Melayani Orang Gila

Artikel - Ragam Peristiwa

Ditulis oleh PrN. Konstantinus K. Tasik, OMI Selasa, 12 Januari 2016 07:47

 

"Panti Sahabat Kita" adalah tempat rehabilitasi para penyandang sakit jiwa kronis yang dikelola oleh para Bruder Karitas.  Tujuan lembaga ini adalah memberi dukungan kepada para pasien untuk menemukan jati diri mereka sebagai pribadi dalam hidupnya dan mempertahankan kemungkinan untuk lebih independent dan otonom.

Pertama kali saya menjalani probasi sosial di Panti Sahabat Kita, saya merasa bahwa saya tidak akan bisa berkomunikasi dengan para pasien. Namun diluar pengetahuan saya, ternyata mereka mampu berkomunikasi dengan orang lain layaknya orang yang tidak sakit jiwa.

Selama menjalani probasi, saya dapat belajar  beberapa hal yakni:

(1) Menghargai. Selama sebulan saya membantu melayani dan belajar dari pasien di Panti Sahabat Kita, saya sangat bersyukur, karena saya mampu menghargai dan melayani mereka yang membutuhkan perhatian.

(2) Ora et Labora. Bekerja bersama kaum religius, tentu menghidupi kehidupan Rohani. Di sana saya merasakan bagimana mereka selalu menghayati hidup mereka sebagai seorang religius yang harus menghidupi kehidupan rohani mereka. Memang banyak pekerjaan yang mereka kerjakan, tetapi yang lebih utama yakni doa tidak boleh ditinggalkan.

Yang terakhir, (3) bekerja untuk Tuhan. Para religius berkarya atau melayani orang-orang untuk Yesus, berarti mereka melayani Yesus. Yesus bersabda, “Siapa yang melakukan kepada saudaraKu yang paling hina ini ia melakukannya untuk Aku.” Bekerja atau melayani, ialah sebuah persembahan yang menghantarkan diri lebih dekat dengan Tuhan.

(Pra-Novis Konstantinus Karaeng Tasik, OMI/Foto: Novisiat OMI)

 

(Sumber: Buletin "Gerard.Com", Media Informasi Novisiat OMI "Beato Joseph Gerard", Edisi Desember 2015)

Add a comment
 

Perayaan Natal Frat Oser 2015

Artikel - Ragam Peristiwa

Ditulis oleh Administrator Jumat, 01 Januari 2016 23:26

Sore hari dari 17 Desember 2015 adalah kenangan indah bagi Frat Oser dan para Oblat dari Komunitas Aix-en-Provence.

Jean, Samantha, Stephen, Peter, Luana, Juliette, Emmanuel, Jean-Pascal, dan Camile - para anggota Frat Oser - beserta Pastor Krzysztof, Pastor Joseph, Pastor Mario, Pastor Asodo, Bruder Benoit dari Komunitas Aix dan Pastor Pawel dari Polandia berkumpul bersama.  Sayangnya, Maxime dan Priscilla tidak dapat hadir karena ada kesibukan lainnya, begitu juga dengan Pastor Bonga yang masih dalam masa cuti bersama keluarganya di Afrika Selatan.  Inilah perayaan Natal bersama sebelum para pelajar Frat Oser pulang ke rumah mereka masing-masing untuk berlibur bersama keluarganya.

Add a comment
 

Abang Kuli Ekstra

Artikel - Ragam Peristiwa

Ditulis oleh Administrator Rabu, 23 Desember 2015 23:07

Selama dua minggu aku menjalani masa probasi dengan bekerja sebagai buruh bangunan di tempat Pak Langgono di Berbah mulai dari tanggal 1-16 Oktober 2015. Aku bekerja mulai dari pagi pukul 08.00 hingga pukul 16.00, bila lembur biasanya sampai pukul 22.00. Selama bekerja, aku tinggal bersama dengan keluarga Pak Langgono.

Lewat bekerja, aku merenung dan mendapat pesan yang Tuhan  ingin sampaikan padaku yakni: Bersyukur, misionaris harus bisa bersyukur dalam segala hal, meskipun dalam keadaan yang sangat sulit sekalipun. Sebagai calon misionaris yang akan pergi ke tempat-tempat yang kurang terlayani, aku tidak boleh mengeluh. Aku menyadari dengan bersyukur, aku bisa semakin dekat dengan Tuhan, dan Tuhan semakin memberikan rahmat dan anugerahNya kepadaku.

Add a comment
 

Jumpa Mitra OMI Distrik Jakarta

Artikel - Ragam Peristiwa

Ditulis oleh Administrator Rabu, 25 November 2015 16:46

Panitia Triennium OMI Distrik Jakarta mengadakan “Jumpa Mitra OMI” - pertemuan para mitra karya OMI yang tergabung dalam Asosiasi Misionaris Maria Imakulata (AMMI), Sahabat Seminari OMI (Sasem) dan para awam yang berkarya bersama para Oblat di Jakarta.

Pertemuan yang bertema “We Love The Oblates, The Oblates Love Us” ini mengambil bentuk seminar singkat 2 sesi dengan narasumber Pastor Henricus Asodo, OMI yang sekarang sedang berkarya di Rumah Misi Perdana OMI di Aix-en-Provence, Perancis.  Dalam sesi pertama, Pastor Asodo mengupas tentang spiritualitas dari Bapa Pendiri Kongregasi Oblat Maria Imakulata, St. Eugenius de Mazenod, lewat meditasi dan titik balik – pertobatan sejati – St. Eugenius di depan Salib pada sebuah Jumat Agung.  “Seorang St. Eugenius yang bangsawan, berwatak dan berkemauan keras, juga pemberani, pada akhirnya tidak dapat berkutik di depan Salib,” kata Pastor Asodo.  Pada sesi kedua, Pastor Asodo mengupas kemitraan awam-OMI.  “...Pertama-tama kita harus jatuh hati pada Yesus Kristus; kedua, jatuh hati pada Gereja; ketiga, jatuh hati pada semangat misionaris...,” demikian mengutip uraian singkat namun padat dari Pastor Asodo.  Harapan Pastor Asodo adalah dibentuknya sebuah Kelompok Doa Awam Mitra OMI yang setiap anggotanya mendoakan satu nama Oblat secara sungguh setiap harinya.  “Silahkan pilih, mau Romo, Bruder, Frater, calon Bruder, Novis, Pranovis.  Satu nama, setiap hari didoakan.  Kalau bertemu (dengan yang bersangkutan), silahkan katakan: ‘Romo/Bruder/Frater..., saya mendoakan Romo/Bruder/Frater setiap hari lho...’ Saya yakin, dia yang mendengarkan kalimat itu, akan merasa bagaimana, begitu....”

 

 

Add a comment
 

OMI Membutuhkan Awam, Awam Membutuhkan OMI

Artikel - Ragam Peristiwa

Ditulis oleh Pastor Antonius Widiatmoko, OMI Senin, 23 November 2015 19:32

Anggota Sahabat Seminari Distrik Balikpapan, Kalimantan Timur

 

Salah satu hal yang menonjol dari komunitas-komunitas OMI di manapun, baik di luar negeri maupun di dalam negeri, adalah kedekatannya dengan umat. Dan memang aspek hospitalitas, persaudaraan, hidup komunitas apostolik merupakan hal-hal yang dengan sendirinya terpancar dalam gaya hidup seorang Oblat berkat pengalaman dicintai, dikasihi, ditebus dan diselamatkan oleh Yesus Kristus yang Tersalib.

Kedekatan hati dengan umat ini pada akhirnya memungkinkan bentuk-bentuk kerjasama antara para misionaris OMI dan kaum awam. Semakin lama semakin disadari betapa OMI membutuhkan awam, dan sebaliknya pula awam membutuhkan OMI. Kesadaran ini sungguh amat sangat berharga dan diperlukan dalam menghidupi semangat misioner Gereja.

Dulu, di awal kisah perjalanan OMI di Indonesia, banyak para misionaris OMI datang ke Indonesia sekitar tahun 1970-an. Mereka adalah para imam yang berasal dari Australia, Perancis, dan Italia. Kehadiran dan karya mereka sungguh sangat berarti bagi pewartaan Injil. Di satu sisi suburnya sekularisme dan konsumerisme yang melahirkan semangat individualis, khususnya di negara-negara maju di bagian Barat, telah membuat jumlah orang-orang muda yang terpanggil mengikuti Tuhan di jalan khusus sebagai imam, bruder, dan suster pun semakin menipis. Demikian pula aliran dana dari luar negeri yang menopang terselenggaranya karya misi OMI di Indonesia makin menipis. Di sisi lain, situasi itu menjadi berkat bagi tumbuhnya suatu kesadaran yang makin meningkat di hati para misionaris OMI asal Indonesia, bahkan kesadaran ini makin dirasakan sebagai sebuah desakan kuat untuk mengusahakan panggilan-panggilan baru dan kecukupan finansial untuk menyelenggarakan pelayanan Gereja.

Add a comment
 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

«MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir»

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.