Datang dan Berbagi Cinta

Artikel - Ragam Peristiwa

Datang dan Berbagi Cinta
(Live-In Biarawan-Biarawati di Paroki Trinitas Cengkareng)

Para Biarawan/Biarawati/Yuniores Peserta Live-In

 

Sebanyak 42 Biarawan-biarawati dan Yuniores (Seminaris) OMI hadir selama tiga hari dua malam di rumah-rumah umat Parok Trinitas, Cengkareng, Jakarta Barat dalam rangka pelaksanaan kegiatan Live-In Biarawan-Biarawati untuk mengisi Perayaan HUT Paroki Trinitas, Cengkareng yang ke-40. 42 Biarawan-biarawati ini berasal dari enam Kongregasi yang berbeda yaitu OMI, ADM, JMJ, SDB, CSE, SVD. Kegiatan ini dilaksanakan pada 06-08 Juli 2018.

Tema yang diangkat untuk acara live-in kali ini adalah “Come and Share The Love” yang artinya “datang dan membagikan cinta”.  Acara ini adalah sebuah kesempatan bagi para biarawan-biarawati untuk berbagi cinta dan pengalaman mereka kepada umat, begitu juga sebaliknya, umat membagikan cinta dan pengalaman mereka kepada para biarawan-biarawati yang tinggal di rumah-rumah mereka.

Pada hari pertama, semua peserta tiba di Gereja Trinitas dan langsung mengikuti Perayaan Ekaristi Jumat Pertama pada pkl. 19.00. Setelah itu diadakan perkenalan antara para biarawan-biarawati-yuniores peserta live-in dengan induk semang yang akan menerima mereka menginap di rumah selama 3 hari 2 malam. Umumnya, satu keluarga ditinggali oleh satu biarawan/wati ataupun yuniores.

Dinamika kegiatan yang lebih menarik terjadi di hari kedua. Kegiatan diawali dengan Ibadat Pagi dan Misa bersama umat di Kapel Sta. Maria yang berada di lantai 2 Gereja Trinitas. Lewat kegiatan ini umat Paroki yang biasa ikut Misa Pagi dapat merasakan nuansa hidup biara khususnya dalam doa dan ibadat brevir. Setelah Misa, ada ramah-tamah bersama sekaligus merayakan ulang tahun Imamat Pastor F.X. Rudi Rahkito Jati, OMI dan Pastor Aloysius Wahyu Nugroho, OMI.  Setelah kenyang dengan santapan rohani dan jasmani, para peserta live-in latihan koor untuk pelayanan koor pada Misa Minggu Biasa XIV pkl.08.30 di Gereja Trinitas.  Setelah latihan selesai, para peserta live-in kembali ke rumah tempat tinggal masing-masing dan berdinamika bersama umat di Wilayah tempat mereka tinggal. Ada yang berkunjung ke rumah umat lansia, ke rumah umat yang sedang sakit, dan ada juga yang berkegiatan sarasehan dan Ibadat Lingkungan.

 

Syukuran Ulang Tahun Imamat Pastor F.X. Rudi Rahkito Jati, OMI dan Pastor Aloysius Wahyu Nugroho, OMI

 

Hari ketiga menjadi puncak kegiatan live-in ini. Petugas liturgi sebagian besar adalah para peserta live-in. Sr. Roberta, ADM dan Fr. Paiman, OMI bertugas menjadi Lektor. Sr. Anastasia, JMJ bertugas menjadi Pemazmur. Biarawan-biarawati dan yuniores lainnya bertugas koor memuji Tuhan dalam nyanyian. Misa meriah dipimpin oleh Pastor Antonius Widiatmoko, OMI bersama tiga imam Konselebran yaitu Pastor F.X. Rudi Rahkito Jati, OMI, Pastor Aloysius Wahyu Nugroho, OMI, dan Pastor Bambang Doso, Pr dari Keuskupan Banjarmasin.

Yang tak kalah heboh adalah kegiatan setelah Misa yaitu dinamika bersama kaum muda Paroki Trinitas. Acara yang dikemas dengan judul “Seru-Seruan Bareng Biarawan-Biarawati” ini ternyata menarik cukup banyak peminat. Kelompok kaum muda dibagi dalam dua kelompok yaitu kategori umur 17 tahun ke bawah dan  18-35 tahun. Dalam kegiatan itu, OMK diajak untuk tidak merasa asing berteman dan bercengkrama dengan para biarawan-biarawati.

Di ujung acara ada sharing bersama antara para peserta live-in dengan umat. Dalam kesempatan itu terungkap kebahagiaan masing-masing orang karena boleh punya kesempatan saling berjumpa dan hidup bersama selama 3 hari 2 malam. Pastor Rudi, OMI dalam sambutannya mengungkapkan rasa syukur yang besar karena acara dapat berjalan dengan baik dan lancar dan suasana Gereja menjadi lebih hidup dengan adanya kegiatan ini. Paroki berencana menjadikan acara seperti ini sebagai agenda tahunan yang semoga bisa berjalan dengan lebih baik di kesempatan yang akan datang.

 

Hati Seorang Misionaris

Ada satu pengalaman menarik ketika saya berkunjung ke orang sakit dan lansia di Wilayah 3, Lingkungan Santa Helena dan Santa Chatarina. Yang saya kunjungi adalah Oma Emiliana dan Oma Nina. Keduanya meskipun berada dalam kondisi yang tidak baik, namun jiwa dan iman mereka amat hidup. Mata mereka tidak seperti orang yang kehilangan pengharapan, tetapi justru cerah bersinar percaya akan pertolongan Tuhan. Oma Nina pernah koma.  Setelah dua hari koma keluarga memutuskan untuk meminta Sakramen Pengurapan Orang Sakit bagi Oma Nina.   Pastor Denny Haloho, OMI yang memberikan Sakramen ternyata membawakan mukjizat kesembuhan bagi Oma Nina sehingga Oma Nina siuman dari koma-nya.

Selama koma, Oma Nina ternyata mendapatkan penglihatan yang luar biasa. Oma Nina melihat sebuah gerbang besar berselubungkan emas murni yang mengkilap dengan pekarangan yang luas. Oma berjalan menuju gerbang itu namun tidak dapat. Ia ingin menggapainya namun tak dapat. Di tengah kebingungannya, hadirlah di belakang Oma seorang perempuan cantik dengan jubah dan tudung kepala. Saat itu Oma tidak mengenali perempuan cantik tersebut. Ketika ia sadar dan siuman, ia mengenali sosok itu sebagai Bunda Maria. Pengalamannya melihat penglihatan luar biasa itu ia ceritakan dengan penuh semangat kepada saya dan Pak Yanes yang mengunjunginya. Padahal ia masih sakit. Menurut Ibu Monika (anak Oma Nina) biasanya Oma tidak banyak bicara, namun sekarang malah sangat bersemangat bercerita tentang penglihatannya.

Inilah momen kesempatan perjumpaan hati di antara para misionaris. Misionaris pertama adalah Oma Nina. Meskipun terbaring sakit, hatinya berkobar-kobar untuk mewartakan pengalamannya bersama Bunda Maria di gerbang surga. Misionaris yang kedua Pak Yanes, Bu Maya dan Bu Silvi selaku Pengurus Lingkungan yang memperhatikan umatnya.   Mereka selalu mengusahakan agar para Oma yang terbaring sakit menerima Komuni Orang Sakit.  Pada kesempatan ini mereka menemani saya untuk mengunjungi Oma Nina. Saya pun sebagai seorang misionaris merasa bersyukur boleh sejenak menjadi misionaris kota besar, melayani yang tak terlayani di Kota Metropolitan.

Siapa sangka Penginjilan Timbal Balik selalu terjadi. Niat hati saya bersama Pengurus Lingkungan adalah membawa penghiburan bagi Oma, ternyata Oma pun memberikan pewartaan kepada kami lewat cerita dan pengalaman hidupnya. Dalam draft Konstitusi OMI tahun 1818 yang ditulis oleh Santo Eugenius de Mazenod, ia berpesan agar setiap misionaris memiliki hati yang penuh pengertian, yang dengan perkataan-perkataannya memperlakukan seseorang sebagaimana jati dirinya yang sesungguhnya sebagai manusia terlebih apabila mereka sedang berada dalam kondisi yang tidak baik. Nasihat itu sungguh terasa bagi saya, bahwa dengan hati yang penuh pengertianlah maka seorang misionaris dapat mewartakan kebaikan dan juga menerima kebaikan dari orang lain pula. Seorang pengarang komik modern bernama Takeshi Maekawa juga mendukung hal itu, bahwa setiap dari kita perlu untuk memiliki “mata dan hati yang dekat dengan permukaan tanah”. Itulah hati seorang misionaris, hati yang penuh pengertian yang dekat dengan orang-orang yang berada dalam situasi sulit, dan pengalaman ini semakin mempertajam jiwa misionaris dalam diri saya secara pribadi.

Benih yang Tumbuh

Gereja adalah sebuah persekutuan umat Allah. Gereja bisa hidup dan hadir hingga saat ini karena peranan generasi-generasi awal yang menjadi perintis, namun tidak kalah penting perannya adalah kaum muda yang akan menjadi generasi penerus sejak saat ini. Lewat acara ini, sebagai seorang Oblat pun, saya diajak untuk mendalami pesan dari hasil Kapitel Umum OMI ke-36 tentang pastoral kaum muda. Tema yang diangkat oleh Panitia Live-In,  “Seru-Seruan Bareng Biarawan-Biarawati” sangat cocok dan membantu saya untuk menghidupi nasihat Kapitel Umum yaitu untuk menjalankan misi dan pelayanan pastoral bersama kaum muda (lih. Acts of the 36th General Chapter,2016. Hlm.26-32).

Dari acara bersama kelompok OMK kategori umur 18-35 tahun, saya melihat adanya harapan akan benih generasi muda Gereja yang sedang bertumbuh. Satu hal yang saya salut dengan OMK Trinitas adalah daya perhatian mereka terhadap acara ini. Mereka hadir dan mengikuti acara dengan penuh sampai selesai pukul 15.30 WIB. Saya memang tidak melihat apa yang terjadi dengan kelompok kategori umur 17 tahun ke bawah, tetapi saya yakin mereka pun melihat dan mengalami hal yang sama.

Paroki Trinitas tetap mempunyai masa depan karena kaum mudanya yang masih punya perhatian dan keinginan untuk terlibat dalam Gereja. Memang yang hadir belum semua kaum muda Paroki Trinitas, tetapi itu menjadi tugas bersama untuk merangkul seluruh kaum muda Gereja, melayani bersama mereka, berkarya bersama mereka dan berkembang bersama mereka. Semoga benih ini tumbuh dengan subur dalam Paroki Trinitas, terkhusus di antara mereka pun ada benih panggilan yang tumbuh, yang mendorong mereka untuk mengikuti Yesus dengan menjadi Imam-Biarawan-Biarawati - lebih khusus lagi menjadi Imam-bruder-suster OMI. Semoga Allah memberkati kita semua dalam nama Tuhan Yesus dan Maria Imakulata.

 

(Penulis:  Frater Henrikus Prasojo, OMI/Foto: Komunitas Frater OMI Indonesia)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.