John Francis O'DOHERTY, OMI

Artikel - Warisan Oblat

 

Nama Panggilan :  
Pastor "Big" John
Lahir : Brisbane, Australia, 27 April 1934
Kaul Pertama : 1961
Kaul Kekal : 1964
Nomor Oblatio : 11019
Tahbisan Imamat : Melbourne, Australia, 22 Juli 1967
Wafat : Brisbane, Australia, 31 Juli 2018 karena stroke

 

Pastor John O’Doherty, OMI biasa dipanggil “Big John” oleh rekan-rekan Oblat yang lain karena bertinggi badan 196 cm. Ia mudah dikenali dalam jajaran foto-foto komunitas karena postur tingginya itu.  Ia lahir dan besar di Brisbane, Queensland, Australia.  Setelah menamatkan pendidikan dasar dan menengah, John muda meniti karier di dunia asuransi selama tidak kurang dari 10 tahun. Karier professional ditinggalkannya sejak ia berjumpa dengan para Oblat di kota Casino, di negara bagian New South Wales, Australia.  Saat itu ia melihat dari dekat misi para Oblat dan menjadi semakin tertarik untuk bergabung.

Pada tahun 1960, John muda bertekat bulat dengan pilihannya untuk meninggalkan pekerjaannya dan bergabung ke dalam Komunitas Oblat Maria Imakulata Australia.  Seperti semua Oblat yang lain, ia memulai masa formasi sebagai seorang calon Imam Oblat Maria Imakulata.   Masa Novisiat dijalaninya di Sorrento, Victoria.  Kemudian ia berangkat ke Afrika Selatan untuk studi Filsafat di Institut St. Joseph di Cedara. Lalu ia kembali ke Australia untuk studi Teologi di Corpus Christi College, Glen Waverly, Victoria.  Tahbisan Imamat diterimanya pada 22 Juli 1967 di Katedral St. Patrick, Melbourne, Victoria.

 

Setelah ditahbiskan, Pastor John ditugaskan untuk berkarya di Paroki Hillcrest, Adelaide, Australia Selatan (1968-1970).  Kemudian ia ditarik ke karya formasi untuk pendidikan calon-calon Oblat Australia. Ia menjadi Magister Novis selama 9 tahun di Melbourne (1970-1979).  Sambil membimbing calon-calon Oblat, atas inisatifnya sendiri, ia menjalani studi lanjut di Monash University.  Di kampus itulah Pastor John mulai mengenal Indonesia. Ia mengambil studi tentang Indonesia dan jatuh hati pada misi Indonesia.  Ia tertarik untuk menjadi seorang misionaris di Indonesia namun sedikit pesimis karena usianya yang tidak lagi muda.  Tetapi ternyata leinginannya terkabulkan.  Pada tahun 1982, di usia 48 tahun, Pastor John dikirim bergabung dengan para misionaris Australia di Indonesia.  “Tadinya saya berpikir saya tidak mungkin dikirim ke luar Australia karena usia saya.  Ternyata, saya masih dipercaya untuk menjadi seorang misionaris,” begitu kenang Pastor John.

 

Pastor John bergabung dengan rekan-rekan Oblat yang telah lebih dahulu menapakkan kaki di tanah Jawa. Tahun-tahun pertamany adihabiskan untuk berkarya di Cilacap, Jawa Tengah. Kemudian ia berkarya di Paroki Trinitas Cengkareng, Jakarta Barat (1984-1985) dan kembali untuk kedua kalinya di Paroki yang sama pada tahun 1997–2002 sebagai Pastor Paroki. Mengapa demikian? Sebab pada saat itu ada kebutuhan di bidang formasi, yakni merintis Novisiat OMI di Yogyakarta. Pengalaman Pastor John selama 9 tahun sebagai Magister Novis di Australia menjadi modal berharga untuk mengembangkan karya formasi di Indonesia.

Pada 15 Juli 1985 Pastor John memulai Novisiat perdana dengan 12 novis di kompleks Seminari Tinggi OMI, Condongcatur, Yogyakarta. Baru pada tahun 1990 Pastor John memboyong para novis untuk menghuni Novisiat di Blotan. Setelah hampir 9 tahun menjadi Magister Novis, Pastor John memulai karya baru sebagai Bendahara Provinsi Muda OMI Indonesia yang baru saja terbentuk. Untuk sementara waktu ia menjadi Bendahara sekaligus Pastor Paroki Trinitas, Cengkareng.  Kemudian ia menjadi Pastor di Paroki Kalvari, Lubang Buaya pada tahun 2002- 2005.

Selain merintis Novisiat, Pastor John juga merintis kelompok awam OMI yang dikenal dengan nama AMMI (Asosiasi Misionaris Maria Imakulata) baik di Jakarta maupun di Cilacap. Ia juga menjadi Direktur AMMI selama beberapa tahun dan berjasa pula dalam menerbitkan aneka buku untuk memperkenalkan jiwa dan semangat Oblat. Sejak kembali ke karya formasi pada tahun 2005, Pastor John mulai merintis keberadaan Keluarga Besar OMI dan Sahabat Seminari OMI -  dua kelompok awam yang dekat dan peduli dengan karya dan formasi OMI Indonesia. Pastor John dikenal sebagai formator yang paling gigih menyemangati - kadang memaksa - para novis, frater dan bruder untuk menguasai Bahasa Inggris.   Ia menetap di SeminariTinggi OMI sampai saat kembali ke Australia pada tahun 2011 karena alasan kesehatan.

Sering Pastor John sampaikan saat dalam obrolan harian bahwa karya misinya di Indonesia tidaklah genap 28 tahun karena ia harus meninggalkan Indonesia selama 3 bulan dalam rentang 6 tahun (1999-2004) untuk menjadi Animator de Mazenod Experience di Aix-en-Provence, Perancis.  “Saya selalu merasa bersalah untuk meninggalkan tugas dan pekerjaan saya selama 3 bulan setiap tahunnya, tapi ada juga terpikir bahwa hal ini adalah suatu kesempatan baik bagi umat maupun Dewan Paroki untuk dapat menjadi  self-responsible – bertanggungjawab pada diri sendiri....,” kata Pastor John.

Pada tahun 2007, saat memperingati 40 tahun Tahbisan Imamatnya, Pastor John menceritakan pengalaman spiritual yang membekas di hatinya, yakni saat ia menemani Pastor Mario Bertoli, OMI (Provinsial Pertama OMI Indonesia) di Italia pada hari-hari terakhir hidupnya.  “Karena sakitnya,  Pastor Mario mempersembahkan Misa Kudus di kamarnya.  Kata-kata Konsekrasi menjadi begitu bermakna dalam buat saya, ‘Inilah tubuhKu yang diserahkan padamu.’  Pastor  Mario telah menghabiskan banyak waktu hidupnya untuk karya misionaris dan hal itu terus berlangsung hingga saat-saat akhirnya.  Itulah yang saya rasakan akan saya lakukan juga.  Maka sejak saat itu saya pun mengambil kata-kata Konsekrasi itu sebagai kata-kata imamat saya: ‘Inilah tubuhku yang diserahkan bagimu...’,” begitu kenang Pastor John dengan mata berkaca-kaca.

Kembali ke Australia, Pastor John masih terus berkarya. Ia diutus untuk menjadi Pastor di Paroki St. Pius X, Dernancourt, Adelaide, Australia Selatan dan menjadi Pastor Pendamping Kelompok Katolik Indonesia-Adelaide (KKIA).  Beberapa kali Pastor John masih berkunjung ke Indonesia untuk sekedar temu kangen dan turut hadir dalam perayaan-perayaan penting Provinsi OMI Indonesia.   Kunjungan terakhir ke Indonesia dilakukannya pada 16 Mei-06 Juni 2018.  “Tentu lebih enak di Australia, tetapi di Indonesia-lah hati saya selalu berada,” ujar Pastor John. Itulah hati seorang misionaris, selaras dengan hobinya untuk berlayar, Pastor John mempunyai hati seluas dunia!  Ia berani mengarungi dunia untuk menjumpai jiwa-jiwa yang dikasihinya, bahkan di hari terakhir dalam hidupnya, ia baru saja menghadiri pemakaman sahabatnya dan mengunjungi sekolah “Iona College” yang dikelola oleh para Oblat di Brisbane.  Di saat itulah ia jatuh terkulai terkena stroke parah. Ia tak sadarkan diri selama beberapa hari sampai dinyatakan sang misionaris besar telah mengangkat sauhnya untuk  berlayar ke Rumah Bapa.

Sail…Sail…Sail..., entering into the promised Eternal Life!  Selamat Jalan Pastor John!

 

(Ditulis oleh Pastor Henricus Asodo, OMI dengan informasi yang diambil dari berbagai sumber)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.