Meditasi Kaul Pertama 06: Komunitas

Artikel - Saat Merenung

Hidup Komunitas dan Karya Kerasulan: “Jika seseorang tergoda untuk menganggap Aturan Hidup kita sebagai hal yang terlalu berat untuk ukuran manusia, kita memintanya untuk mempertimbangkan dalam Tuhan: (1) Pelayanan kita tidak akan pernah berbuah kecuali jika kita berusaha keras demi kemajuan hidup rohani kita sendiri; (2) Kita tidak akan pernah mencapai tujuan tertinggi dari panggilan kita tanpa bantuan Aturan Hidup yang ditaati, yang dipandang sebagai keharusan oleh para Bapa hidup rohani, dan khususnya oleh para pendiri Ordo-Ordo suci; (3) Misi dan aneka retret mau tidak mau menerjunkan kita ke tengah-tengah dunia.  Hamper tiga perempat dari satu tahun, kita menyibukkan diri kita sendiri dalam pelayanan-pelayanan itu terutama dan secara khusus untuk membawa pertobatan para pendosa.  Kita menghadapi resiko meluoakan kebutuhan-kebutuhan kita sendiri, jika kita tidak berusaha untuk menaati Aturan Hidup kita dnegan penuh kedisiplinan, sekurang-kurangnya saat waktu-waktu jeda yang hanya sebentar dari pelayanan yang berbahaya itu; Jadi, jika kita ingin emmiliki kebahagiaan penuh dalam hati dan tidak ingin dicemooh setelah berkhotbah kepada sesame, tidak perlu berat hati untuk berpasrah diri untuk menjadi taat sempurna.  Semestinya kita menyesal dengan sungguh bahwa tugas-tugas cintakasih yang kita terima menjauhkan kita dalam waktu yang lama dari kesatuan tubuh komunitas tempat cintakasih meraja, dan merenggut sebagian besar hidup kita dari buah keselamatan yang mengalir dari karya kasih kita.” (Teks Konstitusi tahun 1825)

Pastor Fabre menulis dalam Obituari Pastor Tempier: “Sangat sering, kita mendengar jiwa-jiwa terkemuka  dengan lantang menyatakan rahmat yang datang dari  setiap kunjungan Pastor Tempier ke sebuah komunitas ... meskipun Pastor Tempier bukanlah Superior mereka, komunitas-komunitas ini menyimpan baginya kekaguman sejati atas rasa syukur dan pengabdiannya yang sejati.” (Ecrit Oblats II, 1 Roma 1987, Hal. 68)

Bapa Pendiri sungguh mengandalkan Pastor Tempier yang menemukan – sejak awal – panggilan hidup bakti di dalam komunitas, “Aku meyakinkan engkau bahwa aku menganggap sangat penting keberadaanmu di antara kita untuk pekerjaan Tuhan; Aku mengandalkanmu lebih dari pada diriku sendiri untuk keteraturan sebuah rumah yang, menurut gagasan dan harapanku, harus mencerminkan kesempurnaan para murid pertama, para Rasul. Aku mendasarkan harapanku pada hal itui - lebih daripada kata-kata yang fasih: pernahkah hal-hal ini pernah mempertobatkan seseorang? Oh, mungkin engkau benar-benar melakukan dengan baik apa yang penting untuk dilakukan! Mengapa engkau tidak berada cukup dekat denganku sehingga aku dapat memelukmu dekat dengan hatiku, untuk memberimu pelukan persaudaraan yang akan mengungkapkan lebih baik daripada suratku, segala perasaan yang Tuhan telah inspirasikan di dalam diriku untukmu!  Seberapa manisnya ikatan kasih yang sempurna?

 

“Aku merasakan di dalam hatiku, Sahabatku terkasih dan saudaraku yang baik, bahwa engkau adalah orang yang Tuhan peruntukkan untuk menghiburku.” (Surat Eugenius de Mazenod kepada Tempier, 15 November dan 13 Desember 1815)

Kita juga dapat menggaris-bawahi catatan yang ditambahkan oleh Bapa Pendiri, di bawah suratnya di bulan Februari 1816 kepada Pastor Tempier: “Di antara kita, para misionaris, kita adalah apa yang seharusnya kita menjadi, artinya, kita hanya memiliki satu hati, satu jiwa, satu pikiran; Sungguh mengagumkan! Penghiburan kita, seperti juga kelelahan kita, tidaklah dapat diukur.” (Surat Eugenius de Mazenod  kepada Tempier, 24 Februari 1816 dalam Misi ke Gran)

Persahabatan antara Bapa Pendiri dan Pastor Tempier teruji dalam segala cobaan.  Pastor Fabre dalam obituarinya menulis: “Panggilan Bapa Pendiri kita layak didengar oleh Pastor Tempier dan Pastor Tempier layak dipanggil oleh Bapa Pendiri kita.  Kedua jiwa ini dibuat untuk memahami satu sama lain, untuk bersatu, untuk saling melengkapi dan untuk berkontribusi - dalam ukuran panggilan mereka masing-masing - untuk menyelesaikan pekerjaan Tuhan. Bangunan ini berdiri tegak, dan dimensinya yang dapat dilihat oleh mata kita menyoroti keunggulan arsitek-arsiteknya.” (Notice necrologique II, 85, Hal. 101-102)

Hidup Pastor Tempier tidaklah “bersuara gemerincing” seperti yang dikatakan Santo Paulus dalam suratnya yang pertama kepada umat di Korintus (1 Kor 13:1).    Kualitas interior hidup Pastor Tempier penuh dengan pengabdian, dan juga penyangkalan diri yang hanya mungkin terjadi lewat kedekatan mendalam dengan Kristus.  Saat Bapa Pendiri di tahun 1823 mengatakan padanya bahwa Pamannya, Mgr. Fortune, ingin mengangkatnya sebagai Vikaris Jenderal, Pastor Tempier mengemukakan – di antara alasan-alasan untuk menolak – bahwa pekerjaan Vikaris Jenderal itu berat.  Pastor Tempier mengakhirinya dengan kata-kata ini: “Kita harus selalu punya waktu untuk berdoa.” (Ecrit Oblats II, 1 Roma 1987, Hal. 205)

Pastor Yvon Baudouin menulis, “Kebajikan yang sering muncul dalam diri Pastor Tempier adalah kesalehan, roh doa.”  Kita dapat menambahkan: Ia dijiwai oleh “kasih”, begitu mengasihi Bapa Pendiri kita, yang menjadi titik pusat dari karisma kita.

Anda diundang untuk kembali membaca Bagian III dari Konstitusi dan Aturan Hidup kita tentang “Dalam Komunitas Apostolik”.

Pastor Fernand Jette mengomentari Konstitusi # 37: “Artikel 37 meneguhkan karakter misionaris dari komunitas kita.  Kita berkumpul untuk hidup bersama, ya – tetapi supaya bekerja bersama, seperti sebuah keluarga di lading Tuhan.  Pada prinsipnya, kita dengan jelas mengingat kembali karakter misionaris ini… Komunitas kita mempunyai karakter apostolic.  Dalam dan lewat komunitas kita menyelesaikan misi kita…. Dan karenanya, kita sendiri akan menjadi misionaris, apa pun pekerjaan yang kita laksanakan di dalam ketaatan, bagi karya misi yang kita terima dari Lembaga kita.”

Pastor Jette melanjutkan, “Cintakasih ada di pusat hidup kita.  Cintaksih persaudaraan yang ‘harus menunjang semangat tiap-tiap orang.’  Di dalam Gereja, seorang Oblat adalah seorang dengan cintakasih, seorang yang cintanya memenuhi seluruh hidupnya.”

Dalam Paragraf ke-3, Pastor Jette berkata, “Tunjukkan bahwa komunitas misionaris ini adalah sebuah ‘persatuan semangat dan hati’ – bersandar pada Yesus Kristus dan menjadi saksi-saksi Kristus di antara orang banyak.”

Pada 04 Okktober, Paus Fransiskus menerbitkan Ensiklik Fratelli Tutti, “menyapa semua saudara dan saudarinya untuk menawarkan cara hidup dengan cita rasa Injil.” (1).   Ensiklik Bapa Suci tidak bermaksud untuk “meringkas doktrin tentang kasih persaudaraan”, tetapi Bapa Suci ingin untuk menjadi “sumbangsi sederhana untuk refleksi, sehingga … kita dapat meresponnya dengan impian baru tentang persaudaraan dan persahabatan sosial, yang tidak terbatas hanya pada kata-kata.” (6).  Krisis kesehatan dunia telah menunjukkan “bahwa tidak ada seorang pun dapat diselamatkan sendirian, hanyalah mungkin untuk diselamatkan bersama-sama.” (32); dan bahwa waktu telah sungguh-sungguh menuju pada “impian kemanusiaan yang satu dan sama, yang membuat kita semua adalah “saudara dan saudari.” (8).

Bagaimana kita menerima Ensiklik Bapa Suci ini?

“Apa yang kita bawa ke dalam persaudaraan yang ditawarkan oleh Bapa kita?” (46).

Bagaimana komunitas-komunitas kita mempersiapkan dan merencanakan: “kita”, sehingga menjadi lebih kuat dari jumlah kecil individu-individu.” (78)?

Keterlibatan komunitas apa yang diminta dari kita?

 

Komite Umum untuk Para Bruder OMI

(Bruder Benoit H. Dosquet, OMI)

 

(diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website OMI Indonesia dari artikel "Meditations to Prepare for the Anniversaryof the First Vows of November 1, 1818" yang terbit di www.omiworld.org)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.