Maarif Award untuk Romo Carolus, OMI

Artikel - Ragam Peristiwa

Maarif Institute memberikan penghargaan Maarif Award kepada dua tokoh kemanusiaan, Charles Patrick Edward Burrows, OMI yang akrab disapa “Romo Carolus” dari Cilacap dan Ahmad Bahrudin dari Salatiga. "Mereka adalah orang yang beragama secara otentik, berasal dari dua agama yang berbeda, namun memiliki satu tujuan sama, kemanusiaan. Mereka berdua sungguh luar biasa," kata pemrakarsa Maarif Institute, Buya Syafii Maarif, di Jakarta, Sabtu, 26 Mei 2012.

Romo Carolus yang berusia 69 tahun berperan penting dalam kemajuan sejumlah desa di Cilacap, Jawa Tengah.  Sejak 1974, Romo kelahiran Irlandia itu menjadi penggerak, sekaligus penghubung antara masyarakat dan pemerintah daerah setempat untuk membangun jalan, sarana pendidikan, balai pengobatan, tambak udang, dan sejumlah aksi sosial lainnya.

"Saya hanyalah orang desa yang menjadi inisiator. Seharusnya yang menerima penghargaan itu adalah para tukang bangunan, guru, dan masyarakat setempat," kata Romo Carolus, yang menjadi warga negara Indonesia (WNI) sejak 1983 dan memilih nama Romo Carolus Padat Karyono, OMI.

Maarif Awards merupakan pemberian penghargaan kepada orang-orang yang memiliki dedikasi di bidang kemanusiaan. Program tersebut memberikan penghargaan kepada para tokoh yang tidak dikenal oleh publik.  "Di Indonesia, negarawan selalu dipersepsikan sebagai tokoh besar yang terkenal. Padahal banyak orang yang berbuat kebaikan demi masyarakat banyak namun belum dikenal," demikian Direktur Eksekutif Maarif Institute Fajar Riza Ulhaq berujar.

Maarif Awards sudah berlangsung sejak 2007. Juri Maarif Award 2012 menyeleksi 53 berkas kandidat dan memilih dua orang sebagai peraih penghargaan.  Untuk tahun ini, Maarif Award mencari orang-orang yang  memenuhi kriteria “di tengah kemarau ketauladanan dan kenegarawanan yang cukup lama melanda bangsa ini, kehadiran para pemimpin lokal yang memperjuangkan nilai-nilai keindonesiaan dan kemanusiaan ibarat oase yang menyuntikan harapan baru (new hope) dan menumbuhkan model-model alternatif (role models) untuk penguatan dan pemberdayaan masyarakat sipil. Mereka merupakan aktivis pelopor dan penggerak proses perubahan sosial di tingkat akar rumput dengan komitmen tinggi terhadap toleransi, pluralisme, moderasi, dan keadilan sosial.”

Romo Carolus lahir di Seville Place, Dublin, Irlandia Selatan  pada 08 April 1943.  Di usia 19 tahun, Charlie – begitu Beliau biasa disapa – masuk Novisiat Oblat Maria Immaculata (OMI).  Serangkaian formasi dan pendidikan sebagai seorang calon Imam OMI  dilaluinya hingga Beliau meneguhkan panggilannya dalam Tahbisan Imamat di Piltown, sebuah desa kecil di selatan timur Irlandia pada 21 Desember 1969.  Imam muda ini kemudian ikut dalam rombongan imigran Irlandia ke Australia di bulan September 1970 dan sempat berkarya beberapa waktu di Paroki Sefton, Sydney, Australia.  Sejak 09 September 1973, Beliau dikirim ke Indonesia untuk berkarya di Paroki St. Stephanus, Cilacap, Jawa Tengah hingga sekarang.

Tak ada yang tidak kenal Beliau di daerah Kampung Laut, Cilacap. Dari masyarakat kecil hingga pejabat Pemerintah setempat yang berasal dari berbagai aliran agama mengenal sosok Romo Carolus sebagai pencinta orang miskin, pekerja keras, visioner (bukan peramal tapi praktis untuk kebutuhan masa depan), suka humor, sangat sederhana dalam gaya hidup, ramah  dan mudah akrab dengan siapa saja.  Lewat Yayasan Sosial Bina Sejahtera (YSBS) yang dinahkodai Romo Carolus pada tahun 1973, telah banyak program padat karya dilaksanakan di Kampung Laut dan daerah-daerah miskin sekitarnya.  Sejumlah sekolah dan lembaga pendidikan ketrampilan turut pula meramaikan daerah tersebut demi mempersiapkan manusia yang berketerampilan dan siap bekerja mencari nafkah penyambung hidup setiap harinya.  Bukan itu saja, YSBS juga menangani proyek irigasi, perumahan, pembangunan jalan, pembuatan bak penampungan air yang airnya kemudian dialirkan ke kampung-kampung berbukit dan berbatu lewat pipa-pipa kecil.  Semua karya Romo Carolus adalah demi membuat sosok manusia Kampung Laut dan daerah sekitarnya menjadi lebih manusiawi, tidak terus terpuruk dalam kemiskinan dan keputusasaan.  Romo Carolus senantiasa membantu mengangkat derajat mereka lewat proyek padat karya – memberi kail dan umpan agar si manusia dapat mencari ikannya sendiri.

Romo Carolus memposisikan dirinya sebagai “Manusia 3D: Decides – Delegate – Disappears (Memutuskan – Mendelegasikan – Menghilang)”.  Misi utama karya-karyanya adalah untuk membantu yang miskin.  Kalau Romo Carolus diutus ke suatu tempat untuk berkarya, yang pertama kali dipikirkannya  bukan bagaimana Romo Carolus dapat membangun kapel atau gereja, tetapi bagaimana dapat meningkatkan kesejahteraan si miskin.  “Saya seorang Oblat Maria Imakulata, sudah menjadi kewajiban saya untuk bermisi dan berkarya bagi si miskin,” begitu Romo Carolus pernah berujar.

Proficiat kepada Romo Carolus, OMI,  Proficiat untuk YSBS dan seluruh warga Kampung Laut!

(Disusun dari berita di situs antaranews.com dengan penambahan seperlunya/Foto: Antaranews.com)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.