Perayaan Kaul Pertama Kongregasi: Dibaptis dan Diutus

Artikel - Ragam Peristiwa

Dibaptis

Baptisan kita memberikan komitmen untuk menjadi pewarta Injil.  Misi kita sebagai murid-murid Kristus dimulai dari sejak kita menerima baptisan tanpa memandang umur pada saat kita dibaptis.  Kita dipanggil untuk menghidupi dan membangun perutusan ini dalam segala situasi selama kita masih hidup.

“Baptisan – dalam arti tertentu – adalah kartu tanda pengenal kekristenan kita, akte lahir, dan akte kelahiran kita di dalam Gereja,” kata Paus Fransiskus dalam audisi 13 November 2013.

Bapa Pendiri memberikan arti khusus akan pentingnya hari pembaptisan Beliau: “.... yang sudah pasti lebih berharga baginya adalah ulang tahun pembaptisannya yang terjadi pada 02 Agustus 1782.” (lihat Catatan Harian Kongregasi Kaum Muda, 31 Juli 1814, OW XVI)

Dan untukku:  Apakah aku ingat hari pembaptisanku?  Ulangtahun pembaptisanku?

Dalam karya pastoralnya, St. Eugenius de Mazenod secara rutin memperkenalkan pembaharuan janji baptis: pada waktu mengesahkan Regula Asosiasi Pemuda Kristen Aix di tahun 1813, atau juga pada saat misi di Marignane tahun 1816 (bdk. Oblate Writings Vol. 16)

Dalam mempersiapkan dokumen ini, saya tersentu dengan hymne yang digunakan dalam misi-misi pertama Bapa Pendiri: “Pada waktu air suci baptisan mengalir di dahimu, dan Tuhan, Sang Kebaikan itu sendiri, mengangkatmu menjadi anak-anakNya, engkau masih tetap diam.  Yang lainnya berjanji untukmu; hari ini, akukan iman yang membanggakan kaum Kristiani...”  Hymne ini memberitahu kita bahwa segalanya adalah karena Allah yang bertindak, dan kita diingatkan akan tanggungjawab kita dalam mendampingi masyarakat, khususnya kaum muda.  Pendampingan ini adalah tanggungjawab gerejawi.  Selain itu, Paus Fransiskus mengingatkan kita dalam Seruan Apostolik “Christus Vivit”: “Masyarakat memiliki peran penting dalam mendampingi kaum muda; Masyarakat harus merasa sama-sama bertanggungjawab untuk menerima, memberikan motivasi, memberikan dorongan dan tantangan kepada mereka.” (CV # 243)  Kita dapat membaca juga surat pastoral tentang Gereja yang ditulis oleh Bapa Pendiri di tahun 1860: “Gereja, yang lahir dalam Tuhan, yang pada saat pembaptisan mendapat anugerah kasih karunia Yesus Kristus, yang menjadikan Gereja sebagai Yesus Kristus yang lain dan anak-anak Allah...” (bdk. Surat Pastoral tahun 1860)

Dalam Kisah Para Rasul, Gereja yang baru lahir ditampilkan sebagai sebuah komunitas murid-murid yang diutus untuk mewartakan keselamatan dan untuk menjadi saksi dari Yang Bangkit.  Sebagai inisiatif liturgi untuk Bulan Misi Luar Biasa (Oktober) atau persiapan Perayaan Kaul Pertama Kongregasi (01 November), kami usulkan agar Anda memperbaharui dimensi Kristus dari pembaptisan kita (lihat artikel tentang Perayaan Pembaharuan Janji Baptis).

 

Perutusan Kita

Lewat pembaptisan kita diutus untuk bermisi.  Kita harus menjadi “kenangan hidup akan cara hidup dan bertindak Yesus sebagai Sabda Yang Menjelma dalam hubunganNya dengan Bapa dan dengan sesama manusia.“ (Vita Consecrata # 22)  Lewat hidup bakti kita dalam komunitas, kita mempunyai pengalaman konkrit menjadi seorang murid: “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.  Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-muridKu, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.” (Yoh 13:34-35)  Yesus mempercayakan pada kita satu misi: “saling mengasihi,” dalam komunitas Gereja, dan terbuka mengasihi yang lainnya.  Misi kita tidak ditentukan lewat yang kita kerjakan, tetapi lewat berbagi hidup dengan mereka yang paling terlantar.  Aku memberikan diriku dan seluruh komunitas mengambil tanggungjawab atas misi yang telah Gereja percayakan kepadanya.

Maka, misi pertama kita adalah untuk menghidupi karunia persaudaraan yang kita terima dari Tuhan, membangun persaudaraan di dalam dan di luar komunitas.  Vita Consecrata # 72 berkata: “Sesungguhnya perutusan – lebih dari sekedar menyangkut karya-karya lahiriah – bermaksud menghadirkan Kristus bagi dunia melalui kesaksian pribadi.  Itulah tantangan, itu tugas utama bagi hidup bakti!  .... Para anggota hidup bakti ‘diutus’ karena pentakdisan mereka sendiri, pokok kesaksian mereka seturut cita-cita Tarekat mereka.”

Paus Paulus VI dalam Seruan Apostolik Evangelii Nuntiandi berkata: “Mewartakan sebenarnya adalah sukacita dan panggilan yang tepat untuk Gereja, keduanya menjadi identitas Gereja yang terdalam.  Gereja ada untuk mewartakan...” (EN # 14).  Maka, semua yang dibaptis, berdasarkan imamat umumnya, dituntut untuk menyebarkan Injil:  kasih Tuhan yang ditawarkan kepada semua orang tanpa memandang warna kulit, status sosial bahkan moralitas.  Jelas, murid-misionaris yang sempurna mungkin tidak ada lagi yang seperti orang suci tanpa kelemahan.  Kita dapat katakan: karena kita tidak sempurna, kita membutuhkan doa dan pertolongan dari orang-orang percaya lainnya untuk menjadi saksi Injil yang dapat dipercaya.  Ada beragam panggilan dan karya misi, seperti yang baru saja kami sebutkan, tanpa melupakan Konstitusi OMI # 7: “Para Oblat, imam dan bruder, memiliki tanggungjawab bersama dalam karya pewartaan Injil.”

Marilah kita bersama-sama kembali membaca pesan Bapa Suci pada peserta Kapitel Umum 2016: “Sekarang ini, setiap tanah adalah ‘wilayah misi’, setiap dimensi kemanusiaan adalah wilayah misi, yang menunggu diwartakannya Injil.”  Lewat pesan ini dan cuplikan dari surat Bapa Pendiri kepada Pastor Richard, tertanggal 06 Desember 1851, kita dapat mengambil waktu untuk berperanserta dalam Kampanye Serikat Kepausan Misioner “#MyMission is.... and yours?” (#Misiku adalah... apa misimu?): “Misi asing dibandingkan dengan misi kita di Eropa mempunyai karakter khusus dari tatanan yang lebih tinggi karena misi asing adalah kerasulan sejati untuk memberitakan Kabar Baik kepada bangsa-bangsa yang belum terpanggil untuk mengenal Allah Yang Benar dan PuteraNya Yesus Kristus.... Inilah misi para rasul: ‘Euntes, docete omnes gentes!’ – Pergilah, ajarlah semua bangsa!  Ajaran kebenaran ini harus menembus bangsa-bangsa yang paling terbelakang sehingga mereka dapat dilahirkan kembali lewat air pembaptisan.” (bdk. OW II, No. 157)

 

Oblatio Kita

Dalam suratnya kepada Kongregasi, 25 Maret 1826, Bapa Pendiri menulis: “...., Sekarang, para Imam dan Bruder [...] engkau telah dipilih, dengan rahmat khusus [...], untuk menyalakan kembali api kesalehan para murid pertama yang beriman, untuk menghasilkan kembali di dalam hidupmu teladan-teladan agung dari begitu banyak religius yang – karena latihan-latihan cermat dari kebajikan-kebajikan yang sama yang seperti engkau praktekkan – telah mencapai puncak kekudusan [...] Itulah (Aturan-Aturan)  yang telah dipertimbangkan oleh Bapa Suci sebagai sangat cocok untuk membawa jiwa-jiwa pada kesempurnaan...”

Kita mengalami oblatio kita di dalam komunitas saat bersama dengan yang lainnya.  “Kita, anggota komunitas, membentuk sebuah sel hidup Gereja yang berusaha bersama-sama mengarah pada kepenuhan rahmat Baptis kita.” (Konstitusi # 12).  Adalah lewat Komunitas, aku mencari kesempurnaan cinta kasih.  Bapa Pendiri dan Pastor Tempier menunjukkan kepada kita jalannya di saat – pada Kamis Putih tahun 1816 - mereka berjanji Ketaatan satu dengan yang lainnya, mendukung dan menolong satu dengan yang lainnya dalam peziarahan mereka di dalam Kristus.  Oblatio kita mengambil bentuk – menurut tradisi Gereja – Kaul-Kaul Religius, tetapi hidup bakti kita melampaui kaul-kaul kita.  Hidup bakti kita melingkupi kaul-kaul dan melampaui keberadaannya.  Seruan Apostolik “Vita Consecrata” mengingatkan kita bahwa “suatu tugas khusus hidup bakti ialah mengingatkan umat yang dibaptis akan nilai mendasar Injil.”  Maka hidup kita harus merefleksikan “pentakdisan sakramental, yang terlaksana berkat kuasa Allah dalam Baptis, Krisma, dan Tahbisan.” (VC # 33).  Kita harus menghidupi oblatio kita, dan kita menghidupinya pada setiap hari dari hidup kita, dalam kesempatan-kesempatan yang sangat berbeda (yang berarti, memperbaharui oblatio); kita lakukan itu semua untuk Tuhan melalui nasihat-nasihat Injili yang mengaris bawahi keinginan kita untuk membentuk seluruh keberadaan kita bagi Kristus lewat 3 dimensi dasar: Kemurnian, Kemiskinan, dan Ketaatan.

Marilah kita mengambil keuntungan dari Bulan Misi Luar Biasa ini untuk kembali menemukan akar-akar dari hidup bakti kita dalam baptisan.  Konsili Vatikan II dalam Konstitusi Dogmatik tentang Gereja, Lumen Gentium No. 10, mengingatkan pada kita bahwa “mereka yang dibaptis karena kelahiran kembali dan pengurapan Roh Kudus disucikan menjadi kediaman rohani dan imamat suci, untuk sebagai orang kristiani, dengan segala perbuatan mereka, mempersembahkan korban rohani, dan untuk mewartakan daya-kekuatan Dia, yang telah memanggil mereka dari kegelapan ke dalam cahayaNya yang mengagumkan (lihat 1 Petrus 2:4-10).

Dalam sejarah pribadi kita, yang ditandai dengan pembaptisan kita, dan saat hidup bakti menjadi pilihan dan menemukan kepenuhan artinya, lewat karunia khusus Roh Kudus pada saat pembaptisan, kita berperanseta dalam misi Yesus Kristus sendiri.  Kita dipanggil untuk menghidupi dan memperdalam hidup bakti kita, dalam segala situasi, seringnya hal-hal yang baru, selama keberadaan kita.

Mengikuti jejak St. Eugenius de Mazenod, kita menuntut kesucian yang menjadi pelaksanaan integral dari imamat umum dari mereka yang dibaptis.  Paus Fransiskus dalam Seruan Apostolik “Gaudete et Exsultate” memanggil kita untuk menghidupi kesucian di dunia sekarang ini: “Kita semua dipanggil untuk menjadi kudus dengan menjalani hidup kita dengan kasih dan dengan memberi kesaksian dalam segala hal yang kita lakukan, di mana pun kita berada.  Apakah kamu dipanggil untuk hidup bakti?  Jadilah kudus dengan menjalankan tanggungjawabmu dengan sukacita.“ (GE # 14)  Hidup bakti adalah jalan untuk bertumbuh; sama seperti belas kasih, Kristus meninggalkan pada kita teladan pembasuhan kaki: “Kamupun wajib saling membasuh kakimu... seperti yang telah Kuperbuat kepadamu.” (Yoh 13:14-15)

Kami yang telah menyatakan oblatio kami untuk membentuk diri kami bagi Kristus akhirnya meninggalkan beberapa pertanyaan bagi Anda:

Apakah kita telah menghidupi oblatio kita secara utuh dalam komitmen kita sehari-hari?

Bagaimana kita dapat menjadi saksi-saksi hidup Kristus sekarang ini?

Kehadiran yang bagaimana yang harus kita lakukan sehingga Tuhan Yesus dapat dilihat oleh orang-orang di sekitar kita?

Bagaimana kita menjadi saksi-saksi pengharapan yang kita bawa dalam hati, seperti yang diminta oleh St. Petrus agar kita lakukan (1 Petrus 3:15)?

Apakah kita memiliki pengalaman diutus sebagai tanda cinta kasih Kristus?

Hal apa yang dari teladan pembasuhan kaki yang membuat kita menghidupi Ekaristi secara lebih penuh?

Dan akhirnya, marilah kita menjadi berani untuk membaca kembali Seruan Apostolik Vita Consecrata: “Hidup bakti, yang berakar mendalam pada teladan dan ajaran Kristus Tuhan, merupakan kurnia Allah Bapa kepada GerejaNya melalui Roh Kudus.  Melalui pengikraran nasihat-nasihat Injil,i ciri-ciri khas Yesus – Dia murni, miskin, dan taat – tiada hentinya ‘ditampilkan’ di tengah dunia, dan pandangan umat beriman diarahkan kepada misteri Kerajaan Allah, yang sudah berkarya dalam sejarah, meskipun masih mendambakan perwujudannya sepenuhnya di surga.” (VC # 1)

 

(Komite Jenderal Para Bruder Oblat)

 

(Diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website OMI Indonesia dari artikel "Baptized and Sent" yang terbit di www.omiworld.org)

 

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.