HATI SELUAS DUNIA (8) - Keluarga Duke Cannizzaro

Artikel - Warisan Oblat

“Kuasa Penyelenggaran Ilahi yang melindungiku sejak masa kanak-kanakku telah membukakan bagiku pintu masuk dalam sebuah keluarga Sicilia - keluarga bangsawan Duke Cannizzaro. Sejak awal mereka telah menerimaku seperti anaknya sendiri. Ibu Cannizzaro, Putri Laderia, adalah wanita yang suci. Bapak dan ibu Cannizzaro sangat menyayangiku dan membawaku untuk dekat dengan kedua anak laki-lakinya, Michele dan Fransisco, yang umurnya tidak terpaut jauh dari umurku, bukan hanya sebagai kawan tetapi juga sebagai sahabat dan teladan perilaku – sesuatu yang sangat jarang, malahan sebuah fenomena, untuk negeri seperti mereka. Dari sejak aku tiba hingga kepulanganku ke Perancis, aku adalah bagian dari keluarga mereka: Mereka selalu menyiapkan satu piring di meja makan untukku. Aku ikut liburan musin panas ke puri peristirahatan. Semua yang bekerja di dalam rumah siap melayaniku sepertinya mereka melayani anak-anak kandung Duke Cannizzaro, yang menganggap aku sebagai saudaranya sendiri.

“Di sinilah aku terbentuk, dalam hal kasih sayang.  Ibu Cannizzaro sering berkata bahwa ia telah mendapatkan putera ke-3, aku ditarik begitu dekat dengannya lewat kebaikan hatinya, seakan-akan aku mengasihi Ibu Cannizzaro lebih daripada anak-anaknya sendiri.  Aku membuktikan hal ini pada saat Ibu Cannizzaro meninggal dunia.  Kesedihanku tidak dapat dibandingkan dengan kedua anak kandungnya.  Sang Puteri, yang sering kusebut “ibuku”, diambil dari tengah-tengah kami tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.  Sungguh sebuah terpaan yang kejam dan luka yang dalam; Kepergian Ibu Cannizzaro mempengaruhiku cukup lama; aku bahkan jatuh sakit karenanya.  Ada yang memberitahukku bahwa aku berlutut di dekat kaki jasad Ibu Cannizzaro, berulang-ulang mengucapkan kata-kata  dalam ratapanku: “Aku telah kehilangan ibuku!  Aku telah kehilangan ibuku!”  Pertalian persahabatan karib antara ayah dan anak-anaknya menjadi semakin kuat setelah kepergian Ibu Cannizzaro.  Serasa kami tak terpisahkan hingga saat aku harus meninggalkan Sisili dan kembali ke Perancis.”

(Penulis: Pastor Henricus Asodo, OMI, dari presentasi slide animasi Bapa Pendiri OMI "St. Eugenius de Mazenod", Aix-en-Provence, Perancis)

HATI SELUAS DUNIA (8) –  Keluarga Bangsawan Duke Cannizzaro

 

“Kuasa Penyelenggaran Ilahi yang melindungiku sejak masa kanak-kanakku telah membukakan bagiku pintu masuk dalam sebuah keluarga Sicilia - keluarga bangsawan Duke Cannizzaro.  Sejak awal mereka telah menerimaku seperti anaknya sendiri. Ibu Cannizzaro,   Putri Laderia, adalah wanita yang suci. Bapak dan ibu Cannizzaro sangat menyayangiku dan membawaku untuk dekat dengan kedua anak laki-lakinya, Michele dan Fransisco,  yang umurnya tidak terpaut jauh dari umurku, bukan hanya sebagai kawan tetapi juga sebagai sahabat dan teladan perilaku – sesuatu yang sangat jarang, malahan sebuah fenomena, untuk negeri seperti mereka.  Dari sejak aku tiba hingga kepulanganku ke Perancis, aku adalah bagian dari keluarga mereka:  Mereka selalu menyiapkan satu piring di meja makan untukku.  Aku ikut liburan musin panas ke puri peristirahatan.  Semua yang bekerja di dalam rumah siap melayaniku sepertinya mereka melayani anak-anak kandung Duke Cannizzaro,  yang menganggap aku sebagai saudaranya sendiri.

“Di sinilah aku terbentuk, dalam hal kasih sayang.  Ibu Cannizzaro sering berkata bahwa ia telah mendapatkan putera ke-3, aku ditarik begitu dekat dengannya lewat kebaikan hatinya, seakan-akan aku mengasihi Ibu Cannizzaro lebih daripada anak-anaknya sendiri.  Aku membuktikan hal ini pada saat Ibu Cannizzaro meninggal dunia.  Kesedihanku tidak dapat dibandingkan dengan kedua anak kandungnya.  Sang Puteri, yang sering kusebut “ibuku”, diambil dari tengah-tengah kami tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.  Sungguh sebuah terpaan yang kejam dan luka yang dalam; Kepergian Ibu Cannizzaro mempengaruhiku cukup lama; aku bahkan jatuh sakit karenanya.  Ada yang memberitahukku bahwa aku berlutut di dekat kaki jasad Ibu Cannizzaro, berulang-ulang mengucapkan kata-kata  dalam ratapanku: “Aku telah kehilangan ibuku!  Aku telah kehilangan ibuku!”  Pertalian persahabatan karib antara ayah dan anak-anaknya menjadi semakin kuat setelah kepergian Ibu Cannizzaro.  Serasa kami tak terpisahkan hingga saat aku harus meninggalkan Sisili dan kembali ke Perancis.”

 

(Penulis: Pastor Henricus Asodo, OMI, dari presentasi slide animasi Bapa Pendiri OMI "St. Eugenius de Mazenod", Aix-en-Provence, Perancis)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.