Inilah Tubuhku Yang Kuserahkan Padamu

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI Minggu, 03 Juni 2018 19:22

Salah satu warisan Yesus yang sangat mengagumkan bagi saya adalah Ekaristi. Ekaristi adalah sebuah perjamuan makan. Ternyata makan bersama bisa menjadi sebuah peristiwa rohani. Makan bersama bukan hanya sekedar duduk mengelilingi meja dan menyantap semua hidangan yang disajikan sampai kenyang. Makan bersama satu meja adalah saat orang bisa berbagi satu sama lain. Pertama-tama tentu saja berbagi makanan. Semua yang duduk di situ mendapat makanan dan dipuaskan. Kedua, berbagi kehadiran. Tidak ada yang dipandang sebagai patung mati. Semua yang duduk mengelilingi meja diakui kehadirannya dan mendapatkan yang dia perlukan. Ketiga, berbagi kehidupan. Orang berbicara, bercerita satu sama lain. Masing-masing membawa hidupnya dan membagikannya kepada semua yang duduk makan, sehingga semakin dikenal dan mengenal.

Add a comment

 

Keluarga "Broken Home", Keluarga Harapan Gereja

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Yohanes Damianus, OMI Rabu, 09 May 2018 00:59

Keluarga “Broken Home”, Keluarga Harapan Gereja - Sebuah Tawaran Perspektif

 

Pengantar

Artikel ini bukanlah tulisan yang ingin menekankan suatu pnadangan teologis tertentu, atau bentuk refleksi psikologi dan ilmu sosial. Artikel ini hanyalah suatu tulisan refleksi pribadi. Refleksi kecil ini  berangkat dari aneka pengalaman penulis, utamanya dalam soal membantu keluarga-keluarga yang mengalami berbagai masalah dan bahkan kerap kali berujung pada perpisahan sementara atau bahkan perceraian. Karenanya, artikel ini tidak memanfaatkan penelitian-penelitian ilmiah dari sudut psikologi dan ilmu sosial lainnya. Demikian juga tidak akan digali dasar-dasar teologis yang rumit serta aturan dan ajaran Gereja yang luas tentang moralitas hidup berkeluarga. Penulis hanya ingin berbagi pandangan sederhana  seputar permasalahan hidup keluarga.

“Broken home”, suatu istilah yang tidak tepat

Masalah dalam hidup berkeluarga dialami oleh orang dari berbagai suku, ras, bangsa, agama, kepercayaan dan penganut ideologi apapun. Masalah itu bisa ditimbulkan oleh persoalan ekonomi, pendidikan, pergaulan sosial, perbedaan agama, perbedaan ideologi, perbedaan prinsip-prinsip hidup, perbedaan kultur, perbedaan selera, dan aneka perbedaan lainnya. Perbedaan-perbedaan itu menjadikan pasangan-pasangan tertentu yang membentuk keluarga tidak kunjung mendapatkan titik temu kesepahamannya.  Kedua belah pihak, suami dan isteri, mengalami masalah yang rupanya semakin berat dari hari ke hari. Perbedaan yang tak kunjung mendapat titik terang rekonsiliasinya inilah yang kerap berujung pada perpisahan sementara atau bahkan perceraian.

Add a comment

 

Panggilan Kita Adalah Menyempurnakan Cinta

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Antonius Rajabana, OMI Kamis, 03 May 2018 19:09

Ada berbagai macam bentuk panggilan dalam hidup ini.  Ada panggilan menjadi orangtua, menjadi pertapa, menjadi biarawan atau biarawati, menjadi imam atau guru spiritual dan banyak lagi yang lainnya.

Namun pada dasarnya, panggilan hidup yang beraneka itu mempunyai tujuan yang sama, yaitu memurnikan cinta.  Suami istri menikah untuk memurnikan cinta mereka.  Demikian juga para imam menempuh jalan sebagai imam, selibat demi pelayanan, bertujuan untuk memurnikan cinta mereka.

Pemurnian cinta terjadi justru melalui tantangan dan badai relasi yang membuat cinta itu menjadi makin murni.  Sebagaimana emas dimurnikan dalam api, cinta dimurnikan oleh hambatan, tantangan dan onak duri dalam relasi.

Add a comment

 

Mengalah Bukan Kalah

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Henricus Asodo, OMI Sabtu, 21 April 2018 13:46

Liberté, Égalité, Fraternité”; tiga kata bak mantra yang menjadi amunisi perjuangan panjang rakyat Perancis untuk bisa hidup sejajar satu dengan yang lain sebagai sesama warga negara. Kaum revolusioner mengobarkan perang besar melawan diskriminasi dan ketimpangan dalam hidup bernegara. Mereka yakin bahwa manusia harus sederajat, tidak boleh ada pengistimewaan atau pembedaan berdasarkan kelas, jabatan, kekayaan, atau garis keturunan. Manusia lahir dan hidup sedejarat dengan yang lain; semua memiliki hak dan kewajiban yang sama, tidak ada yang diistimewakan, dan tidak ada yang memperkerjakan yang lain demi kelas yang lebih tinggi. Singkatnya, semua adalah saudara yang sederajat dan merdeka.

Revolusi demi revolusi terjadi untuk makin mempertajam kesetaraan dan kebebasan.  Satu yang menjadi puncak revolusi kebebasan dan kesetaraan adalah ungkapan “Il est interdit d’interdire” - sebuah slogan yang awalnya diluncurkan oleh Jean Yanne (1933-2003).  Slogan yang berarti “Dilarang untuk Melarang” ini begitu cepat menyebar di kalangan masyarakat Perancis dan Eropa di penghujung era enam puluhan. Bisa dibayangkan apa yang ada diimpikan dengan slogan itu.  Liberté (kebebasan) dan Egalité (kesetaraan) yang absolut, tanpa batas! Itulah yang diinginkan.  Itulah yang didambakan.  Aku menjadi nomer satu, Ego menjadi prioritas. Ungkapan “Perbuatlah apa yang dikatakan hatimu” seperti yang diucapkan almarhum Puteri Diana dipelesetkan menjadi “perbuatlah apa saja yang kamu inginkan.”   Ukurannya adalah “yang diperbuat adalah yang seturut hatiku, kemauanku dan yang kupikir baik untukku.”  Ego menjadi panutan dan tidak jarang diyakini sebagai sumber kebenaran.

Add a comment
 

Jika Biji Gandum Tidak Jatuh ke Tanah dan Mati

Artikel - Saat Merenung

Ditulis oleh Pastor Antonius Andri Atmaka, OMI Minggu, 18 Maret 2018 19:24

Ada seorang ibu yang mengindap penyakit insomnia (susah tidur). Dia telah pergi ke banyak dokter dan rumah sakit untuk mengobati penyakitnya. Dia juga banyak berdoa Novena dan Rosario di berbagai tempat peziarahan Maria, namun semuanya itu sepertinya sia-sia. Dia menjadi begitu lelah dengan penyakitnya, frustasi dan marah dengan Tuhan karena doa dan permohonannya untuk sembuh tidak pernah Dia dengarkan. Pada akhirnya, sambil bersimpuh di sebuah tempat peziarahan Maria, ibu itu berteriak kepada Tuhan, “Tuhan, aku sudah capai dengan penyakitku ini. Sekarang terserah Engkau. Aku siap kalau Engkau mau mencabut nyawaku atau menyembuhkan aku.” Ibu itu kemudian pulang dan tidak peduli lagi dengan yang akan terjadi pada dirinya. Setelah sampai di rumah, dia masuk ke kamarnya dan berbaring kecapaian. Dia tertidur dengan lelap dan baru hari berikutnya bangun dengan badan segar. Dia sembuh dari sakit yang sudah dia derita begitu lama justru ketika dia menyerah.

Add a comment
 

JPAGE_CURRENT_OF_TOTAL

«MulaiSebelumnya12345678910SelanjutnyaAkhir»

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.