FRATELLI TUTTI - Beberapa Tantangan Khusus Bagi OMI

Artikel - Saat Merenung

FRATELLI TUTTI – BEBERAPA TANTANGAN KHUSUS BAGI OBLAT MARIA IMAKULATA

Pastor Ron Rolheiser, OMI

 

Pada intinya, Ensiklik Paus Fransiskus yang terbaru- Fratelli Tutti tentang Persaudaran dan Persahabatan Sosial – mencoba menjabarkan alasan-alasan mengapa ada begitu banyak ketidak-adilan, ketidak-setaraan, dan hancurnya komunikasi dalam dunia kita ini, serta bagaimana di dalam iman dan kasih hal-hal demikian dapat disikapi.

Secara singkat, Ensiklik ini memuat 8 bab yang diuraikan Bapa Suci sebagai awan gelap di atas dunia yang sesak tertutup; lalu lalang orang di zaman ini dan pergumulan dunia serta bagaimana mensikapinya; perlunya visi baru untuk solidaritas bagi dunia kita; perlunya membuka hati kita untuk menemukan cara baru guna mewujudkan visi itu; perlunya politik yang lebih baik; perlunya dialog di semua bidang dan menemukan cara untuk berdialog; dan bagaimana semua agama – bukan saja Kristiani – perlu untuk menciptakan tata dunia baru.

Tujuan dari artikel ini bukan untuk menyajikan ringkasan dari Ensiklik Fratelli Tutti, juga bukan untuk berbicara tentang poin-poin positif dari Ensilik tersebut.  Ensiklik ini memang menampakkan hal-hal yang dalam, baik wawasan maupun tantangannya.  Ensiklik ini juga berani dan profetik karena berbicara tentang kebenaran berhadapan dengan kekuasaan.  Tujuan artikel ini terlebih untuk mencoba menyebutkan tantangan-tantangan khusus dari Ensiklik ini bagi kita para Oblat.

Apa saja tantangan-tantangan itu?

Melihat pada Karisma Oblat, kita dapat menyebutkan 6 komponen menonjol pada Karisma kita:  (1) Panggilan kita untuk melayani kaum miskin; (2) Panggilan kita untuk bermisi; (3) Panggilan kita untuk hidup dalam dan melayani melalui komunitas; (4) Panggilan kita untuk berani; (5) Panggilan kita untuk menempatkan salib sebagai pusat dari spiritualitas kita; dan (6) Panggilan kita untuk memandang Maria sebagai Pelindung.

 

Tantangan apa yang dibawa Ensiklik Fratelli Tutti bagi setiap bagian komponen Karisma kita?

Mengenai panggilan kita untuk melayani kaum miskin:

Melihat situasi dunia sekarang ini, Ensiklik menyebut bahwa dunia kita ini adalah dunia yang hancur dalam aneka rupa.  Ensiklik menyebutkan beberapa alasan kehancuran dunia: globalisasi kepentingan diri, globalisasi hidup di permukaan saja dan penyimpangan sosial media.  Hal demikian menimbulkan situasi “siapa kuat, dia yang dapat hidup” (survival of the fittest).  Sekarang ini, di saat situasi telah hancur bagi semua orang, adalah kaum miskin akhirnya menjadi yang paling menderita.  Yang kaya menjadi semakin kaya, yang punya kuasa menjadi semakin berkuasa, yang miskin menjadi semakin miskin dan kehilangan sedikit kekuasaan yang mereka punya.  Ketidak-setaraan kekayaan dan kekuasaan antara si kaya dan si miskin menjadi  semakin melonjak.  Dunia menjadi semakin buta dan keras bagi kaum miskin.  Ketidak-setaraan sekarang diterima sebagai sesuatu yang normal dan moral, dan tentunya juga sering dibela demi nama Tuhan dan agama.  Orang miskin menjadi mudah dibuang dan kekurangan pendukung yang dibutuhkan yang dapat membagikan pengalaman mereka, menolong mereka dalam situasinya, dan mendukung mereka di tengah-tengah penguasa.

Karisma Oblat dimaksudkan untuk menjawab hal ini dengan tepat.  Tidak ada panggilan yang lebih jelas bagi kita untuk bergerak dengan hati-hati dan dengan semua sumber daya yang kita miliki untuk bersama mereka yang diabaikan, ditinggalkan di luar, dimasa-bodohkan, dan dibuang oleh kekuatan ekonomi, sosial, dan politik saat ini.

Kita harus menyadari bahwa di seluruh dunia, martabat  dan hak-hak perempuan masih jauh dari ditegakkan, dan pendampingan kita pada kaum miskin haruslah juga mencakup dan menyoroti ketidak-setaraan dan ketidak-adilan ini.

Seperti Orang Samaria yang Baik Hati, mata kita harus selalu dilatih untuk melihat siapa yang berbaring di selokan.  Siapa yang membutuhkan pertolongan dan diabaikan?

  • “Tampak nyata beberapa bagian dari keluarga manusia kita dikorbankan demi orang lain. Kekayaan meningkat, namun ketidaksetaraan makin kentara.”
  • “Sementara satu bagian dari umat manusia hidup dalam kemewahan, bagian lain mengalami martabatnya sendiri ditolak, dicemooh atau diinjak-injak, dan hak-hak dasarnya dibuang atau dilanggar.”
  • “Adalah hal yang tak bisa diterima bahwa sebagian manusia memiliki hak-hak yang lebih sedikit hanya karena terlahir sebagai perempuan.”

 

Mengenai panggilan kita untuk menjadi seorang misionaris:

Globalisasi menciptakan batas-batas baru.  Sebagai misionaris, kita diutus kepada semua orang, tanpa memandang batas geografis, etnis, sosial, atau agama. Seperti Orang Samaria yang Baik Hati, mata misionaris kita tidak boleh membeda-bedakan.

Kita harus tetap kuat berakar dalam sejarah dan tradisi kita, tetapi kita harus terbuka bagi hal-hal baru, hal-hal yang asing untuk kita, dan hal-hal yang terbentang yang belum pernah kita kunjungi sebelumnya.

Dalam saat-saat kepahitan, kebencian, dan permusuhan, sebagai misionaris kita harus lemah lembut dan murah hati, selalu berbicara kasih dan bukan karena kebencian, bahkan ketika sedang mewartakan.

  • “Kita dapat mulai dari bawah dan, kasus per kasus, bertindak pada tingkat yang paling konkret dan lokal, dan kemudian memperluas ke jangkauan terjauh dari negara kita dan dunia kita, dengan kepedulian dan perhatian yang sama yang ditunjukkan oleh si Orang Samaria untuk masing-masing luka dari yang terluka. Mari kita cari saudara-saudara kita dan merangkul dunia apa adanya, tanpa takut sakit atau merasa tidak mampu, karena di sana kita akan menemukan semua kebaikan yang telah Tuhan tanam dalam hati manusia.”
  • [Panggilan misioner kita ] berlandaskan pada kasih yang “lemah lembut” sebagaimana St. Paulus menjabarkannya sebagai kebaikan yang adalah buah dari Roh Kudus (Galatia 5:22).  Ia memakai kata Yunani “Chrestotes” yang berarti sikap lemah lembut, menyenangkan dan menyemangati, tidak kasar dan kurang sopan.”
  • “Kebaikan haruslah dipupuk; kebaikan bukanlah kebajikan mulia yang dangkal.”

 

Mengenai panggilan kita untuk hidup dan melayani di dalam komunitas:

Sebagai seorang Oblat, gagasan untuk hidup di dalam dan melayani di luar komunitas adalah bagian konstitutif dari karisma kita. Dari sejak pendirian kita, Bapa Pendiri menyadari bahwa untuk menjadi efektif, kasih harus kolektif, lebih besar dari seseorang dan lebih besar dari bakat dan karisma seseorang. Ensiklik memanggil kita (sudah tentu, memanggil seluruh dunia) untuk hal ini.   Ensiklik juga mengingatkan kita bahwa panggilan untuk berada dalam komunitas satu sama lain adalah panggilan terakhir yang diberikan kepada kita. Ensiklik tersebut mengakui betapa sulit dan kontra budaya saat ini untuk mengorbankan agenda, kenyamanan, dan kebebasan kita sendiri untuk komunitas, tetapi mengundang kita untuk melakukan pengorbanan itu.

 

  • “Sekali lagi kami menyadari bahwa tidak ada yang diselamatkan sendirian; kita hanya bisa diselamatkan bersama. Kecuali jika kita memulihkan hasrat bersama untuk menciptakan komunitas yang saling memiliki dan bersolidaritas yang layak untuk waktu, energi dan sumber daya kita, ilusi global yang menyesatkan kita akan runtuh dan meninggalkan banyak orang dalam cengkeraman kesedihan dan kehampaan. Gaya hidup baru sedang muncul, kita hanya menciptakan apa yang kita inginkan dan mengesampingkan semua yang tidak dapat kita lakukan.”
  • “Secara khusus saya ingin menyebutkan bahwa solidaritas yang merupakan kebajikan moral dan sikap sosial lahir dari pertobatan pribadi.”

 

Mengenai panggilan untuk menjadi berani:

Ensiklik mengatakan pada kita bahwa keberanian sejati  tidaklah didasarkan pada berani ambil risiko dan perhitungan yang jitu, tetapi didasarkan pada harapan, yaitu, pada kepercayaan bahwa Tuhan masih menjadi Tuhan atas bumi ini dan bahwa kita layak menerima firman Tuhan.

Selain itu, Ensiklik mengajak kita untuk menjadi berani karena banyak hal tak berlaku lagi dan tanda-tanda zaman memaksa kita untuk memiliki imajinasi baru, keberanian baru, dan ketidak-takutan baru berhadapan dengan  ketegangan dan rasa ketidakberdayaan atas kekuatan besar yang mendikte apa yang terjadi di dunia.

  • “Harapan berbicara kepada kita tentang sesuatu yang mengakar dalam setiap hati manusia, terlepas dari keadaan dan kenyataan sejarah hidup kita. Harapan berbicara kepada kita tentang kehausan, tentang aspirasi, tentang kerinduan tentang kepenuhan hidup, tentang keinginan untuk mencapai hal-hal besar, hal-hal yang memenuhi hati kita dan mengangkat semangat kita ke realitas luhur seperti kebenaran, kebaikan dan keindahan, keadilan dan cinta ... Harapan itu blak-blakan; Harapan mampu melampaui kesenangan pribadi, keamanan dan kenyamanan sementara yang mengurung pandangan kita; harapan mampu membukakan kita pada impian besar yang membuat hidup lebih indah dan berharga ”.

 

Mengenai panggilan untuk menempatkan salib sebagai pusat spiritualitas kita:

Ensiklik tidak menulis secara eksplisit tentang teologi atau spiritualitas salib dalam menjabarkan aneka tantangan.  Tetapi secara implisit, salib menopang banyak gagasan, tak terkecuali kenyataan bahwa salib selalu bermuara di tempat kaum miskin berada.

Namun, disebutkan satu tantangan yang sangat eksplisit (dan merangkum segalanya). Ensiklik – yang mengakar pada cara Yesus wafat - secara eksplisit dan setengah dogmatis menegaskan bahwa orang Kristiani harus menentang dan menolak hukuman mati dan harus selalu menentang perang.

Bagi kita sebagai Oblat, pro-kehidupan mulai sekarang ini harus juga memasukkan penolakan pada perang dan hukuman badan.

  • “Kita tidak bisa lagi berpikir perang sebagai suatu jalan keluar, karena resiko perang justru selalu lebih besar daripada manfaatnya. Oleh karena itu, tidak mungkin lagi kita cara pikir lama dari abad-abad sebelumnya yang mengupas tentang 'perang yang adil' ”.
  • “Jangan lagi berperang!”
  • “St.Yohanes Paulus II menyatakan dengan jelas dan tegas bahwa hukuman mati tidak memadai dari sudut pandang moral dan tidak lagi diperlukan dari sudut pandang hukum pidana. Tidak ada langkah mundur dari posisi ini. Kini kita menyatakan dengan jelas bahwa 'hukuman mati tidak dapat diterima' dan Gereja berkomitmen kuat untuk menyerukan penghapusannya di seluruh dunia. Semua orang Kristiani dan orang-orang yang berkehendak baik kini dipanggil untuk bekerja tidak hanya untuk menghapus hukuman mati, legal atau ilegal, dalam segala bentuknya, tetapi juga untuk bekerja demi perbaikan kondisi penjara, untuk menghormati martabat orang yang tak punya kebebasan."

 

Mengenai panggilan kita untuk memiliki Maria sebagai Pelindung kita:

Ensiklik dua kali mengacu secara eksplisit kepada Maria, menyatakan bahwa dengan meniru dia, kita harus menjadi orang yang "membangun jembatan, menghancurkan tembok, dan menabur benih perdamaian." Komunitas cinta yang kita coba bangun membutuhkan seorang ibu - dia dapat melahirkan dunia baru ini.

 

  • “Dan dengan meneladan Maria, Bunda Yesus, kita ingin menjadi Gereja yang melayani, yang meninggalkan rumah dan pergi dari tempat kita beribadah, pergi dari sakristi, dengan tujuan untuk menemani hidup, untuk menopang harapan, untuk menjadi tanda persatuan… untuk membangun jembatan-jembatan, untuk meruntuhkan tembok-tembok, untuk menaburkan benih-benih perdamaian.”
  • “Bagi banyak orang Kristiani, peziarahan persaudaraan ini juga memiliki seorang Ibu yang bernama Maria.  Setelah menerima keibuan universal di kaki salib (lih. Yoh19: 26), ia tidak hanya peduli pada Yesus tetapi juga untuk ‘anak-anaknya yang lain’ (lih. Wahyu 12:17). Dalam kuasa Tuhan yang bangkit, ia ingin melahirkan dunia baru, tempat kita semua adalah saudara dan saudari, tempat adanya ruang bagi semua orang yang dibuang oleh masyarakat kita, tempat adanya keadilan dan perdamaian gemilang."

 

Dalam terang Ensiklik ini, kita sebagai Oblat dapat berbangga dengan karisma kita.  Sesungguhnya, Ensiklik ini dapat dibaca seperti ungkapan di masa kini dari Prakata dari Konstitusi dan Aturan Hidup kita.  Dan seperti Prakata dari Konstitusi dan Aturan Hidup kita, Ensiklik memanggil kita, seperti Yesus, pada  inti hidup dan pelayanan kita, yakni pewartaan bahwa Yesus adalah Kabar Baik bagi kaum miskin.

(Diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website OMI Indonesia dari artikel berjudul "FratelliTutti - Some Specific Challenges for the Oblates of Mary Immaculate" yang terbit di www.omiworld.org)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.