Si Pemegang Salib St. Eugenius de Mazenod

Artikel - Warisan Oblat

 

Pada 08 September 2010, Pastor Louis Lougen, OMI terpilih menjadi Superior Jenderal OMI.  Segera setelah pemilihan selesai, Pastor Lougen diserahi satu simbol yang paling berharga dari Kongregasi: Salib Oblat milik St. Eugenius de Mazenod, Bapa Pendiri Misionaris Oblat Maria Imakulata.

Sebagai penerus ke-12 St. Eugenius de Mazenod, Pastor Lougen telah membawa Salib Oblat St. Eugenius itu ke berbagai negara untuk mengingatkan para Oblat dan rekan karya misi mereka akan pertalian yang mereka miliki dengan St. Eugenius de Mazenod.  Pada artikel ini, Pastor Lougen berbicara tentang rasa mendapat kehormatan menjadi pemegang Salib Oblat St. Eugenius de Mazenod:

Kalau Anda menonton video pada saat saya terpilih menjadi Superior Jenderal, Anda akan melihat saya seperti hendak pingsan.  Itu memang benar, khususnya pada saat pendahulu saya, Pastor Wilhelm Steckling, OMI memberikan Salib milik Bapa Pendiri kita, St. Eugenius de Mazeond.

Pastor Steckling mengangkat Salib itu dan meletakkannya di bibir saya sehingga saya dapat mencium patung Kristus Yang Tersalib di Salib itu.  Setelah mencium Salib sebagai tanda persembahan diri (oblatio) saya, Pastor Steckling kemudian meletakkan Salib itu di tangan saya.  Sungguh sebuah situasi yang mengharukan, saya merasa ikatan yang sangat dalam dengan kharisma St. Eugenius, warisannya, dan pribadinya.

Saya tahu tentang Salib Oblat sejak saya masih di kelas 1 Sekolah Dasar.  Para Oblat akan mengunjungi sekolah saya dekat Buffalo, New York, mengenakan jubah mereka dengan Salib Oblat yang besar yang terpajang di dada mereka.  Mereka memutar slide dan memperlihatkan foto-foto karya misi mereka dan Salib Oblat terlihat sangat menonjol dan menarik perhatian.  Meski saya masih kecil, saya begitu kagum pada para Oblat dan pada Salib Oblat mereka yang berwarna hitam dan emas itu.

Dengan rasa hormat dan bangga, selama 40 tahun ini saya selalu membawa Salib Oblat saya, tanda dari komitmen pasti kemisionarisan saya.  Rentang waktu itu termasuk 18 tahun saat saya berkarya di Brazil, dari kota metropolitan Sao Paolo hingga ke hutan Amazenon dan ladang kopi Pocos de Caldas.

Sekarang, di saat saya menjadi Superior Jenderal Kongregasi, saya membawa Salib Oblat St. Eugenius, membawa kembali ke rentang waktu 200 tahun lalu, dan menghubungkan kita secara langsung dengan Bapa Pendiri kita dan kharisma Oblat.  Saya sungguh diberkati untuk mengalami Kasih Tuhan yang tak terbatas dan sangat besar lewat cara khusus ini, lewat simbol berharga dari panggilan sebagai misionaris.  Salib Oblat St. Eugenius diberkati oleh Bapa Paus Leo XII pada tahun 1826 pada saat Bapa Suci menyetujui Konstitusi dan Aturan Hidup para Oblat.  Setiap Superior Jenderal mempunyai rahmat khusus saat menjadi pemegang Salib Oblat St. Eugenius ini.  Secara khusus saya menyukai nama “Mazenod” yang terukir pada Salib Oblat ini, bukan “De Mazenod” yang merupakan nama kaum bangsawan.  Hanya “Mazenod”, sebuah nama yang umum.

Di Roma, Salib Oblat St. Eugenius ini biasanya diletakkan di atas bantal di tempat tidur saya.  Saya ingin Salib Oblat ini selalu terlihat, tidak dikunci di sebuah tempat yang gelap.  Saat saya melihat Salib Oblat ini, saya ingat akan keluarga Oblat yang begitu mempesona, persaudaraan kita, dan pelayanan kita pada Gereja – khususnya kepada kaum miskin.  Lewat Salib Oblat ini, saya diingatkan akan pemberian diri Yesus yang sangat besar untuk keselamatan dunia.  Pemberian diri – itu juga yang menjadi pusat dari panggilan kita sebagai Oblat, selalu siap untuk tantangan-tantangan misionaris kita dan memeluk tantangan-tantangan itu.

Saya secara khusus suka berdoa dengan Salib Oblat St. Eugenius di setiap Jumat, memegangnya dengan kedua tangan saya.  Adalah pada Jumat Agung St. Eugenius mendapatkan pengalaman sangat khusus di saat ia berdoa.  Ia merasa tidak pantas karena ia adalah seorang pendosa.  Tetapi pada saat ia berdoa di hadapan salib, ia menerima rahmat sangat besar dan menjadi mengerti bahwa ia adalah kesayangan Tuhan.  St. Eugenius menangis sukacita dan sejak saat itu seluruh hidupnya memiliki arah tujuan yang sama sekali baru.

Setiap tahun, selama tujuh bulan saya ada dalam perjalanan mengujungi para Oblat di seluruh dunia.  Saya membawa Salib Oblat St. Eugenius ke sebanyak tempat yang bisa saya datangi.  Hal ini terjadi pada saat Triennium Oblat, masa tiga tahun persiapan menjelang usia 200 tahun Kongregasi kita.  Saya ingin banyak Oblat dapat menyentuh Salib ini sehingga mereka dapat mengalami relasi yang kuat dengan St. Eugenius dan pada misi untuk mewartakan Injil kepada kaum miskin di seluruh dunia.  Saya ingin agar kita semua – para Oblat, kaum awam dan religius yang terkait dengan karisma Oblat, yang menghidupi karisma Oblat secara indah dan lewat berbagai macam cara – untuk menyentuh Salib Oblat St. Eugenius sehingga kita semua mengalami persatuan di antara kita seperti yang sangat diinginkan oleh St. Eugenius: menjadi keluarga di muka bumi ini yang mempunyai ikatan yang paling erat.

Di Turkmenistan, saya membawa Salib Oblat St. Eugenius ke komunitas kecil Oblat yang terdiri dari 3 imam.  Pastor Andrzej Madej, OMI, Superior Oblat di sana, mengundang beberapa Pendeta Protestan untuk bertemu dengan saya juga.  Kami berdoa bersama dalam Bahasa Rusia di kapel kecil.  Saat saya mengeluarkan Salib Oblat St. Eugenius, mereka semua sungguh bersukacita.  Mereka katakan bahwa mereka telah menganggap St. Eugenius sebagai bapa mereka juga dan mereka percaya St. Eugenius akan juga menolong mereka untuk mengetahui cara membawa Kabar Gembira kepada kaum miskin.  Masing-masing mereka menyentuh Salib itu bergantian dan menciumnya.  Lalu salah satu dari mereka mengangkat Salib itu dan berseru: “Dalam nama Yesus Kristus, saya menyatakan Turkmenistan adalah milik Tuhan lewat perlindungan St. Eugenius.”  Sungguh sebuah pengalaman ekumene yang menakjubkan, semua dari kita bekerja bersama untuk satu tujuan yang baik.

Pengalaman khusus saya lainnya dengan Salib Oblat St. Eugenius terjadi di Kamerun.  Seorang wanita yang merupakan anggota Asosiasi Oblat berbagi kisah dengan saya tentang bagaimana para Oblat selalu ada untuk melayani umat lewat cara yang sederhana dan nyata.  Dia bercerita bahwa pada suatu kali ibunya sakit serius dan tidak dapat beranjak dari tempat tidurnya.  Salah satu Oblat mendengar berita ini dan langsung datang mengunjungi ibunya sambil membawa makanan.  Ibunya berkata bahwa makanan yang dibawa bukanlah makanan terenak yang pernah ia makan, tetapi makanan itu menjadi wujud dari gerakan kasih – membawa makanan kepada mereka yang membutuhkan.  Hal inilah yang selalu diingat oleh ibunya seumur hidupnya.

Saat saya menunjukkan Salib Oblat St. Eugenius kepada wanita itu, ia menaruh Salib itu di pipinya, dan air matanya mengalir membasahi Salib itu.  Hari itu, Salib Bapa Pendiri kita sungguh terberkati oleh air mata dari seseorang yang spesial.

Salib Oblat menantang kita, membuat kita untuk bertanya berbagai pertanyaan.  Salah satu pengalaman yang paling mengharukan yang pernah saya alami bersama Salib Oblat adalah pada saat saya mengunjungi Skolastikat OMI di bumi Afrika, yaitu di Lesotho.  Pada saat Salib Oblat St. Eugenius berjalan berkeliling, salah satu skolastik muda bertanya sebuah pertanyaan yang membuat saya terhenyak.   Ia bertanya: “Apa yang menjadi mimpi Anda untuk Kongregasi kita?”

Saya memandang Salib Oblat dan menyadari bahwa mimpi saya adalah mimpi yang sama dengan mimpi St. Eugenius untuk para Oblat lebih dari 200 tahun yang lalu.  Mimpi agar kita selalu dekat dengan kaum miskin, melayani orang banyak yang tidak ada satu pun yang mau melayani mereka (terlantar – red), dan membawa bagi mereka Kabar Gembira tentang Allah yang penuh kasih.  Mimpi yang hanya dapat dicapai jika kita menjadi orang-orang kudus, umat Allah, dan putera-putera St. Eugenius.

Itulah mimpi yang disimbolkan dalam Salib Oblat yang sederhana, Salib yang dengan bangga saya pakai dan senantiasa saya bawa saat saya mengunjungi keluarga Oblat di mana pun mereka berada di dunia ini.

 

(Diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website OMI Indonesia dari artikel yang berjudul “The Bearer of St. Eugene’s Mission Cross” dalam “Oblate World Magazine” edisi Oktober 2018 yang diterbitkan oleh OMI Provinsi Amerika Serikat.)

 

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.