wafat : Balikpapan, 03 Juli 2010, karena sakit.

Pastor Pierro adalah pribadi yang enerjik dan eksentrik. Suaranya keras, lugas, dan terus terang. Yang selalu menjadi ciri khas pada Beliau adalah untaian kalung Rosario yang tak pernah lepas dari tangannya. Beliau lahir dari keluarga yang sungguh berdevosi kuat pada Bunda Maria sebagai anak bungsu dari 3 bersaudara. Sejak kecil Pastor Pierro memang punya keinginan kuat untuk membaktikan diri pada Bunda Maria dan Puteranya sebagai Imam. Beliau masuk Seminari tahun 1954, ditahbiskan dalam usia 23 tahun pada 09 Februari 1958 yang bertepatan dengan perayaan 100 tahun penampakan Bunda Maria di Lourdes. Beliau memilih OMI terutama karena daya magnit Bunda Maria yang begitu kuat, dan karena beliau ingin menjadi Misionaris ke China.

Ketaatan membawanya pada karya sebagai Misionaris di Laos. Dua puluh tahun pelayanannya pada domba-domba Allah di Laos menggoreskan kenangan yang sungguh tak pernah dapat dilupakannya. Kalau pada akhirnya beliau harus meninggalkan umatnya dalam kepedihan karena diusir oleh rezim Komunis yang menguasai Laos, beliau mengingat hal itu sebagai perpisahan seperti yang digambarkan dalam Kisah Para Rasul Bab 20:17-38.

Add a comment
 

John Kevin CASEY, OMI

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Selasa, 25 Februari 2014 23:52

John Kevin CASEY, OMI

Nama Panggilan
Romo Yohanes
Lahir : Colac (Victoria - Australia), 10 Juni 1036
Kaul Pertama : 1956
Kaul Kekal : 1959
No. Oblatio : 10085
Tahbisan Imam : Durban, Afrika Selatan, 03 Februari 1961
Wafat : Cilacap, 15 Mei 2013, karena sakit

 

Saat para Oblat tengah sibuk mempersiapkan diri menyongsong usia 20 tahun berdirinya Provinsi OMI Indonesia, berita duka datang dari Paroki St. Stephanus, Cilacap, Jawa Tengah. Telah berpulang dalam damai, Pastor John Kevin Casey, OMI (biasa dipanggil: Romo Yohanes), Rabu, 15 Mei 2013, pkl. 00.15 WIB di Cilacap, dalam usia 77 tahun, karena sakit.

Jenazah disemayamkan di Paroki St. Stephanus Cilacap, Rabu-Kamis, 15-16 Mei 2013. Pada Kamis, 16 Mei 2013, jenazah diberangkatkan ke Banyumas, disemayamkan semalam di Paroki Sta. Maria Imakulata, Banyumas. Pemakaman diselenggarakan Jumat, 17 Mei 2013, di Kolumbarum Para Romo, Kaliori, Jawa Tengah.

Romo Yohanes lahir di Colac, sebuah kota kecil di sebelah barat negara bagian Victoria, Australia, 10 Juni 1936 dari pasangan John Joseph Casey dan Eileen Mary. Beliau mempunyai seorang adik. Pendidikan Sekolah Dasar ditamatkannya di Colac, kemudian beliau melanjutkan dengan masuk Seminari Menengah St. Yoseph di Geelong, kota kedua terbesar di negara bagian Victoria, Australia. Awalnya, beliau ingin menjadi Imam Diosesan, tetapi berubah pikiran setelah bertemu dengan seorang Oblat yang datang ke Parokinya untuk berkhotbah dan memberikan informasi tentang OMI. Pada tahun 1955, Beliau masuk Novisiat OMI di Sorrento, Australia, lalu dikirim ke Cedara, Natal, Afrika Selatan, untuk belajar Filsafat dan Teologi.

Add a comment
 

LAKUKANLAH, MAKA ENGKAU AKAN HIDUP

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Senin, 17 Februari 2014 11:34

 

Pada 17 Februari 1826, Bapa Suci Paus Leo XII memberikan persetujuan resminya yang menguatkan keputusan Kongregasi Para Kardinal atas Lembaga, Konstitusi dan Aturan Hidup Kongregasi Misionaris Oblat Maria Imakulata (OMI).

Konstitusi dan Aturan Hidup wajib dimiliki oleh sebuah Kongregasi Imam Religius untuk mendapat pengesahan keberadaan Kongregasi di tingkat Keuskupan maupun Kepausan. Konstitusi dan Aturan Hidup mewadahi seluruh karisma Kongregasi sehingga menjadi pegangan dan pedoman bagi seluruh anggota Kongregasi dalam bertindak dan berlaku.

Dalam literatur keagamaan dari abad pertama, kata “Aturan” (Regula) diartikan sebagai cara hidup menurut model yang telah ditentukan, gaya hidup biarawan atau guru spiritual, tetapi di atas segalanya, “Aturan” mengacu pada kehidupan Yesus Kristus dan para rasulNya. Dalam masa yang lebih baru – Abad ke-16 - “Aturan Hidup” sebuah Kongregasi dapat dipahami sebagai ekspresi dan inspirasi asli, pengalaman spiritual dan pastoral dari kelompok inti Pendiri Kongregasi. Konstitusi akan selalu berdampingan dengan Aturan Hidup karena yang terakhir menjelaskan arti dasar dan adaptasi dari Konstitusi ke dalam keadaan konkrit yang sedang berlangsung.

 

Add a comment
 

Para Martir Laos

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Pastor Reynold Agustinus, OMI Rabu, 30 Oktober 2013 20:37

Dalam masa Paskah tahun 1953, ketika para gerilyawan menyerang Sam Neua, Laos, banyak misionaris mencari tempat perlindungan yang aman. Namun Joseph Thao Tien, seorang imam Laos yang masih muda yang ditahbiskan tahun 1949, berkeputusan lain: “Saya tetap tinggal bersama umat saya. Saya siap mengorbankan hidup saya bagi saudara dan saudari saya, orang-orang Laos.” Dia dibawa ke penjara di Talang. Sepanjang perjalanan orang-orang berlutut, dan menangis. Dia berkata kepada mereka: “Jangan bersedih, saya akan kembali. Saya hanya pergi untuk belajar.... usahakanlah agar kampungmu semakin maju.” Satu tahun kemudian, 2 Juni 1954, Joseph Thao Tien dihukum dan ditembak. Meskipun mendapat banyak tawaran yang menggiurkan, dia menolak semuanya demi mempertahankan imamatnya. Sementara itu, di bagian lain dari negara tersebut, Pastor John Baptist Malo, mantan misionaris di Cina, ditahan bersama empat rekannya. Tidak  lama, pada 1945, dalam perjalanannya menuju penjara, dia meninggal dunia karena kelelahan dan karena perawatan kesehatan yang minim di desa terpencil di Vietnam Tengah. Pada 1959, konfraternya Rene Dubroux, mantan tahanan perang 1940, dikhianati oleh rekan sahabat dekatnya dan dibunuh seolah-olah penghalang jalan para guerilla. Pada tahun itu, Tahta Suci memberikan perintah: “Semua anggota imam dan biarawan/i – kecuali yang jelas-jelas sudah tua dan sakit – harus tetap tinggal di tempat tugas mereka sampai mereka diusir.” Semua misionaris dengan gembira menaati perintah itu; kendati bagi sejumlah dari mereka berarti hukuman mati. Tahun 1960, seorang katekis muda dari suku Hmong, Thoj Xyooj, pergi bersama Pastor Mario Borzaga OMI untuk kunjungan apostolik ke sejumlah kampung; mereka tidak pernah kembali. Pada April dan May 1961, Pastor Louis Leroy OMI, Pastor Michael Coquelet OMI and Pastor Vincent L’Henoret OMI diculik dari tempat misi mereka di provinsi Xieng Khouang dan dibunuh dengan kejam. Di Laos bagian selatan Pastor Noel Tenaud dan katekisnya yang setia Outhay ditangkap dan dibunuh. Pastor Marcel Denis dipenjara untuk sementara waktu tetapi juga dibunuh dengan cara yang sama. Salah satu konfrater mereka menulis: “Mereka semua adalah misionaris yang patut dipuji, siap untuk mengorbankan segalanya. Mereka sungguh menghayati semangat kemiskinan dan dedikasi mereka tidak ada batasnya. Pada masa-masa sulit tersebut kami semua, sampai pada arti tertentu, terinspirasi oleh semangat kemartiran, ingin menyerahkan hidup kami seluruhnya kepada Kristus. Kami tidak takut menyerahkan hidup kami. Kami semua berusaha melayani yang paling miskin di antara orang miskin, mengunjungi kampung-kampung mereka, merawat orang sakit, dan terutama mewartakan Injil Kristus...” Pastor John Wauthier OMI adalah rasul yang tidak kenal lelah melayani para pengungsi dan dengan berani memperjuangkan keadilan atas nama mereka. Pada 1967 kelompok lain menjebak dia dan menghabisinya. Orang-orang yang dia tinggalkan menangis dan meratapi dia: “Kami kehilangan Bapa kami!” Pastor John lebih dari sekali terlihat sudah mati dalam wajahnya yang jelek. Dia sudah siap. Dia menyerahkan hidupnya demi cinta kepada umatnya.Pada 1968 Pastor Lucien Galan, yang pernah bermisi di Cina, mengunjungi beberapa katekumen di daerah terpencil di daratan tinggi Boloven. Karena adanya ancaman bahaya, muridnya, Khampeuane, yang berusia 16 tahun, memutuskan untuk ikut. Dalam perjalanan pulang, musuh sudah menanti mereka; keduanya dibunuh, dan darah mereka tertumpah di atas tanah Laos. Satu tahun kemudian, giliran Pastor Joseph Boissel OMI, 60, seorang veteran misi Laos. Dia dijebak dalam perjalanannya mengunjungi komunitas Kristen di daerah yang terpencil dan dibunuh dengan cara yang sama.

Add a comment
 

Beato Joseph Gerard, OMI

Artikel - Warisan Oblat

Ditulis oleh Administrator Minggu, 07 April 2013 23:00

BEATO JOSEPH GERARD: MISIONARIS OBLAT, BAPA GEREJA LESOTHO

Pastor Joseph Gerad lahir pada 12 Maret 1831 di Bouxieres-Chenes, Perancis. Anak sulung dari pasangan John Gerard dan Ursule Stofflet, Joseph kecil mendapat pendidikan dasar dan menengah yang sederhana. Pada 1851, Joseph masuk Kongregasi Oblat Maria Imakulata di Notre-Dame de l'Osier, Perancis. Formasi teologinya dimulai di Seminari Tinggi Nancy, diteruskan di Marsielles dan ditamatkannya di Lesotho, Afrika Selatan.

Pastor Joseph bertumbuh dalam keluarga Kristiani yang taat. Formasi dasar spiritualnya terjadi di dalam keluarganya, juga lewat komunitas Kristiani dan sekolah Katolik tempat ia dididik. Masih cukup muda, ia telah mendengar panggilan Kristus untuk menjadi imamNya. Saat ia mempersiapkan tahbisannya, ia merasakan panggilan untuk menjadi seorang misionaris, maka ia memutuskan untuk bergabung dengan Kongregasi Oblat Maria Imakulata yang kala itu masih termasuk Kongregasi baru yang dibentuk oleh St. Eugenius de Mazenod, Uskup Marseilles, Perancis.

Di tahun 1852, masih sebagai Diakon, ia meninggalkan Eropa menuju Afrika. Ia tidak pernah kembali untuk menjenguk keluarganya maupun menginjak tanah Eropa lagi. Setelah menerima tahbisan imamat dari Uskup setempat di tahun 1854, ia berkarya di tengah-tengah suku Zulu, di Natal, negara kecil koloni Inggris di Afrika bagian selatan. Kala itu, Natal masih berbentuk Vikariat Apostolik. Pada tahun 1862, Pastor Joseph diutus ke Kerajaan Lesotho untuk membuka karya misi baru di sana. Bersama Uskup Allard yang mentahbiskannya dan Bruder Bernard, mereka diterima oleh Raja Moshoeshoe I. Komunitas Katolik pertama terbentuk sudah di Lesotho yang diberi nama "Desa Bunda Kristus" (sekarang tempat ini dikenal dengan nama "Roma Valley" (Lembah Roma). 14 tahun menjadi pionir misi Katolik di Lembah Roma, Pastor Joseph membuka misi baru di utara Lesotho yang diberi nama Paroki Sta. Monika. Dalam misi barunya ini, ia sungguh mempersembahkan dirinya untuk melayani jiwa-jiwa yang merindukan Kristus lewat kunjungan ke daerah-daerah di sekitar tanah misinya, menjenguk umat Katolik yang tersebar di sana, mewartakan Kabar Baik khususnya kepada kaum Basotho (penduduk asli Lesotho) yang tinggal di peternakan. 21 tahun berkarya di antara dan bersama kaum Basotho, Pastor Joseph kemudian kembali ke Lembah Roma di tahun 1898 , meneruskan karya pelayanannya di sana hingga wafatnya pada 29 Mei 1914 dalam usia 83 tahun.

Add a comment
 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

«MulaiSebelumnya1112SelanjutnyaAkhir»

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.