Oblat Indonesia Ke-31 Ditahbiskan

Artikel - Ragam Peristiwa

Pada Senin, 09 Juli 2012, pkl. 17.00, bertempat di Paroki Santa Maria Imakulata, Tarakan, Kalimantan Timur, Bapa Uskup Tanjung Selor, Mgr. Yustinus T. Harjasusanta, MSF, memberikan Tahbisan Imamat kepada Diakon Aloysius Wahyu Nugroho, OMI – Oblat asli Indonesia ke-31 yang lahir di Bandungan, 28 Mei 1984.

 

Suasana sore hari itu di Paroki Santa Maria Imakulata, Tarakan memang berbeda.  Begitu banyak undangan dan umat yang hadir untuk menjadi saksi Tahbisan Imamat untuk Diakon Wahyu, OMI.  Tampak hadir 20 Oblat yang berkarya di Indonesia dan 15 Imam Praja, MSF, dan OFM Conv., serta umat yang datang dari berbagai kalangan, termasuk para anggota AMMI dari Jakarta, dan perwakilan umat dari Cilacap dan Sepauk.  Calon Oblat Indonesia ke-31 yang ditemani oleh Romo Provinsial OMI Indonesia, Romo Sekretaris Provinsial, dan Romo Rektor Seminari Tinggi OMI tampak tiba di gereja setelah terlebih dahulu melakukan kirab dengan mobil terbuka dari Rumah OMI di Gunung Belah, Tarakan.  Kehadiran rombongan kirab ini disambut dengan tari-tarian dan Bapa Uskup di depan gereja.

Usai Misa Kudus Tahbisan Imamat, diadakan ramah tamah meriah dengan serangkaian acara yang dikemas menarik oleh umat Paroki Tarakan, seperti dari Bina Iman Anak, Lingkungan-Lingkungan, dan Antiokhia.  Bapak K.H. Zainuddin Dalila, Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Tarakan yang hadir malam itu berkenan memberikan Kata Sambutannya. Acara semakin meriah dengan tampilnya para Oblat Indonesia yang menyanyikan lagu kebangsaan OMI: “Bujangan”.

Anak bungsu dari pasangan Bapak Y.B. Handaya dan Ibu Ch. Jumini ini juga menuturkan harapannya sebagai seorang Oblat:  “Mimpi saya  sebagai Misionaris Oblat adalah melayani yang tak terlayani. Hal itu tidak lepas dari pengalaman rohani yang saya alami sewaktu mencicipi pengalaman hidup sebagai Misionaris Oblat di tanah misi pedalaman Kalimantan Barat. Pengalaman itu mengubah seluruh pandangan saya tentang hidup sebagai seorang imam. Pengalaman itu meneguhkan panggilan saya sebagai Misionaris OMI. Maka saya ingin sekali berkarya di daerah pedalaman yang terpencil sebagai seorang misionaris. Namun demikian saya selalu siap sedia memberikan diri saya ke mana pun Kongregasi dan Gereja memerlukan saya.  Sebagai imam yang baru ditahbiskan, tentu saja harapan saya adalah dapat belajar banyak dari pengalaman hidup para Oblat yang lebih senior tentang bagaimana menghidupi tugas perutusan sebagai Misionaris Oblat. Ada begitu banyak inspirasi dari pengalaman jatuh bangun mereka  untuk tetap setia pada panggilan perutusan sebagai imam. Harapan terdalam saya adalah bahwa saya dapat mengalami hidup sebagai imam dengan penuh sukacita sehingga kemudian mampu berbagi sukacita kepada rekan-rekan sepekerja dan terlebih umat yang saya layani. Semoga saya setia sampai mati.”

Selepas menerima Tahbisan Imamatnya, Romo Wahyu akan berkarya di Seminari Tinggi OMI “Wisma de Mazenod”, Yogyakarta, sambil merampungkan studi S2-nya.  Proficiat Romo Aloysius Wahyu Nugroho, OMI.  Selalu setia dalam menapaki jalan hidup imamat sehingga mampu menjadi seorang Oblat yang sejati dan tangguh.

(Dokumentasi: Seminari Tinggi OMI "Wisma de Mazenod", Congdongcatur, Yogyakarta)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.