BAHAGIA MENGENAL OBLAT

Artikel - Ragam Peristiwa

Di zaman modern ini, banyak kaum muda yang sudah tidak tertarik lagi untuk mengikuti acara-acara yang bernafas rohani (Gereja), bahkan tidak sedikit kaum muda yang sudah tidak tertarik lagi untuk pergi beribadah ke Gereja.  Saya sebagai OMK (Orang Muda Katolik) sangat prihatin dengan keadaan ini.  Sebagai contoh, di Paroki saya di pedalaman Kalimantan Barat, banyak sekali kaum muda yang tercatat sebagai anggota OMK tapi setiap ada pertemuan OMK Paroki atau Wilayah, ternyata hanya sedikit dari mereka yang bersedia menghadirinya.  Sayang sekali, padahal banyak sekali manfaatnya!

Saya pertama kali bergabung di OMK saat duduk di kelas 3 SMP.  Waktu itu ada undangan untuk sekolah saya menghadiri pertemuan OMK Paroki.  Awalnya guru saya mengatakan bahwa siswa kelas 3 SMP tidak diperkenankan mengikuti kegiatan ekstra karena akan ada pengayaan materi menyongsong ujian kelulusan SMP.  Ibu saya kurang berkenan mengingat saya harus belajar lebih serius lagi untuk menghadapi ujian akhir.  Akhirnya, saya dan teman-teman dapat mengikuti pertemuan OMK tersebut yang berlangsung di Stasi Nanga Pari yang berjarak sekitar 62 kilometer dari rumah kami.

Penulis turne bersama rekan-rekan OMK dan Pastor Wahyu ke Stasi Kelabit, Sepauk, Kalimantan Barat

Dalam pertemuan OMK itu, banyak sekali kegiatan yang dapat kami ikuti, banyak mendapat teman baru, pengalaman baru, menambah pengetahuan serta banyak kekayaan ajaran iman Katolik yang selama ini tidak kami ketahui.  Saya yang dulunya paling malas mendengarkan Homili dalam Misa Kudus, yang datang ke Gereja hanya untuk kewajiban, kini menyadari bahwa Tuhan itu sungguh baik dan kasih karuniaNya sungguh nyata dalam hidup saya.  Tumbuh pula kesadaran baru dalam diri saya untuk senantiasa berdoa dalam segala suasana.  Bukan saja pada saat saya susah saya berdoa, tetapi saya harus tetap berdoa dan tetap bersyukur setiap saat,  karena kekuatan doa dapat mengubah segalanya.

Lewat keaktifan saya dalam OMK, membuat saya kenal baik pula dengan para Imam dari Kongregasi Misionaris Oblat Maria Imakulata.  Salah satunya dalah seorang Oblat muda yang bernama Pastor Aloysius Wahyu Nugroho, OMI.  Kami saling kenal sejak Beliau menjadi Frater dan sedang berkarya pastoral di Paroki Sepauk, Kalimantan Barat.  Dalam acara Temu Raya Muda OMI (Teramo) di Jakarta, kami kembali bertemu.   Kami lebih akrab lagi ketika di tahun 2014 Pastor Wahyu diutus ke Paroki Sepauk.  Saya sering ikut turne bersama Beliau dan teman-teman OMK lainnya.

Di mata saya, Pastor Wahyu adalah sosok Oblat muda yang luar biasa, sangat dekat dengan kaum muda, mau mendengarkan curahan hati dan menjadi tempat berkeluh-kesah.  Beliau juga bisa memberikan solusi saat ada masalah, juga inspirasi.  Kala saya duduk di kelas 12 (3 SMA), Pastor Wahyu menjadi tempat sharing ke mana saya akan melanjutkan study, kuliah ke jurusan apa yang akan saya pilih.  Waktu Beliau sangat terbatas, tetapi di sela-sela kesibukannya, Beliau masih mau menyempatkan diri untuk  mendengarkan sharing saya, menemani saya mendaftar dan tes masuk perguruan tinggi.

Banyak hal positif yang saya temui ketika kita dapat bersahat baik dengan seorang Oblat.  Saya sangat bersyukur karena dapat bertemu dengan para Oblat misionaris yang luar biasa – salah satu contohnya, Pastor Wahyu.  Banyak pelajaran hidup yang saya dapatkan dari Beliau.  Banyak hal yang harus saya syukuri dan terus-menerus mengucap syukur pada Tuhan.  Bahagia sekali dapat berada di tengah-tengah Imam OMI!

(Penulis:  Fransiska Dhena Lorenza, OMK Paroki Sepauk, Kalimantan Barat/Foto: F. Dhena Lorenza)

Pelatihan Pengurus OMK di Stasi Bernayu yang jaraknya kira-kira 53 km dari Paroki Sepauk, Kalimantan Barat

Pemberkatan Gereja Stasi Kelabit, Sepauk, Kalimantan Barat

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.