Hidup Pentakosta

Artikel - Saat Merenung

Bacaan Pertama:  Kisah Para Rasul 2:1-11

Bacaan Kedua: 1 Korintus 12:3b-7, 12-13

Bacaan Injil:  Yohanes 20:19-23

 

Apa yang harus saya katakan tentang Pentakosta?  Banyak sekali yang harus dikatakan.  Saya hanya ingin mengangkat tentang hubungan antara Kebangkitan Tuhan – Kenaikan Tuhan – dan Pentakosta.

Kebangkitan Tuhan:  Kristus, Tuhan kita bangkit dari kematian, Dia hidup!

Kenaikan Tuhan:  Kristus, Tuhan kita naik ke surga kepada BapaNya.

Pentakosta:  Kristus, Tuhan kita hadir dalam rupa RohNya.

Dengan tiga peristiwa yang saling berkaitan ini: Kebangkitan – Kenaikan – Pentakosta, saya ingin menujukkan bagaimana kita – Anda dan saya – menghidupi hidup kita: saat ini dan masa-masa ini.

Saya ingin menggunakan kata-kata: Masa Lalu – Masa Sekarang – dan Masa Mendatang.

Hidup masa lalu kita:  kita mati bersama Kristus dan kita hidup kembali bersama dengan kebangkitan Kristus.

Hidup masa sekarang kita:  Kita hidup dan Roh Kudus diam di dalam kita.

Hidup masa mendatang kita:  Kita berjalan menuju Bapa dan akan bergabung bersama Tuhan kita dalam kekekalan.

Maka undangan bagi kita semua adalah untuk keluar dari hidup masa lalu kita dan menghidupi hidup masa sekarang ini  dengan hidup yang sungguh-sungguh hidup, bukan setengah hidup.

Pesan pertama adalah  marilah kita menghidupi Kebangkitan dan Pentakosta secara bersamaan, sekarang!

Hidup Kebangkitan adalah seperti yang dikatakan dalam Injil:  “Murid-murid itu bersukacita ketika mereka melihat Tuhan.”

Dan Hidup Pentakosta adalah seperti yang dikatakan dalam Bacaan Pertama: “Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.”

Hidup Masa Sekarang kita adalah hidup yang dipenuhi oleh sukacita dan Roh Kudus.

Marilah kita hidup dalam sukacita!  Marilah kita mengenali kehadiran Roh Kudus!

Pesan kedua adalah kita dipanggil untuk berkata-kata dalam bahasa lain, seperti yang dikatakan dalam Bacaan Pertama: “... kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri.”

“Bahasa kita sendiri” bukan hanya diartikan sebagai berbicara dalam bahasa yang berbeda-beda tetapi juga dapat diartikan sebagai bahasa yang dapat dimengerti, disambut, dan diterima dengan baik.

Roh Kudus menolong kita untuk berkembang dalam berkomunikasi, meningkat dalam berelasi, dan membangun persatuan.

Roh Kudus mengajarkan pada kita bagaimana mendengarkan orang lain, bagaimana memahami orang lain, dan bagaimana berkata-kata kepada orang lain sebagai sahabat dari bahasa yang sama, budaya yang sama, pikiran yang sama, bukan sebagai orang asing yang tidak mengerti apa-apa.

Roh Kudus membantu kita untuk meningkatkan kemampuan kita untuk mendengar dan menuntun kita kepada keharmonisan dialog.

Roh Kudus adalah kekuatan kita untuk hidup bersama dengan mereka yang berbeda dengan kita atau dengan mereka yang kita pikir sulit untuk hidup bersama atau ada bersama dengannya.

Kita dipanggil untuk menghidupi Hidup Masa Sekarang di dalam Roh.

Saya harap setiap orang Kristiani tidak lagi berkata: “Saya kesepian/sendirian”.

Saya harap tidak ada lagi yang berkata: “Saya orang miskin dan tidak bahagia, seorang pendosa berat.”

Saya harap saya tidak lagi mendengar seseorang berkata: “Saya tidak berguna, tidak ada masa depan untuk saya!”

Janganlah kita lupa bahwa kita adalah Kenisah Roh Kudus.

Kita berharga dan kudus tak masalah dengan umur kita, penyakit kita, dosa-dosa kita, masa lalu kita, kelemahan-kelemahan kita, dan keringkihan kita.

Marilah kita tinggal dalam sukacita!  Marilah kita sadar akan martabat kita!

Dan marilah kita lanjutkan membangun ikatan persaudaraan dan persahabatan.

Janganlah kita tinggal sendirian, tetapi marilah kita punya keberanian untuk keluar dari diri kita, untuk melampaui diri kita sendiri, dan bertemu dengan orang-orang lain.

Akhirnya, marilah kita hidup seperti Bangsa Yahudi yang merayakan Pentakosta sebagai “Pesta Tuaian”, sebuah pesta syukur atas hasil panen yang dapat dibawa pulang dan persembahan di altar sebagai ucapan syukur dan terima kasih.

Marilah kita sebagai orang-orang Kristiani bersama-sama berkata kepada Tuhan: “TERIMA KASIH”..... “TERIMA KASIH BANYAK” atas karunia Roh Kudus!

 


(Penulis:  Pastor Henricus Asodo, OMI, Superior Komunitas Aix-en-Provence, Homili Misa Hari Raya Pentakosta, 31 Mei 2020, di Gereja Misi OMI, Aix-en-Provence, Perancis)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.