Pengesahan Konstitusi dan Aturan Hidup OMI

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Generalat Sabtu, 08 Februari 2020 20:12

SURAT DARI SUPERIOR JENDRAL

PADA PERAYAAN 194 TAHUN PENGESAHAN KONSTITUSI DAN ATURAN HIDUP OMI OLEH KEPAUSAN

17 Februari 2020

 

Saudara-saudara Oblat dan semua yang menghidupi Karisma Oblat,

 

"Roh Tuhan ada pada-Ku,

oleh sebab Ia telah mengurapi Aku,

untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin;

dan Ia telah mengutus Aku

untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan,

dan penglihatan bagi orang-orang buta,

untuk membebaskan orang-orang yang tertindas,

untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."

(Lukas 4, 18-19)

 

Setiap kali saya mendengar sabda ini dibacakan atau membayangkannya dalam doa, saya percaya bahwa kita semua diurapi secara baru untuk menjalankan Misi Tuhan Yesus. Tritunggal Mahakudus berkarya di dalam dan bersama kita; Allah Bapa, dengan cinta-Nya yang tercurah, memenuhi kita semua dengan Roh dan mengutus kita untuk ambil bagian dalam Misi Sang Sabda yang menjadi manusia.

Hari ini kita merayakan sebuah berkat dari Gereja atas visi misioner Santo Eugenius de Mazenod. Secara mengejutkan, pada waktu itu pengesahan dari Gereja berlangsung amat cepat. Eugenius de Mazenod menyadari bahwa hal itu terjadi berkat Penyelenggaraan Ilahi yang membimbing dirinya, dan juga menggerakkan Paus Leo XII untuk memberikan pengesahan pontifikal atas Konstitusi dan Aturan Hidup kita pada 17 Februari 1826. Paus memiliki hasrat akan adanya pembaruan di dalam Gereja, dan mendengar tentang hal-hal baik yang dilakukan oleh para misionaris ini di Prancis, ia mempercepat proses pengesahan.

 

 

"Pergilah, dan Perbuatlah Demikian."

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Henricus Asodo, OMI Selasa, 16 Juli 2019 00:03

Bacaan Pertama:  Ulangan 30:10-14

Mazmur Antar Bacaan: Mazmur 69:14-17, 30-31, 33-34, 36ab, 37

Bacaan Kedua: Kolose 1:15-20

Bacaan Injil:  Lukas 10:25-37

 

Dalam Bacaan Pertama dari Kitab Ulangan, Musa berkata kepada segenap bangsa Israel:  “Hendaklah engkau mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, dengan berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya,

yang tertulis dalam kitab Taurat ini; dan hendaklah engkau berbalik kepada Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.  Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu, dan tidak pula terlalu jauh;  ....Firman itu sangat dekat  padamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, hendaklah engkau melaksanakannya.”

“... Firman itu sangat dekat padamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu....”

Saudari dan Saudaraku terkasih, kita berbicara tentang mulut dan hati, bukan kepala ( penalaran, kepintaran, pengetahuan, logika) atau mata (untuk melihat) atau telinga (untuk mendengar).  Maka, sekarang saya mengundang Anda sekalian untuk melakukan latihan kecil:  mari bersama kita pejamkan mata sebentar.... mari kita pusatkan perhatian kita pada mulut kita... untuk semua kata yang keluar dari mulut kita... kata-kata yang indah.... kata-kata penghiburan dan yang menguatkan, senyuman, pujian, doa...

Mari kita ucapkan terima kasih karena kita telah melakukan hukum Tuhan... Mari kita ucapkan terima kasih karena Firman Tuhan sangat dekat pada kita.  Mari kita ucapkan terima kasih, terima kasih, terima kasih (sambil meletakkan tangan kita pada mulut kita).

 

Pentakosta - Pembebasan dan Hidup Baru

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Henricus Asodo, OMI Rabu, 12 Juni 2019 19:31

Dalam Buku Doa Gereja, tertulis sebagai nasihat praktis: “Pentakosta adalah perayaan yang diwajibkan!”  Pentakosta berarti 50 dalam Bahasa Yunani.  Pentakosta adalah hari raya penting dari bangsa Yahudi pada hari kelimapuluh setelah Paskah yang memperingati pembebasan mereka dari perbudakan di Mesir.  Bagi kaum Kristiani, Pentakosta adalah hari Roh Kudus memberikan hidup baru kepada semua orang, yakni Yesus yang telah bangkit dari kematian.

Oleh karena itu, sejalan dengan hal tersebut, saya mengajukan dua pertanyaan:  Apakah ada hubungan antara pembebasan dari perbudakan dan kebangkitan dari kematian?  Apakah ada hubungan antara Roh Kudus dan hidup baru?

Jawaban dari dua pertanyaan tersebut adalah, “Ya, tentu saja!”

Pentakosta adalah pembebasan dan hidup baru.

 

Surat Superior Jenderal untuk Pesta St. Eugenius de Mazenod

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Administrator Minggu, 19 May 2019 19:42

Kepada Saudaraku Para Oblat dan Semua Saudara/Saudari yang menghidupi Karisma Oblat,

Pesta St. Eugenius de Mazenod selalu membawa kita untuk memperbaharui keinginan hidup lebih setia seperti yang diminta oleh St. Eugenius:  dengan cinta kasih di antara kita dan semangat menyala-nyala untuk keselamatan jiwa-jiwa.  Semoga hari ini menjadi hari yang spesial untuk berdoa, berkumpul bersama dan perayaan sukacita!

Sebentar lagi, pada bulan Juli, para Superior Kongregasi akan bertemu dalam Rapat Interchapter (Tengah Kapitel) di Obra, Polandia.  Kami akan mengevaluasi sejauh mana keputusan-keputusan yang diambil dalam Kapitel Umum tahun 2016 telah dilaksanakan dan bagaimana untuk melaksanakannya lebih lanjut.  Persiapan untuk Kapitel mendatang juga akan dimulai dalam Rapat Interchapter ini.  Mohon doa dari kita semua pada Roh Kudus agar kami dapat lebih efektif dalam menjawab arahan-arahan bagi Kapitel Umum mendatang.

Dalam bulan Januari tahun ini, para anggota Dewan Jenderal berada di Palermo, Sisili, untuk mengikuti jejak St. Eugenius de Mazenod.  Di Palermo, Eugenius menghabiskan tahap akhir pengungsiannya dari tahun 1799 hingga 1802 sebelum akhirnya ia kembali ke Perancis.  Eugenius ada di Palermo saat usianya 17 hingga 20 tahun.  Dalam peziarahan ke Palermo, kami dituntun oleh seorang anggota AMMI, Enzo David, dan Ileana Chinnici, Presiden Institut Sekuler COMI (Pekerjasama Misionaris Oblat Imakulata)

Kami habiskan waktu berjam-jam di jalan-jalan Palermo untuk melihat daerah tempat tinggal Eugenius, “Palazzi” (istana – red) dari keluarga-keluarga terpandang yang sering dikunjungi Eugenius dan gereja-gereja yang sering didatanginya.  Kami masuk dalam hidupnya sebagai bangsawan muda, berhenti di berbagai situs untuk membaca surat-surat dan memoarnya.  Kami bersentuhan dengan aspek-aspek yang berbeda dari kepribadian Eugenius dan kami mengenali bahwa pengalaman-pengalaman tinggal di Palermo sungguh meninggalkan bekas-bekas dalam kepribadiannya, masa depannya, dan Karisma Oblat.

 

Hidup Kita Harus Berbuah

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Henricus Asodo, OMI Senin, 25 Maret 2019 11:34

Minggu Prapaskah III/Tahun C

Bacaan Pertama: Keluaran 3:1-8a, 13-15

Mazmur Antar Bacaan: Mazmur 103:1-4, 6-8, 11

Bacaan Kedua: 1 Korintus 10:6, 10-12

Bacaan Injil: Lukas 13:1-9

 

“Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?... Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?”

Saudari-Saudara, ada dua godaan besar dalam hidup rohani kita.

Godaan pertama mewujud dalam kata: hukuman.  Kita tergoda untuk berpikir dan percaya bahwa ada hubungan langsung antara kesusahan dan hukuman Tuhan: “Saya sakit karena saya berdosa; saya celaka karena Tuhan marah pada saya; Saya terbelit masalah ini karena saya tidak berada di jalan Tuhan” – dan seterusnya... Singkatnya, “Tuhan menghukum saya.”

 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

«MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir»

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.