Kaul Kekal di Perayaan 200 Tahun OMI

Artikel - Ragam Peristiwa

Pada 24 Januari 2016, Distrik Formasi OMI Provinsi Indonesia merayakan 200 tahun pendirian Kongregasi Misionaris Oblat Maria Imakulata dengan mahkota pengikraran Kaul Kekal oleh 2 Skolastiknya: Frater Alya Denny Haloho, OMI dan Frater Paulinus Maryanto, OMI.  Perayaan Ekaristi diselenggarakan di Kapel Seminari Tinggi OMI, Yogyakarta dengan Pastor Antonius Rajabana, OMI, Provinsial, menjadi Selebran Utama.  Ada sembilan Oblat yang menghadiri Misa Kudus ini: Pastor Ignatius Yulianto, OMI, Pastor Simon Heru Supriyanto, OMI, Pastor Antonius Widiatmoko, OMI, Pastor Antonius Sussanto, OMI, Pastor Peter Subagyo, OMI, Pastor F.X. Sudirman, OMI, Pastor Nicolaus Setija Wijaja, OMI, Pastor Yohanes Damianus, OMI, Pastor Reynold Sombolayuk, OMI; serta satu Imam Diosesan, Pastor Agustinus Sunarto, paman dari Frater Maryanto.  Sekitar 500 orang datang mengikuti perayaan ini, di antaranya adalah Keluarga Oblat, awam mitra karya Oblat, kelompok kaum muda, dan umat dari paroki pedalaman yang dilayani oleh beberapa Oblat Skolastik.

Pastor Rajabana dalam homilinya mengatakan bahwa perayaan 200 tahun usia Kongregasi dengan mahkota pengikraran kaul kekal oleh 2 skolastik ini adalah pertanda dari Tuhan bahwa Dia ingin Kongregasi OMI melanjutkan pendampingan dan pewartaan kasih Tuhan kepada dunia.  Pastor Rajabana juga menjelaskan tentang nilai-nilai kemurnian, belas kasih, dan ketaatan, dan mengundang kaum awam yang datang untuk menerapkan nilai-nilai kaul tersebut ke dalam hidup mereka masing-masing.

 

 

Setelah Misa Kudus berakhir, diadakan upacara tradisi Batak sederhana.  Orangtua dari Frater Denny menyerahkan kepada anaknya “lomok-lomok nabinatur” sebagai simbol syukur kepada Tuhan sehingga anak mereka diberkati dengan kesehatan, hidup tenang, dan semangat untuk menghidupi kaul-kaulnya.  “Lomok-lomok nabinatur” adalah daging dari keseluruhan babi yang diatur di atas nampan besar seperti layaknya babi yang masih hidup.  Kepala babi di depan, badannya di tengah, kakinya diatur ke kanan dan ke kiri.  Babi dimasak secara tradisional.  Orangtua Frater Denny juga memberikan “sarung tradisional” kepada anaknya sebagai simbol agar anaknya bekerja bagi Tuhan dan Gereja.

 

Sehari sebelum Upacara Pengikraran Kaul Kekal, diadakan upacara “Siraman” yang merupakan tradisi Jawa yang biasanya dilakukan oleh seorang calon pengantin sebelum hari pernikahannya.  Maksud “Siraman” dalam konteks Kaul Kekal adalah untuk penyucian diri bagi Skolastik yang ingin memasuki cara baru dari hidupnya.  Air yang digunakan dalam upacara “Siraman” ini diambil dari 7 mata air yang ada di Gua Maria di Yogyakarta.  Kedua upacara tradisional ini diadakan untuk menunjukkan kekayaan dan keberagaman kebudayaan di Indonesia.  Frater Maryanto adalah seorang Jawa, sedangkan Frater Denny seorang Batak.    Kini, mereka berdua disatukan dalam keluarga Misionaris Oblat Maria Imakulata.

 

(Penulis: Frater Alya Denny Haloho, OMI/Dokumentasi: Istimewa)

 

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.