Hidup Pentakosta

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Henricus Asodo, OMI Minggu, 31 May 2020 19:52

Bacaan Pertama:  Kisah Para Rasul 2:1-11

Bacaan Kedua: 1 Korintus 12:3b-7, 12-13

Bacaan Injil:  Yohanes 20:19-23

 

Apa yang harus saya katakan tentang Pentakosta?  Banyak sekali yang harus dikatakan.  Saya hanya ingin mengangkat tentang hubungan antara Kebangkitan Tuhan – Kenaikan Tuhan – dan Pentakosta.

Kebangkitan Tuhan:  Kristus, Tuhan kita bangkit dari kematian, Dia hidup!

Kenaikan Tuhan:  Kristus, Tuhan kita naik ke surga kepada BapaNya.

Pentakosta:  Kristus, Tuhan kita hadir dalam rupa RohNya.

 

Anak-Anakku Terkasih

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Administrator Selasa, 26 May 2020 18:02

Anak-Anakku Terkasih,

Aku hidup di abad ke-19.  Dengan surat ini aku ingin menjangkaumu yang hidup sekarang ini di abad ke-21, di saat kalian menghadapi krisis kesehatan global.  Dengan pengalaman hidupku, aku ingin berbagi dengan kalian:

Sebagai seorang imam muda di tahun 1814 di Aix-en-Provence, hatiku pedih bersamamu di depan begitu banyak derita “kaum miskin dengan berbagai wajah”, begitu banyak anak muda yang terlantar, begitu banyak tahanan yang menderita. Janganlah lupa bahwa aku pernah terjangkit typhus karena melayani tahanan perang, orang-orang Austria. Aku sembuh dan  berhutang rasa terima kasih kepada kaum muda yang tidak henti-hentinya berdoa di depan Patung Bunda Segala Rahmat.

Sebagai Superior Jenderal dari Kongregasi Misionaris, hatiku pedih bersamamu karena pandemi yang berdampak ke seluruh benua: setelah Asia, kini Eropa, dan juga di Amerika Latin dan Afrika.  Hingga sekarang, aku melihat lebih dari sepertiga umat manusia terisolasi karena virus ini.

 

Kita Dilahirkan untuk Saat-Saat Seperti Ini

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Louis Lougen, OMI Minggu, 17 May 2020 18:58

 

(Surat dari Pastor Louis Lougen, OMI, Superior Jenderal pada Perayaan St. Eugenius de Mazenod, 21 Mei 2020)

 

Pastor Louis Lougen, OMI

 

L.J.C. et M.I.

Kepada para Oblat dan semua Saudari-Saudara yang dijiwai oleh Karisma Oblat,

Semoga Anda sekalian merayakan dengan sukacita Pesta St. Eugenius de Mazenod!

Dalam waktu yang singkat, hidup kita berubah secara drastis karena pandemi Virus Korona.  Adakah yang tidak terdampak?  Dengan cepat pandemi mengambil alih hidup kita.  Semua bentuk media menempatkan berita dan foto-foto pandemi di depan mata kita:  jutaan kota ditutup dan jalan-jalannya menjadi kosong; rumah sakit yang penuh sesak melebihi kapasitasnya dengan para petugas kesehatan yang sangat letih; kamar jenazah yang tidak lagi punya tempat untuk menampung jenazah-jenazah.  Masker, gel sanitasi tangan, jaga jarak aman, di rumah saja - lockdown, dan layanan penting lainnya hinggap di kamus kita setiap harinya.  Kita melihat rasa sakit luar biasa yang disebabkan oleh virus korona dan begitu banyak orang yang meninggal sendirian, dalam isolasi, terpisah dari orang-orang yang dicintai, bahkan seringkali tanpa penghiburan dari Sakramen-Sakramen. Ketidakpastian, ketakutan, kecemasan dan stres; pengangguran, tidak ada gaji, kelaparan. Kaum miskin terpukul paling parah oleh pandemi ini.

Gereja, dalam puncak tahun liturginya – Pekan Suci dan Tri Hari Suci, ditutup dan kosong.  Banyak orang yang mengungkapkan perasaan sedihnya karena tercabut keluar dari liturgi yang spesial ini, dan tidak bisa menerima Sakramen Pengakuan Dosa maupun Sakramen Ekaristi. Live Streaming Perayaan Ekaristi hadir lewat sambungan internet dan menolong untuk mengisi kekosongan.  Siapa yang tidak terharu melihat Paus Fransiskus yang pada tanggal 28 Maret berjalan dalam hujan rintik-rintik di Lapangan St. Petrus untuk memberikan Berkat Urbi et Orbi?  Bapa Suci mengungkapkan rasa sakit dunia dan kepercayaan kita yang teguh bahwa Allah ada di tengah-tengah kita dan memeluk kita dengan lembut untuk membuat kita dekat dengan-Nya.


Kita telah kehilangan beberapa saudara Oblat dan anggota keluarga Oblat di masa pandemi ini.  Pada saat surat ini saya tulis, ada 5 Oblat yang meninggal karena COVID-19.  Kita sama-sama berdoa untuk 6 Oblat lainnya yang terjangkit Virus Korona dalam kondisi yang sangat serius.

Para Oblat dan Saudari-Saudara yang se-karisma mencoba banyak cara kreatif untuk terus melayani dan terus ada untuk orang banyak sambil terus menghormati peraturan “jaga jarak aman” dan “lockdown”.  Secara istimewa adalah pelayanan bagi kaum miskin, mereka yang tidak bisa keluar dari rumah, dan mereka yang tidak punya rumah.  Berkantong-kantong dan berpaket-paket kebutuhan prima, makanan dan obat-obatan, masker dan cairan sanitasi dibagikan pada mereka.  Di tengah-tengah yang sakit dan meninggal, yang gelisah dan stress, selalu ada tanda-tanda indah dari solidaritas, kemurahan hati, dan keberanian.  Pastor Shanil Jayawardena, OMI, Direktur Pelayanan Komunikasi Oblat, telah mengumpulkan dari berbagai Unit Kongregasi, bukti-bukti para Oblat dan kaum awam yang menghidupi Karisma St. Eugenius dalam beragam keadaan dan cara.  Silahkan ambil waktu beberapa saat untuk mengunjungi website kita, www.omiworld.org, dan melihat yang telah diperbuat para Oblat dan mereka yang sepekerja dengan para Oblat.

Dua tahun yang lalu, salah satu Pra-Novis OMI mengatakan hal ini:  “Para Oblat bukanlah kongregasi masa lampau; Para Oblat adalah kongregasi masa kini dan masa mendatang, dan bahkan lebih dari itu, kalau melihat dunia yang sekarang ini.  Kita dilahirkan untuk saat-saat seperti ini.”

Tidakkah ada percikan semangat St. Eugenius de Mazenod di kata-kata tersebut?  “Kita dilahirkan untuk saat-saat seperti ini” : saat ketakutan, kegelisahan, kebingungan, dan ketidak-pastian yang menjadikan mereka yang paling terlantar dan yang paling miskin menderita kesulitan besar.  Di waktu yang sama, “saat-saat seperti ini” menjadi saat untuk menawarkan pemikiran-pemikiran baru, kemungkinan-kemungkinan baru, tantangan-tantangan baru, saat yang memanggil kita untuk bangkit dan peduli pada rumah kita bersama dan orang-orang di dalamnya.

Saya berterima kasih kepada Anda sekalian atas usaha-usaha kreatif dalam melayani saudara-saudari kita dalam masa pandemi ini.  Seringkali, dengan membahayakan kesehatan Anda sendiri, Anda telah memberikan bantuan spiritual dan material kepada anak-anak Tuhan, terutama kepada mereka yang paling terlupakan dalam masyarakat, mereka yang tidak punya akses ke sistim kesehatan, mereka yang hidup dengan kondisi mengerikan, kaum miskin dengan berbagai wajah.  Terima kasih!

Kita memulai Pekan Doa Panggilan Oblat hari ini.  Hari-hari yang penuh rahmat antara Pesta St. Eugenius dan Pesta Beato Joseph Gerard.  Inilah kesempatan untuk merefleksikan komitmen kita untuk mengajak kaum muda dalam karya misi Tuhan yang telah menjadi komitmen Gereja dan para Oblat.  Kata-kata dari Pranovis tadi, “Kita dilahirkan untuk saat-saat seperti ini” sudah pasti dapat memberikan motivasi pada pelayanan panggilan kita.

Saat mengunjungi Kongregasi, saya terkesan dengan banyak Unit yang mempunyai komitmen jelas atas pelayanan panggilan.  Inilah tanda jelas saat kepemimpinan membuat 3 hal terjadi.  Pertama-tama, kepemimpinan Unit memilih untuk memprioritaskan pelayanan panggilan sebagai bagian penting dari pelayanan kepemimpinan mereka dan menjadi visi misioner dari Unit.  Kedua, kepemimpinan Unit mewujudkan komitmen ini dengan memanggil dan mempersiapkan seorang Oblat untuk secara penuh waktu menjalankan pelayanan panggilan di Unit, dan untuk membentuk komite panggilan yang terdiri dari beberapa anggota, termasuk kaum awam dan awam selibat yang menghidupi karisma Oblat.  Ketiga,  sebagai tambahan dari 2 hal sebelumnya, kepemimpinan Unit melibatkan seluruh anggota Unit dalam menciptakan rencana menyeluruh dan terpadu untuk pelayanan panggilan, mengorganisir Distrik-Distrik untuk mengadakan animasi panggilan di tempat masing-masing.

Kurangnya komitmen pada pelayanan panggilan jelas terlihat di kala seorang Oblat yang ditunjuk sebagai Direktur Panggilan lalu diberi tugas pelayanan yang lainnya, seperti di Paroki atau di sekolah.  Pelayanan panggilan membutuhkan komitmen penuh waktu, pekerja keras, dan mendapat dukungan dari kepemimpinan.  Pelayanan panggilan membutuhkan seorang Oblat yang berapi-api dalam karisma, yang yakin akan hidup Kongregasi kita dan masa depan Kongregasi kita, dan yang menjadi saksi sukacita hidup sebagai seorang Oblat.

Tanpa anggota-anggota baru, kita akan tidak dapat menjawab panggilan untuk bermisi.  Selama pekan yang khusus ini, kita berdoa untuk panggilan ke dalam Kongregasi kita dan kepada banyak bentuk kehidupan yang mengekspresikan karisma St. Eugenius, tetapi hal demikian tidaklah cukup!  Kita juga dipanggil untuk bertindak, untuk melakukan sesuatu!  Marilah kita tidak hanya puas dengan hasil-hasil yang kurang cukup.  Marilah kita tidak mengulang mantra kematian yang terpenuhi dengan sendirinya:  kami telah melakukan sumbangsih bagi misi Tuhan dan sekarang kami bisa mundur dan lenyap!

Saya memohon pada St. Eugenius untuk menyalakan api dalam diri kita agar kita kreatif dan tegas dalam menjala pengikut-pengikut Yesus yang menganut karisma kita.  Saya mengundang setiap dari kita untuk secara penuh perhatian aktif mendukung mereka yang mempunyai tanggungjawab khusus bagi pelayanan panggilan, untuk berterima kasih kepada mereka dan untuk berdoa bagi mereka, karena mereka telah dipanggil untuk pelayanan yang paling menantang.  “Kita dilahirkan untuk saat-saat seperti ini!”

Semoga Bunda kita, Penghibur mereka yang terdampak pandemi dan Pertolongan bagi yang sakit, berjalan mendampingi kita pada saat ini.

 

Saudara Oblatmu di dalam Yesus Kristus dan Maria Imakulata,

Pastor Louis Lougen, OMI

21 Mei 2020

 

(Diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website OMI Indonrsia dari artikel "We were Born for Times Like This" yang terbit di www.omiworld.org)

 

Pengesahan Konstitusi dan Aturan Hidup OMI

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Generalat Sabtu, 08 Februari 2020 20:12

SURAT DARI SUPERIOR JENDRAL

PADA PERAYAAN 194 TAHUN PENGESAHAN KONSTITUSI DAN ATURAN HIDUP OMI OLEH KEPAUSAN

17 Februari 2020

 

Saudara-saudara Oblat dan semua yang menghidupi Karisma Oblat,

 

"Roh Tuhan ada pada-Ku,

oleh sebab Ia telah mengurapi Aku,

untuk menyampaikan kabar baik kepada orang-orang miskin;

dan Ia telah mengutus Aku

untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan,

dan penglihatan bagi orang-orang buta,

untuk membebaskan orang-orang yang tertindas,

untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang."

(Lukas 4, 18-19)

 

Setiap kali saya mendengar sabda ini dibacakan atau membayangkannya dalam doa, saya percaya bahwa kita semua diurapi secara baru untuk menjalankan Misi Tuhan Yesus. Tritunggal Mahakudus berkarya di dalam dan bersama kita; Allah Bapa, dengan cinta-Nya yang tercurah, memenuhi kita semua dengan Roh dan mengutus kita untuk ambil bagian dalam Misi Sang Sabda yang menjadi manusia.

Hari ini kita merayakan sebuah berkat dari Gereja atas visi misioner Santo Eugenius de Mazenod. Secara mengejutkan, pada waktu itu pengesahan dari Gereja berlangsung amat cepat. Eugenius de Mazenod menyadari bahwa hal itu terjadi berkat Penyelenggaraan Ilahi yang membimbing dirinya, dan juga menggerakkan Paus Leo XII untuk memberikan pengesahan pontifikal atas Konstitusi dan Aturan Hidup kita pada 17 Februari 1826. Paus memiliki hasrat akan adanya pembaruan di dalam Gereja, dan mendengar tentang hal-hal baik yang dilakukan oleh para misionaris ini di Prancis, ia mempercepat proses pengesahan.

 

 

"Pergilah, dan Perbuatlah Demikian."

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Henricus Asodo, OMI Selasa, 16 Juli 2019 00:03

Bacaan Pertama:  Ulangan 30:10-14

Mazmur Antar Bacaan: Mazmur 69:14-17, 30-31, 33-34, 36ab, 37

Bacaan Kedua: Kolose 1:15-20

Bacaan Injil:  Lukas 10:25-37

 

Dalam Bacaan Pertama dari Kitab Ulangan, Musa berkata kepada segenap bangsa Israel:  “Hendaklah engkau mendengarkan suara Tuhan, Allahmu, dengan berpegang pada perintah dan ketetapan-Nya,

yang tertulis dalam kitab Taurat ini; dan hendaklah engkau berbalik kepada Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu.  Sebab perintah ini, yang kusampaikan kepadamu pada hari ini, tidaklah terlalu sukar bagimu, dan tidak pula terlalu jauh;  ....Firman itu sangat dekat  padamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu, hendaklah engkau melaksanakannya.”

“... Firman itu sangat dekat padamu, yakni di dalam mulutmu dan di dalam hatimu....”

Saudari dan Saudaraku terkasih, kita berbicara tentang mulut dan hati, bukan kepala ( penalaran, kepintaran, pengetahuan, logika) atau mata (untuk melihat) atau telinga (untuk mendengar).  Maka, sekarang saya mengundang Anda sekalian untuk melakukan latihan kecil:  mari bersama kita pejamkan mata sebentar.... mari kita pusatkan perhatian kita pada mulut kita... untuk semua kata yang keluar dari mulut kita... kata-kata yang indah.... kata-kata penghiburan dan yang menguatkan, senyuman, pujian, doa...

Mari kita ucapkan terima kasih karena kita telah melakukan hukum Tuhan... Mari kita ucapkan terima kasih karena Firman Tuhan sangat dekat pada kita.  Mari kita ucapkan terima kasih, terima kasih, terima kasih (sambil meletakkan tangan kita pada mulut kita).

 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

«MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir»

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.