RIP Pastor Yohanes Kevin Casey, OMI

Artikel - Ragam Peristiwa

Pastor Yohanes Kevin Carey, OMI

Beristirahatlah Dalam Damai



Saat para Oblat Provinsi Indonesia tengah sibuk mempersiapkan diri menyongsong usia 20 tahun OMI Provinsi Indonesia, berita duka datang dari Paroki St. Stephanus, Cilacap, Jawa Tengah.

Telah berpulang dalam damai, Pastor John Kevin Casey, OMI (Pastor Yohanes), Rabu, 15 Mei 2013, pkl. 00.15 WIB di Cilacap, dalam usia 77 tahun, karena sakit.

Jenazah disemayamkan di Paroki St. Stephanus Cilacap, Rabu-Kamis, 15-16 Mei 2013. Pada Kamis, 16 Mei 2013, jenazah akan diberangkatkan ke Banyumas, disemayamkan semalam di Paroki Sta. Maria Imakulata, Banyumas. Pemakaman akan diselenggarakan Jumat, 17 Mei 2013, di kompleks pemakaman Kaliori, Jawa Tengah.

Pastor Yohanes lahir di Colac, sebuah kota kecil di sebelah barat negara bagian Victoria, Australia, 10 Juni 1936 dari pasangan Bapak John Joseph Casey dan Ibu Eileen Mary. Beliau mempunya seorang adik. Sekolah dasar ditamatkannya di Colac, kemudian Beliau melanjutkan dengan masuk Seminari Menengah St. Yoseph di Geelong, kota kedua terbesar di negara bagian Victoria, Australia. Awalnya, Beliau ingin menjadi Imam Diosesan, tetapi berubah pikiran setelah bertemu dengan seorang Oblat yang datang ke Parokinya untuk berkhotbah dan memberikan informasi tentang OMI. Pada tahun 1955, Beliau masuk Novisiat OMI di Sorrento, Australia, lalu dikirim ke Cedara, Natal, Afrika Selatan, untuk belajar Filsafat dan Teologi.

 

 

 

Beliau ditahbiskan di Afrika Selatan oleh Bapa Uskup Durban, Mgr. Dennis Hurley, OMI pada 03 Februari 1962, dan mulai berkarya sebagai imam pertama kalinya di Afrika Selatan. Pada tahun 1965, Beliau ditugaskan di Brisbane, Australia, sebagai guru. Merasa kurang cocok, Beliau kemudian ditugaskan sebagai staf misi dan retret di Eagle Junction, Australia. Pada tahun 1968, Pastor Yohanes dikirim ke Filipina untuk memperdalam spiritualitas. Sekembali dari Filipina, Beliau ditawari bermisi ke Indonesia.

Pastor Yohanes kemudian ditunjuk menjadi Superior Delegasi Australia pertama yang berkarya di Indonesia – tepatnya di Keuskupan Purwokerto atas undangan Bapa Uskup Mgr. Schoemaker, MSC - bersama 3 rekan anggota lainnya, Pastor Patrick Moroney, OMI, Pastor Patrick Slattery, OMI, Pastor David Shelton, OMI. Delegasi Australia ini tiba di Purwokerto pada akhir tahun 1971.

Pada 29 Juli 1982, Seminari Tinggi OMI di Condongcatur, Yogyakarta, mulai beroperasi. Pastor Yohanes dipercaya menjadi Rektor Seminari yang pertama dan berkarya selama 2 tahun di Yogyakarta. Meski tidak memiliki pengalaman atau pendidikan khusus tentang formasi, Pastor Yohanes mengemban tugas ini dengan sukacita sambil mengingat-ingat pengalamannya selama menjadi frater dan hidup di seminari. Setelah bertugas di Seminari Tinggi OMI, Pastor Yohanes kembali ke Cilacap dan berkarya “berkeliling” di sekitar Cilacap, Purwokerto, Gua Maria dan Rumah Retret Kaliori dan Banyumas. Selain melaksanakan pelayanan sebagai Pastor Paroki, Beliau juga ikut melibatkan diri dengan pendampingan bagi Marriage Encounter (ME), bimbingan rohani peserta retret, maupun para peziarah. Pastor Yohanes memang lebih banyak berkarya dan melayani umat di beberapa Paroki dalam Keuskupan Purwokerto.

Pada saat OMI Provinsi Indonesia diresmikan oleh Pastor Marcello Zago, OMI pada 21 Mei 1993, Pastor Yohanes dipercaya menjadi salah satu dari 4 Anggota Dewan Provinsial yang pertama.

 

Tahun lalu, Beliau merayakan Pesta Emas Tahbisan Imamatnya yang diselenggarakan secara sederhana namun penuh kesan di Paroki Cilacap pada 21 Mei 2012. Kala itu Beliau berujar: “Rasanya 50 tahun itu lama, tapi buat saya, rentang waktu itu tidak lama. Saya merasa sungguh dicintai umat dan mendapat anugerah kesehatan dari Tuhan. Saya merasa ada relasi yang akrab antara umat dan saya, sehingga saya merasa segalanya tidak ada masalah dalam menjalani hidup imamat saya. Umat menguatkan Imamnya, begitu juga sebaliknya. Dalam 50 tahun menjadi Imam, saya merasa sungguh disayang Tuhan, karena saya sungguh merasa bahagia. Saya terus berusaha untuk menjadi Imam yang baik dengan terus membangun pola doa. Relasi dengan Tuhan haruslah kuat.”

Karena faktor usia, Pastor Yohanes memang mengidap beberapa penyakit orang lanjut usia. Kesehatan Beliau menurun dengan cepat saat Beliau mengalami stroke ringan di akhir tahun 2012. Sempat beberapa kali dirawat di rumah sakit, pada akhirnya Pastor Yohanes lebih memilih untuk bersatu dalam hidup abadi bersama Yesus Kristus dan Bunda Maria yang selalu dikasihinya sepenuh hati.

Selamat jalan, Pastor Yohanes. Terima kasih atas karya-karya Pastor selama lebih dari 40 tahun di bumi Indonesia. Tangan dingin dan semangat misionaris yang menyala-nyala dari Pastor telah menorehkan sejarah manis perkembangan karya-karya OMI di Indonesia. Kami akan selalu mengingat Pastor dalam doa-doa kami. So long, our beloved Father. (Tim Website OMI Indonesia/dari press release OMI Provinsi Indonesia dan beberapa sumber lainnya.)

** Artikel terkait Pastor Yohanes Kevin Casey, OMI dapat dibaca di beberapa bagian dari Website OMI Indonesia.

 

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.