Hidup Kita Harus Berbuah

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Henricus Asodo, OMI Senin, 25 Maret 2019 11:34

Minggu Prapaskah III/Tahun C

Bacaan Pertama: Keluaran 3:1-8a, 13-15

Mazmur Antar Bacaan: Mazmur 103:1-4, 6-8, 11

Bacaan Kedua: 1 Korintus 10:6, 10-12

Bacaan Injil: Lukas 13:1-9

 

“Sangkamu orang-orang Galilea ini lebih besar dosanya dari pada dosa semua orang Galilea yang lain, karena mereka mengalami nasib itu?... Atau sangkamu kedelapan belas orang, yang mati ditimpa menara dekat Siloam, lebih besar kesalahannya dari pada kesalahan semua orang lain yang diam di Yerusalem?”

Saudari-Saudara, ada dua godaan besar dalam hidup rohani kita.

Godaan pertama mewujud dalam kata: hukuman.  Kita tergoda untuk berpikir dan percaya bahwa ada hubungan langsung antara kesusahan dan hukuman Tuhan: “Saya sakit karena saya berdosa; saya celaka karena Tuhan marah pada saya; Saya terbelit masalah ini karena saya tidak berada di jalan Tuhan” – dan seterusnya... Singkatnya, “Tuhan menghukum saya.”

Add a comment

 

Menjadi Seperti Anak Kecil

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor F.X. Rudi Rahkito Jati, OMI Minggu, 03 Maret 2019 19:06

Bacaan Injil:  Markus 10:13-16

...

Salah satu Sabda Tuhan dalam Injil Markus 10:13-16 berbunyi: “Aku berkata kepadamu sesungguhnya barangsiapa tidak menyambut Kerajaan Allah seperti anak kecil, dia tidak akan masuk kedalamnya.”

Apakah Kerajaan Allah itu?

Kerajaan Allah merupakan salah satu tema besar pengajaran/pewartaan Tuhan Yesus.  Di mana pun, ke mana pun Dia pergi, Dia sering berbicara tentang Kerajaan Allah.  Kerajaan Allah itu sama artinya dengan Allah yang meraja.  “Tetapi jika aku mengusir setan dengan kuasa Allah, maka sesungguhnya Kerajaan Allah sudah datang kepadamu.” (Lukas 11:20).  Dalam diri Yesus, Allah datang ke tengah-tengah umat.  Dia mulai meraja di tengah-tengah umatNya.  Lalu, apakah dan siapakah anak kecil itu?

Add a comment

 

Berpikir, Beriman, Bertindak

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Henricus Asodo, OMI Minggu, 24 Februari 2019 15:01

Bacaan I:  1 Samuel 26:2, 7-9. 12-13, 22-23

Mazmur Tanggapan:  Mzm 103: 1-4, 8, 10, 12-13

Bacaan II: 1 Korintus 15:45-49

Bacaan Injil:  Lukas 6:27-38

 

Saya ingin memulai homili ini dengan tiga poin penting dari bacaan-bacaan hari ini:

(1) Dari Bacaan Pertama: “Tuhan akan membalas kebenaran dan kesetiaan setiap orang, sebab Tuhan menyerahkan engkau pada hari ini ke dalam tanganku, tetapi aku tidak mau menjamah orang yang diurapi Tuhan.”

(2) Dari Bacaan Kedua:  “Sama seperti kita telah memakai rupa dari yang alamiah, demikian pula kita akan memakai rupa dari yang sorgawi.”

(3) Dari Bacaan Injil:  “Kasihilah musuhmu, berbuatlah baik kepada orang yang membenci kamu; mintalah berkat bagi orang yang mengutuk kamu; berdoalah bagi orang yang mencaci kamu.”

Singkatnya, hari ini kita diundang untuk mendengarkan pesan dari Firman Tuhan:  (1) untuk berpikir secara jernih; (2) untuk beriman secara agung; dan (3) untuk bertindak secara positif.

Add a comment

 

Puji Syukur Atas Rahmat Allah bagi Pengesahan Kongregasi Kita

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Henricus Asodo, OMI Minggu, 17 Februari 2019 17:13

Pada perayaan yang kita syukuri hari ini, Pastor Ortolon dalam bukunya “Oblat Maria Imakulata dalam Abad Pertama Keberadaannya” menulis:  “Setelah bekerja tanpa jeda selama beberapa minggu, pertemuan terakhir dijadwalkan pada 15 Februari 1826, di pagi hari.  Selama waktu yang tersisa itu, Bapa Pendiri terus berdoa di gereja yang besar dan indah, Gereja Santa Maria di Campitelli, yang terletak di alun-alun dengan nama yang sama, di seberang istana Kardinal Prefek.  Ia mengikuti 9 Perayaan Ekaristi, dan duduk di dalamnya hingga siang hari.  Sungguh sebuah sukacita besar di sore hari ketika ia mendengar bahwa Komisi Kardinal dengan suara bulat telah menyetujui secara resmi Aturan Hidup dan mengesahkan secara kanonik berdirinya Lembaga Misionaris Oblat untuk menjadi Kongregasi yang diakui penuh dan dibentuk oleh Gereja.  Dua hari kemudian, pada 17 Februari 1826, Paus Leo XII memberikan konfirmasi dengan otoritas tertingginya pada keputusan para Kardinal dan memerintahkan untuk menulis Surat Apostolik sebagai bukti resmi.  Pada saat yang sama, berkat kemurahan hatinya, Bapa Suci mengubah nama Oblat St. Carolus dengan nama yang lebih mulia – Oblat Maria Imakulata.”

Jangan kita lupakan pula bahwa ada persetujuan kedua yang diberikan oleh Paus Gregorius XVI melalui Surat Apostolik bertanggal 20 Maret 1846.  Bapa Suci senang  mendengar bahwa hanya dalam waktu yang sangat singkat, Kongregasi telah berkembang dengan cepatnya, bukan saja di Eropa, tetapi juga di wilayah-wilayah yang jauh sampai ke Amerika.

Itulah sebabnya sekarang ini kita rayakan 17 Februari sebagai hari syukur kepada Tuhan atas diakuinya Kongregasi kita.

Add a comment

 

Menjadi Yang Terakhir dan Pelayan Dari Semuanya

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI Sabtu, 09 Februari 2019 01:11

Ketika saya ingin menjadi imam, hal yang saya bayangkan pada waktu itu adalah berdiri di depan umat, memimpin Ekaristi dengan pakaian khusus. Saya menjadi pusat perhatian di dalam Gereja. Saya membayangkan betapa hebatnya diri saya bisa tampil seperti itu. Setelah saya menjalani pendidikan untuk menjadi imam, saya baru sadar bahwa apa yang dulu saya bayangkan itu keliru. Menjadi seorang imam adalah menjadi pelayan umat. Meskipun imam berada di depan dan berbicara kepada banyak orang, dia melakukan semua itu dalam rangka melayani kebutuhan umat akan Sabda Tuhan. Dia tidak bisa melakukan tugasnya sebagai imam untuk kebanggaannya sendiri atau kepuasannya sendiri.

Add a comment

 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

«MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir»

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.