Setia Menyiapkan Calon Oblat Selama 30 Tahun

Artikel - Ragam Peristiwa

Para Oblat Delegasi Australia yang berkarya di Pulau Jawa sejak tahun 1971 melihat adanya peluang dan minat dari para pemuda asli Indonesia untuk menjadi Misionaris OMI.  Pada tahun 1980, ada 8 pemuda Indonesia yang mencatatkan diri sebagai calon Oblat.  Mereka tinggal dan belajar filsafat di Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan, Yogyakarta.  Pada tahun 1981, dicapai kesepakatan untuk mendirikan sebuah rumah pendidikan bagi para calon Oblat di Indonesia dan dipilihlah kota Yogyakarta.  Maka dimulailah segala persiapan untuk mendirikan rumah untuk Pendidikan.

Dengan bantuan umat, diperoleh tanah seluas 600 m2 di Desa Dero, Kelurahan Condong Catur.  Pembangunan rumah pendidikan dimulai dengan peletakan batu pertama pada bulan Januari 1982.    Dalam proses pembangunan tahap awal, diprioritaskan pada adanya bangunan pokok seperti kamar-kamar, dapur dan ruang cuci.

29 Juli 1982 merupakan tonggak sejarah bagi Rumah Pendidikan OMI di Indonesia.  Pada waktu itu terjadilah masa transisi bagi para calon Oblat Indonesia.  8 calon Oblat pindah dari Seminari Tinggi St. Paulus, Kentungan, Yogyakarta, begitu juga dengan 4 calon baru dari Seminari Menengah Mertoyudan, Magelang.  Romo Yohanes Kevin Casey, OMI berpindah karya dari Paroki St. Yosef, Purwokerto Timur, untuk selanjutnya menjadi Rektor Seminari Tinggi OMI yang pertama.  Pada waktu itu,  Kapel, ruang makan dan garasi sepeda belum selesai dibangun sehingga 2 kamar digunakan sebagai ruang makan dan Kapel. Sepeda di simpan di dalam kamar masing-masing, bahkan selama beberapa hari mereka harus mandi di sungai di belakang Wisma De Mazenod.

Pada tahun 1983, beberapa unit bangunan telah selesai dikerjakan.  Rumah Pendidikan OMI ini kemudian diberi nama ”Wisma de Mazenod” dan diberkati bertepatan dengan Pesta St. Laurensius Martir, 10 Agustus 1983, oleh Romo Austin Cooper, OMI, Provinsial OMI Australia saat itu.

Seiring dengan perjalanan waktu, penghuni Wisma de Mazenod terus bertambah.  Tercatat di bulan Juli 1983 terdapat 8 calon OMI yang bergabung, begitu juga di bulan Juli 1984 ada penambahan 9 calon OMI lagi.  Melihat perkembangan jumlah calon Oblat yang cukup baik, maka sejumlah penambahan fasilitas penunjang pendidikan diadakan. Pada akhir tahun 1984,  dibangun gedung pastoran sehingga Wisma de Mazenod membentuk komunitas sendiri yang disebut ”Komunitas Rumah Formasi”.

Sejak awal berdirinya hingga sekarang, Wisma de Mazenod telah dengan setia terus menyiapkan para calon Misionaris Oblat yang bersemangat St. Eugenius de Mazenod, Bapa Pendiri OMI.  Para calon ini mengalami proses formasi yang cukup panjang di Wisma de Mazenod, selama 7 tahun.  Mereka belajar Filsafat dan Teologi di Fakultas Teologi Wedabhakti, Kentungan, dan menjalankan sejumlah aktifitas serta program formasi lainnya yang disiapkan secara matang sehingga para calon Oblat ini dapat terus berproses dalam membangun hidupnya sebagai seorang religius OMI.

Benih-benih panggilan yang ada dalam diri para calon Oblat memang harus terus diasah dan dikembangkan.  Bukanlah pekerjaan yang mudah untuk menjalani dan mengalami proses panjang formasi awal yang tentunya terisi oleh naik-turun, jatuh-bangun, dan pergulatan pemantapan diri.  Maka tak heran jika tidak semua calon Oblat akan dapat terus bertahan hingga tahap Tahbisan Imamat.

Wisma de Mazenod telah menjadi saksi sejumlah besar pemuda yang dengan niat dan tekad yang tulus dan suci mencoba untuk mengasah diri demi mempersembahkannya kepada Allah supaya dipakai menjadi penyalur berkat berlimpahNya bagi Gereja.  Dalam 30 tahun keberadaannya, Wisma de Mazenod telah memetik buah tahbisan sebanyak 31 Oblat asal Indonesia. Oblat asal Indonesia yang pertama, Romo Gregorius Basir Karimanto, OMI ditahbiskan di Cilacap, pada 27 Februari 1987, sedangkan Oblat asal Indonesia ke-31, Romo Aloysius Wahyu Nugroho, OMI, baru saja ditahbiskan di Tarakan, 09 Juli 2012.

Roda kehidupan Wisma de Mazenod terus berputar.  Pada tahun akademik 2012/2013 ini, tercatat ada 10 Frater dan 1 Bruder yang menjadi penghuni Wisma yang luas dan tertata rapih ini.  Semoga terus terjadi, tumbuhnya benih-benih panggilan menjadi Oblat sejati dalam keluarga-keluarga umat Katolik.  Semoga ke depannya, Wisma de Mazenod dapat terus menjadi saksi panenan Oblat Indonesia yang berlimpah. (S. Phanie Martino)

(Sumber: Majalah Caraka, Edisi Khusus, Juli-September 2012 ; Artikel dalam Bahasa Inggris: Oblate Communications, www.omiworld.org)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.