Panduan Refleksi Komunitas Perayaan 25 Thn Kanonisasi

Artikel - Saat Merenung

PERSIAPAN PERAYAAN 25 TAHUN KANONISASI ST. EUGENIUS DE MAZENOD

Dalam Surat Pengantar Perayaan 25 Tahun Kanonisasi Bapa Pendiri, Postulator Jenderal membagikan materi untuk perayaan komunitas/kelompok atas peristiwa luar biasa ini.  Booklet Doa Vigili dapat digunakan untuk perayaan bersama, di sekitar hari kanonisasi, yang dapat mengumpulkan para Oblat dan orang-orang/kelompok yang terkait dengan karisma dan spiritualitas Bapa Pendiri.

Postulator Jenderal juga berbicara tentang kemungkinan mengadakan sesi sharing iman terpisah untuk komunitas Oblat yang lebih kecil jumlahnya, seperti yang pernah kita lakukan di saat “Triennium” persiapan 200 tahun pendirian kita.

Kami lampirkan bersama ini Panduan yang berisi teks-teks menarik dan pertanyaan-pertanyaan yang dapat membantu komunitas untuk saling berbagi pengalaman iman tentang pengaruh St. Eugenius dalam hidup mereka.  Tentunya, selalu ada tempat untuk kreatifitas komunita-komunitas untuk mengatur pertemuan berbagi pengalaman iman ini sendiri.

 

Pastor Paolo Archiati, OMI

Vikaris Jenderal


Pesta Perak Kanonisasi

St.Eugenius de Mazenod

1995 – Desember 03 – 2020

Panduan untuk Refeksi Pribadi dan Permenungan Bersama

 

Kanonisasi Santo Eugenius diselenggarakan pada 3 December 1995. Tahun ini genap 25 tahun. Kita merayakannya bukan hanya karena peristiwa itu menandai sejarah Kongregasi dan umat Keuskupan Agung Marseilles, namun terlebih sebagai kesempatan untuk merenungkan relasi kita dengan Bapa Pendiri, Santo Eugenius, dan bagaimana kita menyebarkan warisan kesucian dan semangat misi-nya. Kami menyajikan tiga panduan untuk refleksi pribadi dan permenungan bersama. Panduan pertama lebih jelas dan terstruktur, sementara yang kedua dan ketiga dapat dikembangkan sendiri seturut kebutuhan setempat.

Panduan Pertama

Pada saat kanonisasi, Pastor Marcello Zago, Superior Jenderal pada waktu itu, menyerukan Tahun Mazenod dan menulis surat ke seluruh Kongregasi sebagai “sarana berbagi, ber-evaluasi, dan ber-discernement” baik pribadi maupun sebagai permenungan bersama. (Membaharui diri dalam Karisma Eugenius de Mazenod, 1995). Surat itu masih bisa dibaca untuk refleksi dan sharing kita.  Melalui surat tersebut, beliau mengundang kita untuk mengarahkan pandangan kita kepada Bapa Pendiri, dan melihatnya sebagai:

Santo untuk diteladan

Pastor Zago mengacu terutama pada keteguhan dan tekat bulat Bapa Pendiri dalam mengejar kesucian, yang terungkap dalam:

1.  Hubungan dengan Kristus:  sebuah relasi yang nyata, pribadi, dan selalu segar;

2.  Mencari kehendak Bapa:  membiarkan diri dibimbing oleh Roh;

3.  Perhatian kepada sesama,  peka terhadap kebutuhan mereka, siap untuk membantu. Keselamatan jiwa menjiwai semangat misionarisnya dan menjadi alasan utama untuk kerasulannya;

4.  Pengabdian tanpa syarat kepada Gereja;

5.  Pandangan luas dan keterbukaan hati akan kemanusiaan;

6.  Kemampuan untuk menegaskan pandangan dan mengubahnya kendati beresiko baginya;

7.  Setia membaca Kitab Suci, sesuatu yang mempeengaruhi pandangan iman, doa, dan pemahamannya akan pewartaan Injil.

Apakah Santo Eugenius adalah model/teladan bagiku?

Tahukah kita akan jejak kekudusannya?

Jejak-jejak mana yang menginspirasi Anda?


Pendiri untuk diikuti

Pastor Zago mengusulkan butir-butir refleksi:

1. Untuk memahami karisma Lembaganya, ia harus mengenal sang Pendiri dan sejalan dengannya dalam gagasan dan karyanya.

2. Eugenius menaruh Yesus Kristus pada pusat karya kerasulannya. Itulah titik tolak baginya untuk mendirikan kongregasi yang bersandar pada tiga nilai utama: pewartaan Injil kepada orang miskin, hidup komunitas, dan pengudusan diri bagi anggota-anggotanya.

3. Prioritas kerasulannya adalah pewartaan Injil yang merupakan dari kepekaannya akan kebutuhan mendesak zaman itu dan menjadi sarana membantu sesama untuk lebih manusiawi, kristiani dan suci.

4. Komunitas dipandang pokok sejak awal, seturut pengalaman dan teladan dari para rasul.

5. Mengejar kesucian adalah tuntutan kerasulan, sebab pewartaan Injil menuntut para pewarta tampil terutama sebagai saksi Injil. Maka dari itu, penghayatan kaul dan matiraga adalah konsekuensi alamiah dari pilihan hidup membiara.

6. Ciri-ciri berikutnya dari Kongregasi kita adalah pilihan pada orang miskin dan terlantar, imamat, devosi pada Bunda Maria, cinta akan Gereja, peka akan kebutuhan mendesak, perutusan universal, dekat dengan umat, berani dalam merasul, persembahan hidup yang radikal, kasih persaudaraan, dan semangat berkobar untuk merasul, dan seterusnya.

7. Karisma Eugenius de Mazenod juga diambil dan dihidupi oleh tarekat-tarekat lain, institut sekuler, dan aneka asosiasi awam melalui aneka macam cara.

 

Pertanyaan untuk refleksi dan sharing:

Percayakah bahwa Allah menggerakkan Santo Eugenius untuk menyampaikan karisma misionaris kepada Gereja dan untuk mendirikan kelompok kerasulan?

Apakah aku merasa sebagai bagian dari kelompok kerasulan yang dijaga sesuai dengan semangat awal?

Dalam hal apakah aku merasa sejalan? Dalam apakah aku merasa perlu berkembang lagi?

 

Guru yang didengarkan

Eugenius tidak mewariskan pengajaran rohani. Sebagai orang praktis, ia membiarkan diri dibimbing oleh Roh Kudus seturut keadaan sekitar. Namun demikian, ia tidak lalai untuk memberikan dasar-dasar semangat Lembaga yang seringkali mengalir dari situasi nyata  masyarakat saat itu.

 

Pastor Zago menyodorkan beberapa teks fundamental untuk memahami semangat Eugenius dan sekaligus sebagai penyegaran karisma bagi kita:

1.  Prefasi Konstitusi dan Aturan kita, sebuah Magna Carta yang mengilhami karisma Oblat. Prefasi ini bukan hanya sebagai cikal bakal dari sejarah karisma kita, namun juga cara bagaimana Eugenius membahasakan kenyataan dalam butir-butir karisma.

2.  Radikalitas panggilan Oblat digambarkan secara gambling dalam teks Aturan Hidup tahun 1853: “Siapapun yang ingin bergabung dengan kita harus berkobar-kobar dalam mengejar kesempurnaan dirinya sendiri, harus dinyalakan oleh kasih akan Tuhan Yesus dan Gereja-Nya dan bertekat bulat demi keselamatan jiwa-jiwa. Ia harus membebaskan dirinya dari segala ketidakteraturan duniawi dan dari kelekatan tak wajar akan orangtua atau tanah kelahirannya. Ia harus memadamkan segala keinginan akan keuntungan dan memandang kekayaan bagaikan sampah, tanpa mengharapkan apapun kecuali Yesus Kristus. Ia harus memupuk kerinduan untuk membaktikan diri seutuhnya demi pelayanan kepada Allah dan Gereja-Nya baik dalam misi maupun dalam pelayanan lain demi Kongregasi.  Akhirnya, ia harus memiliki kemantaapan sampai mati dalam kesetiaan dan ketaaatan pada Aturan Hidup Lembaga”.

3. Kasih di antara kita dan semangat merasul amat ditekankan oleh Eugenius. Ia menulisnya tahun 1830: “Kasih adalah simpul seluruh keberadaan kita. Kasih kita kepada Allah memungkinkan kita menolak dunia agar mampu berbakti bagi kemuliaan Allah dengan mengorbankan segalanya termasuk nyawa kita sendiri (….) Kasih kepada sesama juga merupakan bagian penting dalam semangat kita. Hayatilah pertama-tama kasih di antara kita, kasih satu sama lain sebagai saudara, seraya memandang Tarekat kita sebagai keluarga yang paling utuh di muka bumi ini. Maka, bersukacitalah atas  segala kebaikan, talenta, dan aneka mutu hidup yang ada pada saudara seperti milik kita sendiri. Pikullah dengan kelembutan hati segala kekurangan sesama dan tutupilah dengan mantol cintakasih yang sempurna. Akhirnya, kita menganggap diri sebagai pelayanan Bapa keluarga yang dipercayai untuk membantu pulang kembali anak-anaknya melalui komintment kita yang membara…”

4.  Semangat oblatio tertulis dalam surat Eugenius tahun 1817. Ia menulisnya dari Paris untuk komunitas di Aix: “Kita hidup di bumi, tepatnya di rumah kita, untuk menguduskan diri kita dengan membantu satu sama lain lewat teladan, kata, dan doa. Tuhan mempercayakan kepada kita tugas perutusan untuk melangsungkan penebusanNya, satu-satunya tujuan yang harus kita perjuangkan sekuat tenaga dengan memberikan seluruh hidup kita, segala-galanya kita upayakan sampai titik keringat dan darah penghabisan. Bakti total bagi kemuliaan Allah, pelayanan demi Gereja, dan keselamatan jiwa-jiwa adalah pilar pokok Kongregasi. Itu semua kita lakukan meski dalam hal sekecil apapun asalkan semua dengan niat suci. Hendaknya para novis memiliki semua itu, merenungkan dan memperdalam selalu. Setiap Kongregasi dalam Gereja memiliki spiritualitasnya masing-masing. Tuhan menunjukkannya melalui situasi dan kebutuhan di masa tertentu. Ia berkenan mengumpulkan pasukan-Nya dalam satu kelompok untuk pergi dengan gagah berani untuk meraih kemenangan yang gilang gemilang.

5.  Teks terakhir yang disajikan ditulis tahun 1822, saat-saat kritis dalam Kongregasi. Teks ini berbicara tentang kaitan antara devosi Maria dan kerasulan Bapa Pendiri dan Kongregasi dengan buah-buahnya dalam kelompok kita: “Saudaraku terkasih dan teristimewa, acara sudah selesai. Rumah terasa sunyi sepi hanya terdengar sayup-sayup bel Gereja yang menandai berakhirnya perarakan hari ini.  Rasa gembira dan syukur pada Bunda yang baik yang patungnya ditahtakan ditempat yang istimewa di gereja kita. Yang lain di luar sana melakukan prosesi yang kurang menarik hatiku, malah sebaiknya menuntut banyak. Inilah waktu istimewa bagi kita untuk bersatu dalam hati. Aku ingin membagikan sukacitaku yang mendalam di hari istimewa Bunda, Ratu kita. Sudah lama sekali aku tidak merasakan sukacita yang sedemikian besar saat berbicara tentang keagungannya, saat menganjurkan umat untuk mempercayakan segalanya kepadanya. Ini terjadi di pagi hari tadi, saat saya memberikan pengajaran untuk anak-anak muda (dari Perkumpulan anak muda Aix) (…) aku merasakan sesuatu yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Aku tidak mampu mengungkapkannya secara persis, karena semua tercampur, namun jelas mengarah pada satu hal: Lembaga tercinta kita. Seolah-olah aku melihat dan menyentuhnya dengan tanganku sendiri bahwa Lembaga kita penuh dengan keutamaan yang membuahkan banyak kebaikan. Aku menemukan lembaga kita baik, semuanya menyukakan hati: aku suka Aturan Hidupnya, Statutanya, pelayanannya yang benar-benar mulia. Aku menemukan di dalamnya sarana-sarana yang tepat untuk keselamatan, tak ada yang salah menurut padanganku. Hanya satu saja yang memberi kepedian dan hampir memudarkan sukacita adalah: diriku sendiri.

6.  Konstitusi dan Aturan memancarkan karisma Eugenius de Mazeod dengan bahasa yang cocok dengan zamannya. Berkaitan dengan ini, Bapa Pendiri menulis surat kepada Para Oblat, setelah perubahan dan pengesahan terakhir dari Paus, pada 2 Agustus 1853:  “Anak-anakku, aku ingin meringkas wejanganku dalam satu nasehat:  bacalah dan renungkanlah Aturan Suci kita. Rahasia kesempurnaan ada di sana. Segala yang mengarahkanmu pada Tuhan ada di sana (…) Bacalah, renungkanlah, laksanakanlah Aturan Hidup kita dan kalian akan menjadi orang suci yang sejati. Bangunlah Gereja, hargailah panggilanmu dan raihlah rahmat pertobatan jiwa-jiwa yang kalian kotbahi serta juga berkat bagi Kongregasi, ibu dan bagi kalian sesaudara. Bacalah, renungkanlah, hayatilah dengan setia Aturan Hidup kita, dan berpulanglah dalam damai Tuhan, seraya percaya akan upah yang dijanjikan Allah bagi yang setia melaksanakan tugasnya sampai akhir.

Perayaan kanonisasi ini dapat menjadi kesempatan untuk membaca kembali tulisan-tulisannya, bisa dimulai dari Teks-teks Pilihan (1983).

Ini juga saatnya untuk mengambil Konstitusi dan Aturan, merenungkannya, dan berdoa dengannya.

 

Bapak untuk dikasihi

Para Pendiri Kongregasi umumnya memandang diri sebagai bapa atau ibu bagi lembaga yang didirikannya. Perasan yang sama juga kentara dalam diri Eugenius de Mazenod. Ini menjadi ciri dari karisma kita – Kasih persaudaraan.

1. Eugenius sadar akan hal ini. Ia menulisnya dalam catatan retret 1824: “Akan anak-anakku, aku dapat mengandaikan diri seperti ibu dari anak-anak Makabe, yang telah menerima untuk hidup mereka air susu dari dadaku”. Beberapa tahun kemudian ia menulis: “Aku seperti bapak, ya seorang bapak!”. Dalam surat-menyuratnya pada tahun 1850an ungkapan itu sering kali muncul.

2. Sikap Kebapakan ini muncul dari karisma Pendiri: “Allah mentakdirkanku menjadi bapak untuk sebuah keluarga besar dalam Gereja”.  Keyakinan ini memunculkan kasih yang besar terhadap para Oblatnya: “Aku mengasihi kalian anak-anakku lebih dari semua yang mengasihi kalian… Semua ini karena tempat khusus yang telah Tuhan tentukan bagiku dalam Gereja-Nya”.

3. Relasi kebapakan ini tidak berhenti pada kematiannya. Kanonisasi menegaskan kita bahwa Santo Eugenius ambil bagian dalam kemuliaan para kudus dan karena itulah ia ada dalam kesatuan dengan kita. Pada tahun 1828, setelah kematian beberapa Oblat, Eugenius menulis ke Pastor Courtes:  “Kita dipersatukan dengan mereka dengan ikatan kasih yang istimewa, sebab mereka masih saudara kita. mereka hidup di rumah induk kita, pusat kita: doa dan kasih mereka yang selalu tercurah suatu saat nanti akan menarik kita bersatu dengan mereka masuk ke tempat peristirahatan kita”.

Sadarkah bahwa Bapa Pendiri selalu hadir sebab ia bersatu dengan Allah?

Ia mengharapkan bukan hanya kasih persaudaraan namun juga kasih sebagai anak-anaknya.

Hanya dalam relasi kasih kita akan mampu memahami kerinduan hatinya, dan mampu menyelaraskan diri dengan semangatnya. Sharingkanlah sikap macam apa yang kita ambil untuk menghidupi karismanya dalam Gereja masa kini.


Pengantara untuk memohon

Dalam kasih kebapakannya dan dalam martabatnya sebagai seorang kudus, Santo Eugenius de Mazenod menjadi pengantara kita kepada Allah.

1. Di surga ia menjadi pengantara kita sama seperti dulu saat ia duduk di depan Sakramen Mahakudus.  Ia menulis surat kepada Pastor Lacombe: “Kamu tak dapat membayangkan betapa aku kawatir di hadapan Allah, di hadapan para misionaris Sungai Merah yang kukasihi. Aku hanya punya satu cara untuk menjadi dekat dengan kalian. Di hadapan Yesus yang yang hadir dalam Sakramen Mahakudus, aku seolah melihat dan menyentuh kalian. Seringkali terasa bahwa kalian juga ada dalam kehadiranNya. Berpikirlah bahwa segala penderitaan dan jerih lelah kalian juga menjadi bahan pembicaraan dan kekagumanku di hadapan-Nya?

2. Kita berdoa dengannya dan bukan hanya datang kepadanya sebagai pengantara.

  • Seperti apakah relasiku dengan Santo Eugenius?
  • Bagaimana relasi itu nyata dalam hidupku sekarang ini?



Panduan Kedua

Kerangka kedua untuk refleksi dan sharing dapat memakai surat dari Pastor Fernand Jette, Superior Jenderal, tertanggal 06 Juni 1975, pada waktu beatifikasi Bapa Pendiri (Surat-surat kepada Oblat Maria Imakulata, Roma 1984, Hal. 19-24).

Dalam surat tersebut, Pastor Jette menulis: Beatifikasi adalah “rahmat yang mengusik kesetiaan kita: kesetiaan pada karya misi kita terhadap kaum miskin, dan kesetiaan pada kualitas yang diinginkan oleh Bapa Pendiri”.  Pastor Jette menutup suratnya dengan menulis: “Dalam nama Tuhan, jadilah kuat – kuat dalam beriman, kuat dalam kasih, dan kuat dalam ketaatan pada misi yang diterima!  Bersiaplah untuk bertahan, untuk maju dengan kasih bagi kaum miskin dan kesetiaan pada Yesus Kristus dalam kaum miskin!  Semoga beatifikasi Mgr. de Mazenod menjadi kesempatan bagi kita untuk pembaruan diri yang sejati!”

Kita dapat merenungkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh Pastor Jette kepada para Oblat dalam kesempatan itu, untuk merefleksikan rahmat dan warisan dari kanonisasi:

  • Dalam dunia sekarang ini, masih adakah misionaris bagi kaum miskin seperti yang dikehendaki oleh Pastor de Mazenod?
  • Apakah kita memilih kaum miskin dengan opsi pilihan yang sama, semangat menyala-nyala yang sama, keberanian yang sama, semangat solidaritas yang sama, cinta akan Gereja yang sama?
  • Apakah kita masih memiliki keterikatan mendalam pada Yesus Kristus yang sama, semangat penyangkalan diri yang sama, kehausan batin akan kekudusan yang sama, keyakinan bahwa kualitas diri kita sama pentingnya bagi banyak orang sama seperti kekuatan tindakan kita?

 

Panduan Ketiga

Panduan Ketiga untuk refleksi dan sharing dapat diambil dari kata-kata Paus Yohanes Paulus II kepada para hadirin yang hadir ke Roma untuk kanonisasi.  Mereka ber-audiensi dengan Bapa Suci di Ruang Paulus VI pada 04 Desember 1995, sehari setelah kanonisasi. (Information OMI, No. 341, Januari 1996).

– Setelah beatifikasi, “Kalian telah bekerja begitu serius untuk mengenal Kristus secara pribadi dan untuk membuat-Nya dikenal oleh yang lainnya.  Engkau terus mengikuti jejak langkahNya, berjuang untuk menjadi orang-orang kudus, berjalan dengan berani di jalan yang sama dengan jalan yang ditempuh oleh para pewarta Injil.”

– Berbicara kepada kaum awam yang “bekerja di karya-karya  kerasulan yang dikembangkan oleh para Oblat…. Saya tahu dengan semangat murah hati banyak dari kalian yang secara aktif mendukung karya misi para Oblat…”

– Kerasulan (dari Santo Eugenius de Mazenod) adalah untuk mengubah dunia dengan kekuatan Injil Kristus..

– “Apakah kalian tahu bahwa anak-anak muda adalah misionaris terbaik untuk anak-anak muda yang lainnya.  Untuk itulah Kristus mempercayakan engkau dengan misi menyebarkan Kabar Baik kebangkitanNya, khususnya lewat gerakan-gerakan yang mengikuti semangat St. Eugenius”.

– “Saya berharap kalian kembali ke negara anda mantap dan penuh iman untuk Gereja masa depan, Gereja yang satu, katolik, dan apostolik”.

Tiap pernyataan di atas mengusik kita:

  • akan misi kita;
  • akan relasi kita dengan Kristus, dengan awam, dan dengan orang muda, dan
  • akan rasa kita akan Gereja.

 

(Diterjemahkan secara bebas oleh Tim Website OMI Indonesia dari artikel "In Preparation for the 25th Anniversary of the Canonization of the Founder" yang terbit di www.omiworld.org)

Eugenius de Mazenod

Kemampuannya dalam pewartaan injil dan bakat kepemimpinannya dalam mengarahkan berbagai Misi merupakan tanda-tanda lahir hidup batin yang menjadikan Eugene de Mazenod sebagai penjala manusia.

Readmore

Copyright © 2010. Oblat Maria Imakulata. Website Design by Yopdesign.